Jika menengok ke belakang, hidup itu aneh. Saat masih kecil, saya dan teman-teman di lingkungan sekitar sering bermain permainan mengedipkan mata, membuka dan menutup mata untuk membiarkan imajinasi kami melayang bebas, berharap tiba-tiba kami berusia tiga puluh atau tiga puluh lima tahun, usia di mana kami bisa melakukan semua yang kami sukai. Mata kecil yang berkilauan itu dipenuhi dengan mimpi-mimpi cemerlang, "bernama" pengacara, jurnalis, penyanyi… Memang, masa kanak-kanak berlalu begitu cepat, tetapi sebagian besar benih mimpi itu telah larut menjadi kenyataan. Anak-anak masa lalu itu kini tersebar, diam-diam belajar mencari nafkah sendiri.

Sepuluh tahun telah berlalu di kota ini, dan yang kulihat hanyalah gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi ke langit. Matahari tampak terburu-buru, hanya mampu memancarkan sinarnya yang terik langsung ke jalanan pada siang hari. Aku menyatu dengan arus orang-orang yang lalu lalang, berputar-putar di bawah terik matahari dan hujan, seperti gasing yang tak kenal lelah. Mimpi-mimpiku, yang dulunya begitu cerah dan luas, telah menyusut saat aku memasuki usia dewasa, terbebani oleh kekhawatiran sehari-hari. Pertanyaan-pertanyaan familiar tentang pernikahan, anak-anak, gaji, dan pikiran tentang orang tuaku yang semakin tua di kampung halaman diam-diam menumpuk, seringkali membuatku sesak napas.

Ternyata menjadi dewasa membawa beban yang berat. Kita hampir tidak punya waktu untuk membedakan antara sinar matahari dan hujan karena terburu-buru mencari nafkah, jarang punya waktu untuk mendongak dan mengagumi langit. "Langit" di hati kita pun dipenuhi dengan ketakutan akan rasa rendah diri, ketakutan akan kehilangan, dan perpisahan yang diam-diam mendekat. Berbeda dengan mimpi masa kecilku untuk cepat dewasa, tiba-tiba aku merindukan tiket kembali ke masa kecilku yang riang, tetapi hari-hari berlalu tanpa terasa, menunggu tak seorang pun menoleh ke belakang.

“Haruskah aku kembali ke kampung halaman?” – pikiran itu terus berulang, hanya untuk ditahan oleh rasa takut yang samar. Memulai hidup baru di usia tiga puluhan, masa depan pasti akan penuh dengan kesulitan. Akankah aku tersesat? Akankah aku memiliki keberanian untuk menghadapi pujian dan kritik orang lain? Ibuku berkata, “Biarkan hatimu hidup seperti jiwa seorang anak kecil. Mengetahui cara melepaskan kekhawatiran dan keinginan adalah satu-satunya cara untuk menemukan kedamaian dalam hidup.” Ibuku berkata bahwa di usia tujuh puluh tahun, ia juga memiliki banyak ketakutan: takut akan penuaan, penyakit, takut akan hal-hal yang tidak akan dapat ia saksikan, dan terkadang bahkan takut akan tatapan polos anak-anak. Orang dewasa takut akan hal-hal yang sangat nyata, sampai-sampai kebahagiaan terhalang; tetapi anak-anak takut akan hal-hal yang tidak nyata, sehingga mereka tetap sepenuhnya bahagia di masa kini.

Ibuku menderita penyakit serius selama bertahun-tahun. Sekarang, dia tidak lagi takut akan rasa sakit; setiap kali cuaca berubah, dia dengan tenang menerimanya sebagai bagian dari kehidupan. Dengan berani aku membiarkan hatiku membawaku kembali ke desa kecil di bawah langit, menyandarkan kepalaku di pangkuan ibuku seperti dulu, melepaskan kekhawatiran dan kelelahan, dan membiarkan hatiku seperti sebidang tanah yang digarap, diam-diam memelihara kehidupan baru.

Melalui jendela kecil, saya melihat jalan tanah kemerahan, diapit pepohonan tua yang condong namun tetap berdiri kokoh melawan angin. Di kejauhan, matahari yang berwarna seperti bunga matahari semakin tinggi. Langit cerah dan jernih, dihiasi beberapa awan biru yang bersih.

Aku tersenyum.

Langit di atas tanah kelahiranku luas dan lembut, dan "langit" di hatiku perlahan-lahan cerah menyambut fajar yang damai dan indah; dari dapur, aroma hangat dan menenangkan menyebar ke mana-mana…

Thuong Thuong

Sumber: https://huengaynay.vn/van-hoa-nghe-thuat/mat-troi-mau-hoa-huong-duong-162368.html