Menurut Komando Pusat AS (CENTCOM), jet tempur AS menyerang beberapa target di Iran pada 26 Juni, termasuk lokasi peluncuran rudal, fasilitas penyimpanan drone, dan stasiun radar. Washington mengatakan ini sebagai tanggapan atas serangan drone terhadap kapal kargo berbendera Singapura M/V Ever Lovely saat melintasi Selat Hormuz sehari sebelumnya.

Sebuah jet tempur F/A-18 AS di atas kapal induk USS Gerald R. Ford di Oslo, Norwegia, 24 September 2025. (Sumber: Getty Images)
Dalam sebuah pernyataan yang diunggah di platform media sosial X, CENTCOM menuduh pasukan Iran melanggar perjanjian gencatan senjata dengan menargetkan kapal dagang. "Agresi tanpa provokasi terhadap kapal dagang oleh pasukan Iran jelas melanggar perjanjian gencatan senjata," demikian pernyataan CENTCOM.
Di pihak Iran, media pemerintah melaporkan beberapa ledakan di Pulau Sirik, di provinsi Hormozgan di Iran selatan. Stasiun televisi pemerintah IRIB, mengutip sumber, mengatakan dua benda terbang menghantam menara telekomunikasi di dekat daerah tersebut.
Media Iran juga mengutip sumber militer yang mengatakan bahwa pasukan Iran sebelumnya telah melepaskan tembakan peringatan ke kapal-kapal yang dianggap Teheran "melanggar" peraturan di Selat Hormuz. Namun, Iran belum mengkonfirmasi telah melakukan serangan drone terhadap Ever Lovely.
Sebelum serangan udara terjadi, Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyalahkan Iran atas insiden di Selat Hormuz, menyebutnya sebagai "pelanggaran bodoh" terhadap perjanjian perdamaian yang baru saja dicapai.
Meskipun menyangkal tanggung jawab langsung, Teheran tetap berpendapat bahwa Iran dan Oman adalah satu-satunya dua negara yang berhak menentukan masa depan aktivitas maritim di Selat Hormuz, jalur pengiriman energi terpenting di dunia.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menekankan bahwa menjamin keamanan maritim di kawasan Hormuz tidak dapat dicapai melalui perjanjian yang tidak jelas atau keputusan yang mengabaikan peran Iran sebagai negara pantai.
Perkembangan terbaru ini membuat prospek untuk menjaga perdamaian antara AS dan Iran menjadi semakin rapuh. Waktu terjadinya insiden ini juga sangat sensitif, karena kedua negara masih membahas implementasi memorandum yang telah ditandatangani sebelumnya.
Menurut informasi yang dipublikasikan, Washington dan Teheran masih memiliki banyak perbedaan pendapat tentang bagaimana menafsirkan perjanjian tersebut, khususnya mengenai kendali atas Selat Hormuz, masa depan persediaan uranium yang diperkaya Iran, dan kampanye militer Israel di Lebanon.
Sumber: https://suckhoedoisong.vn/ly-do-my-bat-ngo-khong-kich-iran-169260627091856623.htm








