Dalam beberapa tahun terakhir, gaya pengasuhan anak telah berubah secara perlahan. Dari model yang berfokus pada pengendalian perilaku dan kepatuhan, banyak keluarga mulai beralih ke pendekatan yang lebih mendalam: memahami emosi untuk membangun hubungan dengan anak-anak mereka. Ini bukanlah tren sesaat, melainkan hasil dari penelitian yang terakumulasi dalam bidang psikologi, pendidikan , dan pengalaman generasi orang tua.
Meskipun disiplin yang ketat pernah dianggap sebagai dasar untuk membesarkan anak-anak yang berperilaku baik, saat ini semakin banyak orang tua yang mempertanyakan: Apakah kepatuhan benar-benar mencerminkan kedewasaan, ataukah itu hanyalah ekspresi rasa takut dan adaptasi?
Realitanya, masalahnya bukanlah apakah kita perlu mendisiplinkan atau tidak, tetapi bagaimana kita memahami dan mempraktikkan disiplin. Metode yang terlalu kaku, berdasarkan hukuman atau paksaan, mungkin memberikan hasil langsung, tetapi meninggalkan konsekuensi jangka panjang.
![]() |
"Hubungan emosional" bukanlah tentang memanjakan. Sebaliknya, hal itu membutuhkan lebih banyak kesabaran dan konsistensi. Foto: Pinterest. |
Beberapa studi psikologis menunjukkan bahwa ketika anak-anak sering stres karena dimarahi atau ditekan, otak mereka mengaktifkan mekanisme pertahanan. Hal ini secara langsung memengaruhi kemampuan mereka untuk berkonsentrasi, mengingat, dan berpikir secara fleksibel. Dengan kata lain, anak yang "berperilaku baik" dalam jangka pendek mungkin akan kesulitan beradaptasi dan mengelola emosi mereka seiring bertambahnya usia.
Namun, tidak adil untuk menyamakan semua bentuk "disiplin ketat" dengan hal negatif. Dalam banyak kasus, kejelasan aturan dan batasan tetap penting agar anak-anak memahami tanggung jawab dan konsekuensi. Intinya adalah disiplin tidak boleh dipisahkan dari hubungan.
Itulah mengapa "hubungan emosional" semakin dipandang sebagai fondasi penting dalam pendidikan keluarga. Alih-alih hanya berfokus pada koreksi perilaku, metode ini menggali lebih dalam untuk memahami apa yang terjadi di dalam diri anak. Ketika seorang anak marah, membangkang, atau menarik diri, pertanyaannya bukan lagi "bagaimana membuat mereka mendengarkan," tetapi "apa yang menyebabkan mereka bereaksi seperti itu?".
"Hubungan emosional" bukanlah tentang memanjakan. Sebaliknya, hal itu membutuhkan lebih banyak kesabaran dan konsistensi. Orang tua tetap menetapkan batasan, tetapi batasan tersebut dibangun atas dasar rasa hormat. Anak-anak berhak merasakan emosi, tetapi mereka juga dibimbing tentang bagaimana mengekspresikan emosi tersebut dengan tepat.
"Ko-regulasi emosional" adalah pendekatan yang banyak dibicarakan oleh para ahli. Sederhananya, ini adalah ketika orang tua tidak hanya berdiri di samping dan menyuruh anak-anak mereka untuk "tenang," tetapi justru hadir untuk mereka ketika mereka sedang kesal. Misalnya, ketika seorang anak marah atau menangis keras, alih-alih berteriak "berhenti sekarang juga," orang tua dapat berkata, "Ibu tahu kamu sangat kesal," lalu bernapas bersama, menunggu anak tersebut tenang. Pada saat-saat itu, anak-anak tidak hanya ditenangkan tetapi juga belajar untuk mengidentifikasi dan mengendalikan emosi mereka. Secara bertahap, seiring bertambahnya usia, mereka tidak lagi membutuhkan orang tua untuk melakukan itu, karena keterampilan pengaturan diri mereka telah dikembangkan dari pengalaman-pengalaman tersebut, yaitu ketika orang tua selalu ada untuk mereka.
Dalam masyarakat yang berubah dengan cepat di mana pengetahuan dapat menjadi usang hanya dalam beberapa tahun, kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, dan mengelola emosi menjadi kompetensi yang lebih abadi. Banyak studi pendidikan menunjukkan bahwa anak-anak dengan kecerdasan emosional yang berkembang dengan baik seringkali memiliki keunggulan yang berbeda dalam hubungan dan di kemudian hari.
Perspektif ini juga ditekankan dalam buku Becky Kennedy , *Our Children Are All Good* . Menurutnya, anak-anak bukanlah "masalah yang harus diperbaiki," melainkan manusia yang sedang belajar untuk tumbuh. Ketika orang tua memandang perilaku anak-anak mereka sebagai sinyal dan bukan sebagai kesalahan, respons mereka pun akan berubah.
![]() |
Buku Becky Kennedy, *Our Children Are All Good* . Foto: H.Quỳnh |
Oleh karena itu, pergeseran dari "disiplin ketat" ke "hubungan emosional" bukanlah penggantian total, melainkan langkah maju dalam pemahaman. Orang tua masa kini tidak hanya menginginkan anak-anak mereka "bertingkah baik," tetapi juga menginginkan mereka memahami diri sendiri dan tahu bagaimana bersikap teguh dalam menghadapi perubahan hidup.
Dan mungkin hal yang paling penting bukanlah memilih antara disiplin atau koneksi, tetapi belajar menggabungkan keduanya – sehingga setiap batasan disertai dengan pemahaman, dan setiap pelajaran dimulai dengan rasa hormat.
Sumber: https://znews.vn/ky-luat-thep-co-con-dung-khi-day-con-thoi-nay-post1645691.html










Komentar (0)