
Dalam konteks itu, puisi "Ibu! Aku Pulang" karya Minh Cuong muncul sebagai penghormatan yang menyentuh hati kepada mereka yang berkorban dan mengabdikan diri pada perjuangan revolusi nasional.
Kedamaian hari ini dibeli dengan darah dan air mata generasi-generasi yang tak terhitung jumlahnya sebelum kita. Berangkat dari prinsip-prinsip moral tradisional "Mengingat sumber air minum" dan "Menunjukkan rasa syukur," dan sesuai dengan keinginan keluarga dan kerabat prajurit yang gugur, pada tahun 2026, Komite Pengarah Nasional meluncurkan "Kampanye 500 Hari untuk Mengintensifkan Pencarian, Pengumpulan, dan Identifikasi Jenazah Prajurit yang Gugur."
Tergerak oleh kisah-kisah perang yang masih tersisa dan upaya generasi masa kini, lahirlah puisi "Ibu, Aku Pulang!" karya penulis Minh Cuong. Penulis melanjutkan kisah perdamaian dengan perspektif yang menyentuh: Ia mempersonifikasikan pertemuan kembali di alam baka antara seorang ibu tua berambut abu-abu dan putranya yang dengan gagah berani mengorbankan nyawanya, menciptakan balada epik di masa damai...
Puisi ini dibuka dengan paradoks yang menyayat hati, sebuah permohonan tertahan dari seorang prajurit saat kembali: "Hari ini aku kembali / Ibu tak menungguku / Lima puluh lima tahun di pegunungan / Rekan-rekanku mencari tanpa henti tetapi tak dapat menemukanku / Pada hari aku kembali, Ibu tak menungguku."
"Lima puluh lima tahun," periode yang panjang dan berlarut-larut, seperti seumur hidup, di mana jasad anak itu ditinggalkan "jauh di pegunungan dan hutan," tersembunyi di bawah bom dan peluru. Dan kemudian, pada hari "anak itu kembali," sang ibu sudah tidak lagi hidup untuk memeluk anaknya, meskipun hanya segenggam tulang...
Melalui kisah sang prajurit, kenangan heroik namun brutal tentang "pertempuran itu" terungkap dengan jelas. Di tengah medan perang tempat "musuh tanpa henti menghujani mereka dengan bom dan peluru," para prajurit hanya memiliki "manusia dan batu," sampai-sampai "batu itu bahkan tidak bisa memberikan perlindungan, Ibu!" Seruan pilu "Ibu!" menandai akhir masa muda mereka di medan perang yang sengit.
Prajurit itu juga berbicara tentang persahabatan, keakraban, dan kasih sayang antar sesama ketika mereka mengorbankan diri. "Berbaring di sana untuk saling melindungi dari peluru , " berharap mengorbankan nyawa mereka untuk satu sama lain agar "suatu hari mereka bisa kembali kepada Ibu Pertiwi." Namun, aspirasi itu tidak pernah menjadi kenyataan.
Saat membaca puisi ini, kita tak bisa menahan rasa sedih ketika mengingat kata-kata abadi Ibu Pahlawan Vietnam Ngo Thi Lang (dari Hoi An , Quang Nam): "Melepaskan anakku berarti kehilangannya, tetapi mempertahankannya berarti kehilangan negara. Biarkan dia pergi…". Kata-kata ini adalah bukti paling jelas dari keagungan yang bercampur dengan penderitaan mendalam para ibu pahlawan Vietnam. Ini adalah penderitaan perang, sehingga hari ini, dalam kisah perdamaian, selalu ada momen rasa syukur atas generasi ayah dan saudara laki-laki yang tak terhitung jumlahnya yang telah gugur.
Para ibu mengirim putra-putra mereka untuk berjuang demi negara, hanya untuk menerima sebagai imbalan "malam-malam tanpa tidur karena menunggu dengan cemas," dan "kelelahan dan kepenatan" yang menguras energi mereka selama bertahun-tahun. Penulis menggunakan kata-kata yang sangat familiar yang secara kuat menyentuh emosi dan hati setiap pembaca: kecemasan, kelelahan, kesempatan yang terlewatkan...
Melampaui penderitaan pribadi seorang individu, puisi ini mengangkat citra prajurit menjadi simbol seluruh generasi yang membela negara: "Negara kita telah mengalami banyak kesulitan/Banyak anak muda telah berkorban untuk melindunginya/Setiap inci tanah yang ditinggalkan oleh leluhur kita/Selamanya berusia dua puluh tahun, abadi."

"Kesulitan masa lalu negara" ditandai oleh masa muda para pemuda "yang abadi di usia 20 tahun." Mereka mendedikasikan seluruh masa muda mereka untuk tanah air, sehingga hari ini, negara memasuki era baru, era perdamaian, kemerdekaan, dan pembangunan. Pengorbanan mereka adalah fondasi kokoh yang menghubungkan masa lalu yang gemilang dan masa depan bangsa yang cerah. Sebuah bangsa dengan tradisi patriotisme, tradisi mengingat akar dan membalas kebaikan, ikatan ini tetap kuat dan abadi dari generasi ke generasi.
Mungkin bagian penutup puisi ini adalah puncak emosi, menggambarkan kembalinya ke realitas dan perjumpaan dalam pikiran: "Kini rekan-rekanku telah menyambutku pulang / Sepotong tulang di pos perbatasan / Aku kembali di tengah begitu banyak penantian / Aku pulang, tapi di mana Ibu?"
Saat ia kembali, yang tersisa darinya hanyalah "tumpukan tulang di pos perbatasan." Ibunya, setelah bertahun-tahun "menunggu dengan lelah," "Merindukan" anak mereka, hanya di saat-saat terakhir mereka memiliki harapan untuk melihat anak mereka lagi. Adegan diakhiri dengan "aroma dupa yang terbawa angin," asap yang mengepul seperti benang tak terlihat yang menghubungkan dua dunia, dunia orang hidup dan orang mati.
Putra yang berbakti itu, yang kini telah menjadi arwah, masih menundukkan kepalanya. "Ibu, maafkan aku seribu kali," "Aku minta maaf seribu kali" karena meninggalkanmu untuk menghabiskan hidupmu dalam penantian yang sunyi dan penuh kecemasan. Pertemuan di "alam surgawi" itu sungguh memilukan sekaligus satu-satunya penghiburan bagi kedua jiwa tersebut.
"Bu, aku pulang!" Ini bukan sekadar puisi, tetapi sebuah penghormatan yang tulus, sebuah kisah puitis yang mengharukan tentang kasih sayang seorang ibu dan patriotisme yang suci. Dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan akrab serta penuh empati, penulis berhasil menggambarkan babak heroik namun tragis dalam sejarah bangsa.
Puisi ini juga berfungsi sebagai penghormatan diam-diam dari generasi sekarang dan masa depan kepada para martir yang heroik, para Ibu Vietnam yang heroik, dan mereka yang telah menjadi bagian integral dari identitas bangsa, berkontribusi pada keindahan damai yang kita nikmati saat ini.

Dengan senang hati kami persembahkan kepada para pembaca puisi "Ibu, Aku Pulang!" karya penulis Minh Cuong:
BU, AKU PULANG!
Sekarang aku sudah di rumah, Ibu tidak menungguku.
Lima puluh lima tahun di pegunungan dan hutan
Rekan-rekan setimnya mencari dan mencari tetapi tidak dapat menemukannya.
Saat aku pulang, Ibu tidak menungguku.
Aku bukan satu-satunya yang terlibat dalam pertempuran itu.
Banyak rekan seperjuangan saya yang mengorbankan nyawa mereka, Bu.
Hanya tersisa dua orang dari kami di seluruh perusahaan.
Namun, mereka semua menanggung cedera seumur hidup.
Saat kami mencetak gol kemenangan
Musuh melepaskan rentetan bom dan peluru yang sangat brutal.
Kita hanya punya manusia dan bebatuan.
Batu-batu itu tidak bisa melindungi kita, Ibu!
Kami berbaring di sana saling melindungi dari peluru.
Semoga setidaknya satu orang selamat.
Agar suatu hari nanti aku bisa pulang dan bertemu ibuku lagi.
Ceritakan pada Ibu tentang pertempuran beberapa tahun lalu.
Negara kita telah melewati banyak kesulitan.
Generasi demi generasi anak muda telah mengorbankan diri mereka untuk melestarikannya.
Setiap jengkal tanah yang ditinggalkan oleh leluhur kita.
Selamanya berumur dua puluh tahun, abadi.
Aku tahu Ibu sudah menunggu dengan sabar, Bu.
Hanya saja, saya ketinggalan tanggal pulang.
Angin terus bertiup, dan Ibu sudah tidak ada di sini lagi.
Bermalam-malam tanpa tidur, Ibu menunggu dengan cemas.
Kini rekan setimnya telah membawa anak itu pulang.
Sepotong tulang di pos perbatasan.
Anakku telah kembali di tengah penantian yang panjang.
Aku sudah di rumah, tapi di mana Ibu?
Menurutku tempat itu seperti surga.
Aku akan menemui Ibu, kan?
Perang masih membekas dalam hati kita.
Ini milikku, milik ibuku, dan milik begitu banyak orang lainnya.
Ibu, mohon maafkan saya seribu kali.
Seorang ibu menghabiskan seluruh hidupnya dalam diam menunggu anaknya.
Aroma dupa tercium lembut terbawa angin.
Aku minta maaf seribu kali, Ibu!
Penulis Quan Minh Cuong menulis ini di Quang Ninh pada 29 Juni 2026, dalam konteks seluruh negeri yang melaksanakan kampanye 500 hari untuk mencari jenazah para martir, menjelang peringatan ke-80 Hari Veteran Perang (27 Juli 2027).
Sumber: https://baotintuc.vn/sang-tac/khuc-trang-ca-giua-thoi-binh-20260706101345383.htm









