Saya telah menjadi pendongeng larut malam di radio selama hampir 25 tahun, dan terkadang saya tidak tahu apakah saya seorang pendongeng atau karakter dalam cerita itu sendiri.
Ada malam-malam ketika, membaca adegan di mana seorang karakter menangis, saya akan tersedak, tidak mampu melanjutkan, dan harus berhenti untuk menyeka air mata saya. Bukan karena ceritanya terlalu tragis, tetapi karena saya merasa seperti hidup di dalamnya. Setiap karakter, setiap baris dialog, setiap momen keheningan… seolah menarik saya ke dunia di mana saya bukan lagi diri saya sendiri. Lalu ada saat-saat ketika saya tertawa di tengah malam karena detail kecil yang membuat hati saya bergetar, atau karena detail-detail keseharian karakter yang naif dan polos yang menenangkan hati saya.
Setiap kali aku bernyanyi, aku menjalani kehidupan lain. Ketika para tokoh tertawa, aku pun ikut tertawa. Ketika mereka menderita, hatiku sakit dan hancur setiap kali aku mengucapkan kata-kata. Setiap tokoh adalah bagian dari jiwaku yang kupercayakan kepada mereka.
Setiap kali saya berbicara, rasanya seperti menjalani kehidupan lain. Ketika para tokoh tertawa, saya pun ikut tertawa. Ketika mereka menderita, hati saya sakit dan hancur berkeping-keping dengan setiap kata. Setiap tokoh adalah bagian dari jiwa saya yang saya percayakan kepada mereka… Terkadang saya menjadi gadis buta yang menunggu kekasihnya di stasiun kereta. Di malam lain, saya berubah menjadi seorang lelaki tua kesepian dengan kucingnya sebagai teman. Kehidupan-kehidupan ini, takdir-takdir ini, kesedihan-kesedihan ini secara bertahap meresap ke dalam darah saya, ke dalam hati saya, membuat pembawa acara "Late Night Stories" tidak mungkin menjadi acuh tak acuh, bahkan setelah membaca ratusan, bahkan ribuan cerita. Emosi mengikuti setiap halaman, seperti gelombang, tak terbendung… Ini adalah perjalanan yang sekaligus sunyi dan ajaib – sebuah perjalanan untuk berteman dengan emosi ribuan hati yang mendengarkan dalam diam.
Para pendengar mendengarkan dalam kegelapan, tetapi narator harus menerangi seluruh dunia imajinasi. Suara yang bergema di malam hari bukanlah sekadar bunyi; itu adalah kehangatan, persahabatan, uluran tangan yang menenangkan bagi seseorang yang telah melewati hari yang panjang dan melelahkan. Di saat yang tenang dan damai itu, pembawa acara "Late Night Stories" harus berempati dan penuh pengertian, menjadi benang penghubung antar hati.
Orang bilang bahwa menjadi penyiar radio hanya membutuhkan suara. Tapi dengan "Late Night Stories," suara saja tidak cukup. Anda butuh emosi, Anda perlu tahu bagaimana menangis melalui suara Anda, bagaimana tertawa melalui napas Anda. Anda perlu tahu bagaimana mengubah hati Anda menjadi sebuah koneksi, membawa aliran emosi dari halaman ke telinga pendengar dan langsung ke hati pendengar. Sebagai penyiar "Late Night Stories," saya telah memutuskan bahwa ini bukan hanya tentang membaca cerita dengan lantang, atau sekadar menjadi penyiar yang menyampaikan konten; ini harus menjadi sebuah perjalanan yang penuh emosi – sebuah transformasi yang sunyi namun kuat. Sebagai penyiar untuk slot waktu larut malam, Anda tidak membaca dengan mata Anda, Anda tidak berbicara dengan mulut Anda, tetapi Anda menceritakan kisah dengan sepenuh hati Anda.
Banyak pendengar berkomentar, "Cara Anda bercerita luar biasa; rasanya seperti menghidupkan kembali masa muda saya, saya melihat diri saya di dalamnya"; yang lain mengatakan, "Saya tidak bisa tidur tanpa mendengarkan suara Hong Trang membacakan 'Cerita Pengantar Tidur' setiap malam." Komentar-komentar ini, bagi saya, adalah hadiah paling berharga untuk perjalanan 25 tahun tanpa panggung atau sorotan, namun penuh dengan emosi.
Jika seseorang bertanya kepada saya, “Apakah Anda pernah merasa kesepian duduk sendirian di studio rekaman, menghadap mikrofon yang dingin, berbicara kepada kekosongan yang tak terlihat?”, saya akan tersenyum dan menjawab, “Tidak. Karena saya selalu merasa ada seseorang, di suatu tempat, yang mendengarkan saya, dalam keheningan malam yang paling lembut. Karena saya tahu bahwa di suatu tempat dalam kegelapan, seseorang berbaring diam, matanya tertuju pada langit-langit, hatinya diam-diam menunggu sebuah cerita untuk menenangkannya. Ada orang-orang yang baru saja melewati hari yang panjang dan melelahkan, membutuhkan suara untuk memahami, untuk berpegang pada sedikit kedamaian. Mungkin mereka menangis. Mungkin mereka tertawa. Tetapi pada saat itu, mereka dan saya – meskipun kami belum pernah bertemu – terhubung melalui bahasa yang tak terlihat: bahasa emosi.”
Tenang namun mendalam. Sepi namun indah. Itulah yang akan dirasakan pendengar saat mendengarkan "Late Night Stories." Adapun saya, pembawa acara "Late Night Stories," saya berjanji untuk berteman dengan mikrofon, berteman dengan larut malam, dan menjadi "belahan jiwa" bagi para pendengar. Karena menjadi pembawa acara "Late Night Stories" bukan tentang menceritakan kisah, tetapi tentang menghidupinya. Bukan tentang membaca, tetapi tentang berbagi. Bukan tentang didengar, tetapi tentang merasakan. Dan dalam setiap tarikan napas, setiap keheningan, setiap tanda baca… saya hanya berharap dapat memberikan sesuatu yang kecil namun berharga: tidur nyenyak, kesedihan yang berkurang, kenangan indah yang terungkit, atau sekadar perasaan… didengarkan, sehingga saya dapat terus percaya pada kelembutan dunia ini.
Sumber: https://baobinhphuoc.com.vn/news/548/173187/mc-ke-chuyen-trong-bong-toi







Komentar (0)