Keputusan Pemerintah Nomor 282/2025, yang menetapkan sanksi untuk kegiatan karaoke yang berisik di kawasan permukiman dan tempat umum, tanpa memandang waktu siang atau malam, sedang diterapkan secara ketat. Hal ini sebagian menyelesaikan masalah yang telah lama ada di daerah perkotaan: mengembalikan kedamaian dan ketenangan sebagai hak hidup yang sah.
Di sana, ketenangan dipandang sebagai standar minimum kehidupan perkotaan yang beradab.
Bernyanyi karaoke bukanlah kejahatan. Kesenangan bersama, hiburan, dan hubungan antarmanusia selalu diperlukan. Tetapi ketika kesenangan itu melampaui batas toleransi orang lain, mengubah ruang bersama menjadi "panggung pribadi," itu bukan lagi hobi atau kebebasan pribadi, melainkan sebuah pemaksaan.
Realita selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa banyak penduduk kota telah pasrah hidup dengan karaoke – "pengeras suara portabel" – sebagai pilihan. Pasrah yang berkepanjangan ini tidak hanya mengikis kesejahteraan spiritual mereka tetapi juga mendistorsi konsep ruang bersama di daerah perkotaan. Pasrah ini terkadang menyebabkan reaksi ekstrem. Telah terjadi pertengkaran, perkelahian, dan bahkan pembunuhan yang bermula dari kebisingan pengeras suara portabel ini. Harga yang harus dibayar terlalu tinggi untuk apa yang dulunya merupakan hiburan yang sepenuhnya normal.
Oleh karena itu, pengetatan sanksi ini tidak hanya bertujuan untuk mengurangi kebisingan, tetapi yang lebih penting, ini adalah "deklarasi" yang jelas tentang batasan antara hak untuk menikmati diri sendiri dan kewajiban untuk saling menghormati. Sebuah kota hanya benar-benar layak huni ketika kebahagiaan seseorang tidak dibangun dengan mengorbankan kelelahan dan frustrasi orang lain, dan ketika ketenangan dilindungi oleh hukum, bukan hanya oleh toleransi semata.
Hal yang patut diperhatikan dari penerapan Keputusan Pemerintah 282/2025 bukanlah hanya besarnya denda, tetapi juga keterlibatan yang menentukan dari lembaga penegak hukum. Segala sesuatunya mulai berjalan sesuai rencana, mencegah warga untuk melakukan negosiasi pasif dan dengan demikian menghindari eskalasi konflik kecil menjadi bentrokan besar.
Tentu saja, karaoke akan tetap ada, tetapi akan lebih menghormati dan memberi ruang bagi privasi dalam kehidupan bermasyarakat. Perubahan ini jelas diperlukan untuk membantu membangun kembali batasan: batasan antara individu dan komunitas, antara apa yang "saya sukai" dan apa yang "orang lain toleransi," antara kebebasan dan tanggung jawab.
Di daerah perkotaan, setelah tekanan kehidupan sehari-hari, momen tenang di penghujung hari atau di akhir pekan adalah kesempatan bagi warga untuk beristirahat dan mengisi kembali energi mereka... Oleh karena itu, memperketat peraturan tentang nyanyian karaoke yang berisik di tempat umum adalah pilihan masyarakat untuk melindungi keseimbangan antara individu dan komunitas, antara emosi pribadi dan ruang bersama.
Sekadar sore yang tenang, malam akhir pekan yang tidak terganggu oleh suara bising pengeras suara portabel, sudah cukup untuk membuat kota ini menghela napas lega dan merasa lebih nyaman. Terkadang, hanya itu yang dibutuhkan agar sebuah kota menjadi indah dan layak huni.
UKIRAN
Sumber: https://www.sggp.org.vn/khi-do-thi-bot-tieng-loa-keo-keo-post831876.html







Komentar (0)