Tet Nguyen Dan (Tahun Baru Imlek) telah lama menjadi perayaan sakral, yang sangat melekat dalam kehidupan spiritual dan budaya masyarakat Vietnam.
Namun, di desa-desa dataran tinggi, Dataran Tinggi Tengah, atau dataran rendah, Tet tidak hanya dikaitkan dengan gambaran familiar seperti banh chung, banh tet, acar bawang, atau daging babi berlemak, yang umum dalam budaya Kinh.
Bagi kelompok etnis minoritas, setiap perayaan Tahun Baru berisi hidangan dengan karakteristik yang berbeda, yang mencerminkan jejak sejarah, fitur geografis, kepercayaan, dan gaya hidup unik dari setiap komunitas.
Menjelajahi hidangan Tet yang unik ini tidak hanya memberikan kesempatan untuk mengakses kekayaan kuliner yang khas, tetapi juga membuka perspektif yang lebih dalam tentang keragaman budaya dan keindahan beraneka ragam dari Vietnam yang multietnis dan multicita rasa.
1. Daging asap - cita rasa Tet (Tahun Baru Imlek) dari masyarakat Thailand dan Hmong di pegunungan yang luas.
Daging asap, hidangan yang berakar kuat dalam tradisi Tet (Tahun Baru Imlek) masyarakat Thai, Hmong, dan kelompok etnis lainnya di dataran tinggi Barat Laut, merupakan simbol budaya yang khas di tengah hutan pegunungan yang luas.
Jika kue ketan (bánh chưng) dianggap sebagai jiwa dari Tet (Tahun Baru Imlek) bagi masyarakat Kinh, maka daging asap merupakan bagian tak terpisahkan dari pesta Tahun Baru bagi masyarakat di sini. Keunikan hidangan ini terletak pada metode persiapannya yang tradisional: daging kerbau, sapi, atau babi direndam dengan garam, mắc khén (sejenis rempah), dan hạt dổi (sejenis biji-bijian) lalu digantung di loteng dapur selama berbulan-bulan.
Seiring waktu, setiap potongan daging akan menjadi lebih gelap, lebih padat, dan mengeluarkan aroma asap yang kaya dari tungku kayu bakar – cita rasa khas yang hanya ditemukan di daerah pegunungan.
Selama Tahun Baru Imlek, masyarakat Thailand sering mengeluarkan daging asap, memanggangnya sebentar di atas api arang untuk meningkatkan aromanya, lalu mengirisnya tipis-tipis untuk disajikan kepada tamu. Para pengunjung akan merasakan cita rasa pedas khas mắc khén (sejenis rempah), sedikit rasa manis berasap, dan aroma kaya dari daging yang telah "dimatangkan" seiring waktu.
Daging asap bukan hanya hidangan tradisional tetapi juga menyimpan kenangan mendalam bagi masyarakat: kenangan akan musim dingin yang dingin, momen berkumpul di sekitar perapian, atau kebiasaan pengawetan makanan masyarakat di daerah pegunungan yang terjal.
2. Hidangan unik suku Hmong - daging beku alami dan kue beras khas festival.
Menjelang Tết, daerah dataran tinggi seperti Ha Giang dan Lao Cai memasuki periode terdingin dalam setahun. Pada saat inilah masyarakat Hmong menyiapkan daging asap yang dibekukan secara alami – sebuah metode pengawetan makanan yang sangat istimewa.
Setelah disembelih, babi digantung di beranda atau atap, di mana suhunya hanya sekitar 0 derajat Celcius. Dingin alami menyebabkan lapisan lemak terluar membeku, membentuk lapisan es tipis seperti perisai.
Selama Tết (Tahun Baru Vietnam), daging diolah menjadi sup atau masakan rebus, menghasilkan rasa manis dan lembut yang sangat berbeda dari daging yang dibekukan di lemari pendingin industri.
Selain hidangan daging, kue ketan juga merupakan bagian tak terpisahkan dari perayaan Tahun Baru Hmong. Kue-kue ini terbuat dari beras ketan yang digiling halus, dengan warna putih yang lembut, melambangkan Bulan dan Matahari – dua simbol suci yang mewakili sumber kehidupan dan panen yang melimpah.
Selama Tahun Baru Imlek, masyarakat Hmong membuat kue beras ketan untuk dipersembahkan kepada leluhur mereka, berdoa agar cuaca baik dan panen melimpah. Gambaran orang-orang berkumpul di sekitar lesung untuk menumbuk beras, dengan suara alu yang bergema di seluruh pegunungan dan hutan, telah menjadi ciri khas yang tak tergantikan, menghadirkan suasana Tahun Baru khas dataran tinggi.

3. Kue tepung beras dan mi beras kering - hidangan manis dan gurih untuk kelompok etnis Cao Lan, Tay, dan Nung selama perayaan Tet.
Perayaan Tahun Baru Imlek dari kelompok etnis Cao Lan, Tay, dan Nung ditandai dengan hidangan yang berakar kuat dalam budaya dan tradisi mereka, terutama banh khao (kue tepung beras) dan mi pho kering.
Bánh khảo adalah makanan istimewa yang terbuat dari tepung beras ketan yang ditekan ke dalam cetakan, sehingga menghasilkan tekstur yang renyah dan aroma manis yang lembut.
Aspek menarik dari pembuatan banh khao terletak pada ketelitian dan kecanggihannya: beras ketan harus dikeringkan dalam embun selama tiga malam agar menyerap udara, kemudian dipanggang hingga berwarna cokelat keemasan dan digiling halus. Bubuk yang dihasilkan kemudian dicampur dengan bahan-bahan seperti gula, kacang tanah, dan biji wijen, ditekan menjadi bentuk persegi atau persegi panjang, dan dibungkus dengan kertas berwarna cerah.
Saat dimakan, kue ini langsung meleleh di mulut, meninggalkan rasa yang lembut dan ringan yang sangat berbeda dari rasa kenyal dan kaya banh chung tradisional.
Selain bánh khảo (sejenis kue beras), masyarakat Tay dan Nung juga memperkenalkan mi pho kering selama Tet (Tahun Baru Imlek) untuk menjamu tamu. Berbeda dengan mi pho kering Gia Lai , mi pho kering dari wilayah pegunungan utara dibuat dari mi pho segar yang kemudian dikeringkan menjadi lembaran keras. Saat menggunakannya, cukup celupkan ke dalam air untuk melunakkannya, lalu masak seperti biasa.
Hidangan ini sering muncul dalam hidangan Tahun Baru tradisional, melambangkan reuni keluarga dan mewakili kelimpahan serta harapan untuk Tahun Baru yang makmur: "makanlah sampai kenyang."

4. Masyarakat Cham dan festival Ramadan - hidangan yang terkait dengan kepercayaan Islam.
Bagi komunitas Cham yang menganut agama Baha'i, Tahun Baru ditandai dengan festival Ramuwan, yang menampilkan hidangan-hidangan yang sangat unik dan berbeda dari hidangan-hidangan kelompok etnis lainnya.
Berdasarkan aturan hukum Islam, masyarakat Cham berpantang makan daging babi, sehingga hidangan Tet mereka sebagian besar terdiri dari masakan seperti kari kambing atau ayam, yang dimasak dengan santan, kunyit, dan rempah-rempah aromatik. Hidangan khas lainnya adalah "com ni" - nasi berwarna keemasan dengan rasa mentega yang ringan dan warna cerah dari kunyit. Hidangan ini disajikan bersama kue sakaya, kue manis yang lembut dan halus yang terbuat dari telur, gula, dan santan.
Masakan Cham, meskipun agak rumit, jelas mencerminkan filosofi hidup komunitas tersebut: fokus pada kemurnian, kesederhanaan, dan keanggunan yang bersahaja, menekankan keseimbangan antara aspek materi dan spiritual.
Inilah yang memberikan Ramuwan Tet karakter uniknya – sebuah festival yang berakar kuat dalam budaya Ninh Thuan, tanah yang dipenuhi sinar matahari dan angin, tempat esensi budaya gurun bertemu.

5. Festival Beras Baru - anggur beras, sup rebus, dan hidangan "yang tumbuh bersama hutan"
Suku Ede, bersama dengan kelompok etnis lain di Dataran Tinggi Tengah seperti Ba Na dan Gia Rai, memiliki warisan budaya yang beragam dan kaya, yang tercermin jelas dalam festival-festival unik mereka. Bagi mereka, Tahun Baru Imlek bukanlah hari raya yang paling penting.
Sebaliknya, Festival Padi Baru – yang menandai berakhirnya musim panen dan mengungkapkan rasa syukur kepada dewa padi – adalah acara yang paling bermakna. Namun, ketika Tahun Baru tiba, masyarakat Ede tetap menyiapkan pesta unik sebagai cara untuk berbagi kegembiraan dengan alam dan komunitas.
Di antara hidangan andalan, yang paling menonjol adalah "canh thut," hidangan tradisional unik yang menampilkan kreativitas masyarakat setempat. Dimasak langsung di dalam tabung bambu, "canh thut" menawarkan cita rasa pegunungan otentik yang tak terlupakan.
Bahan-bahan utamanya meliputi ayam, daun talas, dan rebung segar pilihan dari hutan. Semua bahan dimasukkan ke dalam tabung bambu dan kemudian melalui proses "pengolahan batang" khusus – teknik yang membantu bahan-bahan tersebut tercampur, menciptakan tekstur yang lembut dan creamy serta harmoni rasa yang sempurna. Saat tabung dibuka, uap akan naik bersama aroma halus bambu yang terbakar dan rebung panggang, menciptakan pengalaman kuliner yang tak tertandingi.
Perayaan Tahun Baru masyarakat Ede menjadi lebih meriah dan bermakna dengan adanya guci anggur beras yang diletakkan di tengah, tempat semua orang berkumpul untuk minum bersama di rumah panjang khas mereka. Anggur beras bukan hanya minuman, tetapi juga simbol persatuan dan ikatan erat antar anggota komunitas.
Selain itu, hidangan dari pegunungan dan hutan, seperti daging bakar dalam tabung bambu, ikan sungai kukus yang dibungkus daun, atau nasi ketan dari sawah, juga turut menyoroti keindahan harmonis antara manusia dan alam. Setiap hidangan, setiap cita rasa, merupakan pengingat akan saling ketergantungan dan kombinasi harmonis antara kehidupan manusia dan bentang alam pegunungan dan hutan yang luas di Dataran Tinggi Tengah.
Dengan adat istiadatnya yang unik dan budaya kuliner yang khas, festival ini tidak hanya memiliki makna keagamaan tetapi juga berfungsi sebagai ajang berkumpul yang mendekatkan orang-orang, sekaligus mengekspresikan penghormatan terhadap alam – sumber yang telah melindungi dan memelihara mereka selama beberapa generasi.

6. Tahun Baru Khmer - perpaduan harmonis antara rasa manis dan asam dalam hidangan Chol Chnam Thmay.
Tahun Baru Khmer, Chol Chnam Thmay, adalah salah satu acara budaya menarik yang berlangsung setiap bulan April.
Ini bukan sekadar festival tradisional, tetapi juga waktu bagi masyarakat Khmer untuk mengekspresikan nilai-nilai spiritual yang mendalam melalui perjamuan keluarga, yang ditandai dengan perpaduan halus antara beragam masakan India dan gaya khas Vietnam Selatan.
Salah satu hidangan istimewa di meja makan saat perayaan Tet (Tahun Baru Imlek) adalah sup mie Khmer. Hidangan ini dibuat secara unik menggunakan pro-hok – pasta ikan fermentasi tradisional dengan cita rasa yang kaya – dipadukan dengan sayuran liar hijau segar, bunga pisang, dan irisan tipis bunga pisang, sehingga menciptakan rasa yang unik dan khas.
Selain sup mie Khmer, masyarakat Khmer juga menyiapkan banyak hidangan lain yang membuat perayaan Tahun Baru semakin menarik. Contoh khasnya termasuk pangsit tapioka goreng dengan rasa asam manis yang harmonis, atau Tung Lo Mo – sosis sapi spesial yang dibumbui dengan rempah-rempah pedas yang menggugah selera.
Selain itu, nasi dalam tabung bambu dan num-nom som – kue beras yang dibungkus daun pisang dan diisi pisang – juga hadir sebagai pilihan tradisional yang tak tergantikan untuk hari penting ini.
Semua hidangan yang disajikan dalam pesta Tahun Baru Khmer tidak hanya menawarkan pengalaman kuliner yang kaya, tetapi juga dengan terampil melukiskan gambaran unik dan penuh warna dari festival Chol Chnam Thmay di wilayah barat daya Vietnam. Kombinasi harmonis antara kesederhanaan dan keakraban bahan-bahan lokal dengan kreativitas para koki terampil telah menciptakan budaya kuliner yang luar biasa dan tak terlupakan bagi setiap pengunjung yang berkesempatan mengunjungi tempat ini.

7. Nilai-nilai budaya yang tersembunyi di balik hidangan Tet yang unik dan tidak biasa.
Nilai-nilai budaya dan makna mendalam yang tersembunyi di dalam hidangan Tet yang unik ini tidak hanya membuatnya menarik tetapi juga mencerminkan sebagian dari esensi budaya kelompok etnis minoritas di Vietnam.
Meskipun bahan-bahannya mungkin bervariasi dan metode memasaknya berbeda dari satu daerah ke daerah lain, hidangan-hidangan Tet ini tetap memiliki kesamaan yang menarik dan bermakna yang layak untuk dieksplorasi.
Menunjukkan keselarasan dengan lingkungan tempat tinggal.
Setiap hidangan dari kelompok etnis minoritas merupakan puncak dari adaptasi dan harmoni dengan alam, yang mencerminkan hubungan erat antara manusia dan lingkungan sekitarnya. Misalnya, masyarakat di dataran tinggi sering menggunakan daging asap untuk mengawetkannya dalam jangka waktu lama di tengah kondisi cuaca yang keras; keluarga di Dataran Tinggi Tengah dengan terampil memanfaatkan bambu untuk membuat hidangan yang dimasak dalam tabung bambu, menjaga cita rasa khas sambil beradaptasi dengan bahan-bahan lokal. Di Vietnam Selatan, penggunaan rempah-rempah fermentasi secara kreatif tidak hanya meningkatkan cita rasa yang unik tetapi juga mengatasi tantangan iklim yang panas dan lembap. Semua ini menunjukkan kemampuan adaptasi yang cerdik dan kecerdasan yang unggul dari masyarakat di setiap wilayah.
Simbol ritual dan spiritualitas
Hidangan yang disajikan selama Tet (Tahun Baru Imlek) bukan sekadar makanan biasa untuk dinikmati; hidangan tersebut seringkali memiliki nilai simbolis yang mendalam, menghubungkan orang-orang dengan unsur spiritual dan keagamaan.
Sebagai contoh, kue beras ketan suku Hmong melambangkan persatuan, rasa syukur kepada langit dan bumi, serta leluhur; anggur beras suku Ede merupakan bagian tak terpisahkan dari festival atau ritual komunitas untuk memohon panen yang melimpah; dan kari suku Cham adalah inti dari upacara pengorbanan suci.
Hidangan-hidangan ini tidak hanya menghidupkan kembali tradisi tetapi juga menyampaikan pesan penghormatan dan kepercayaan pada perlindungan spiritual, yang tertanam kuat di hati setiap komunitas.
Sebuah harta karun tak ternilai dari warisan kuliner Vietnam.
Kuliner selalu memainkan peran penting dalam warisan budaya, dan hidangan Tet yang unik dari kelompok etnis minoritas merupakan permata berharga yang berkontribusi pada kekayaan dan keberagaman kuliner Vietnam yang penuh warna dan berjiwa, sebuah kuliner yang terkenal akan kekayaan dan keragamannya.
Dalam konteks modernisasi yang pesat, nilai-nilai tradisional ini menghadapi risiko kepunahan. Melestarikan dan mempromosikan masakan tradisional tidak hanya membantu mempertahankan identitas budaya yang khas, tetapi juga menambah daya tarik wisata dan mendorong pembangunan ekonomi lokal.
Selain itu, ini juga merupakan cara untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan masyarakat Vietnam kepada teman-teman internasional melalui eksplorasi kuliner.
Oleh karena itu, setiap hidangan Tet yang unik dari kelompok etnis minoritas bukan hanya bagian dari santapan Hari Tahun Baru, tetapi juga kristalisasi nilai-nilai budaya, benang merah yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan, menjadikannya aset yang tak ternilai bagi setiap orang Vietnam.
Sumber: https://www.vietnamplus.vn/kham-pha-nhung-mon-an-tet-doc-dao-cua-cac-dan-toc-thieu-so-post1089110.vnp







Komentar (0)