Kekuatan pendekatan Ibu Ly terletak pada hubungan erat antara berbagai model. Ibu Ly memanfaatkan kotoran sapi untuk membudidayakan cacing tanah. Ini merupakan langkah penting dalam mengubah produk sampingan menjadi sumber daya. Budidaya cacing tanah bukan hanya metode yang ramah lingkungan, tetapi juga sumber makanan bergizi untuk ternak.
Ibu Ly berbagi: “Pada tahun 2021, saya terus mengembangkan model saya dalam beternak burung puyuh di dalam ruangan dan beternak ayam untuk diambil telurnya, menetaskan, dan menjual anak ayam. Berkat sumber makanan yang andal dari cacing tanah, biaya beternak ayam dan burung puyuh telah menurun secara signifikan. Yang membuat saya senang adalah model-model ini saling mendukung, meminimalkan risiko dan meningkatkan efisiensi produksi dan bisnis. Dari model-model ini, setelah dikurangi biaya, saya memperoleh keuntungan lebih dari 120 juta VND setiap tahunnya.”
Dengan perencanaan yang matang dan model ekonomi tertutup, Ibu Ly selalu bersikap proaktif dalam menghadapi fluktuasi pasar sekaligus memastikan pendapatan yang stabil. Ia tidak hanya memperkaya keluarganya, tetapi juga menyebarkan praktik bisnisnya yang efektif kepada banyak perempuan etnis minoritas Khmer di daerah setempat.
Ibu Thi Niem dari Dusun Thanh Trung berbagi: “Berkat bimbingan Ibu Ly dalam menenun, saya mendapatkan tambahan 3 juta VND per bulan, sehingga meringankan beban hidup keluarga saya. Saya berencana untuk belajar beternak burung puyuh untuk mengembangkan perekonomian keluarga saya.”
Model yang dikembangkan Ibu Ly menunjukkan bahwa jika setiap keluarga mengetahui cara memanfaatkan sumber daya yang tersedia dan secara fleksibel berinovasi dalam metode mereka, mereka dapat sepenuhnya meningkatkan penghidupan mereka dan mencapai kehidupan yang stabil di tanah air mereka.
Teks dan foto: CAO OANH
Sumber: https://baocantho.com.vn/-lay-ngan-nuoi-dai-de-phat-trien-kinh-te-a202527.html










Komentar (0)