
Apakah waktu benar-benar berlalu, ataukah itu hanya ilusi?
Konsep ruang-waktu berasal dari teori relativitas Albert Einstein pada awal abad ke-20, di mana ruang tiga dimensi dan waktu satu dimensi digabungkan menjadi satu struktur empat dimensi.
Sejak saat itu, alam semesta tidak lagi dipandang sebagai "panggung statis" tempat peristiwa berlangsung seiring berjalannya waktu, tetapi waktu itu sendiri juga merupakan bagian dari panggung tersebut, yang mampu membengkok, mengembang, atau menyusut di bawah pengaruh massa dan energi.
Perspektif ini telah secara fundamental mengubah pemikiran ilmiah : hal ini memungkinkan kita untuk memahami mengapa cahaya dibelokkan saat melewati sebuah galaksi, atau mengapa jam pada satelit berjalan lebih cepat daripada jam di Bumi.
Namun, di balik kesuksesan itu terselip pertanyaan filosofis yang mendalam: Apakah ruang-waktu benar-benar entitas yang ada, atau hanya model matematika untuk membantu kita memvisualisasikan dan menggambarkan fenomena kosmik?
Dengan kata lain, apakah kita hidup dalam "jaringan ruang-waktu" yang nyata, ataukah kita hanya menggunakannya sebagai metafora untuk menyederhanakan pemahaman kita tentang realitas?
Gambaran tentang ruang dan waktu
Dalam fisika modern, ruang-waktu sering dibayangkan dalam dua cara. Beberapa ilmuwan memandangnya sebagai "alam semesta blok," peta empat dimensi yang mencatat semua peristiwa yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi, yang ada secara abadi dan tidak berubah. Sebaliknya, yang lain melihatnya sebagai jalinan dinamis, yang membengkok dan berubah bentuk di bawah pengaruh gravitasi.
Hal ini mengarah pada masalah filosofis yang sulit: ketika kita mengatakan "ruang-waktu ada," bagaimana sebenarnya kita harus memahaminya? Apakah itu entitas yang benar-benar stabil, atau hanya kerangka kerja untuk menggambarkan semua peristiwa di alam semesta?
Banyak masalah berakar pada bahasa itu sendiri. Dalam filsafat fisika, khususnya sudut pandang eternalisme, "waktu" tidak mengalir. Setiap momen, yang mencakup masa lalu, masa kini, dan masa depan, ada secara bersamaan dalam kontinum ruang-waktu. Alam semesta tidak "menjadi" atau "berubah," tetapi hanya "ada."
Tetapi jika semuanya sudah tersedia, dapatkah itu disebut "eksistensi" dalam pengertian konvensional? Ketika kita mengatakan "gajah ini ada," ia hadir secara terus-menerus dari waktu ke waktu. Tetapi "potongan gajah" tiga dimensi, yang hanya muncul sesaat, bukanlah "eksistensi" dalam pengertian konvensional, melainkan hanya "terjadi."
Ruang-waktu: eksistensi atau sekadar kejadian?
Pertanyaannya adalah: apakah ruang-waktu benar-benar seperti gajah, abadi dan tahan lama, atau hanya sepotong realitas yang cepat berlalu? Jika kita menganggap keseluruhan ruang-waktu sebagai satu kesatuan yang tak berubah, maka "ilusi berlalunya waktu" harus dijelaskan dengan cara tertentu.
Beberapa pemikir bahkan mengusulkan perluasan ke model lima dimensi: tiga dimensi spasial dan dua dimensi temporal. Ini akan memungkinkan ruang-waktu untuk digambarkan sebagai entitas yang benar-benar "ada", bukan sekadar peta peristiwa. Namun, ini melampaui fisika standar dan menyoroti inkonsistensi dalam bahasa ketika membahas "eksistensi" ruang-waktu.
Ambiguitas ini juga muncul dalam budaya populer. Dalam The Terminator (1984), garis waktu disajikan sebagai sesuatu yang tetap, semua peristiwa "telah ditulis sebelumnya." Dalam Avengers: Endgame (2019), karakter dapat melakukan perjalanan bolak-balik dan mengubah masa lalu, menunjukkan alam semesta kubik yang bersifat tetap dan transformatif. Bagaimanapun, keduanya mengasumsikan bahwa masa lalu dan masa depan "ada" untuk dicapai, tetapi gagal menjelaskan sifat dari "keberadaan" tersebut.
Faktanya, matematika dan eksperimen masih membuktikan teori relativitas itu benar. Tetapi bagaimana kita menafsirkan persamaan-persamaan tersebut secara langsung memengaruhi bagaimana kita mempersepsikan realitas. Hal ini berlaku tidak hanya dalam filsafat, tetapi juga dalam upaya terbesar ilmu pengetahuan modern: mendamaikan teori relativitas dengan mekanika kuantum.
Pada akhirnya, pertanyaan "apakah ruang-waktu itu ada?" bukanlah sekadar masalah akademis. Ini adalah pertanyaan tentang bagaimana manusia memahami jenis alam semesta tempat mereka tinggal—alam semesta yang terus berubah, atau alam semesta yang tidak berubah, di mana setiap momen telah ditentukan sebelumnya.
Sumber: https://tuoitre.vn/khong-thoi-gian-co-thuc-su-ton-tai-20250918193308017.htm







Komentar (0)