Baru-baru ini, Politbiro mengeluarkan Resolusi 71 tentang terobosan dalam pengembangan pendidikan dan pelatihan, yang menetapkan tujuan penyediaan buku pelajaran gratis bagi siswa di seluruh negeri pada tahun 2030. VietNamNet melakukan wawancara dengan Associate Professor, Dr. Bui Hoai Son, Anggota Tetap Komite Kebudayaan dan Pendidikan Majelis Nasional, tentang dampak kebijakan ini ketika diterapkan dalam praktik.

- Kalau buku pelajaran gratis ini diterapkan di lapangan, dampaknya apa ya Pak?

Penyediaan buku pelajaran gratis bagi siswa, jika diterapkan secara serentak dan drastis, tentu akan menciptakan dampak sosial yang luas. Pertama-tama, kebijakan ini secara langsung mengurangi beban keuangan jutaan keluarga.

Setiap kali tahun ajaran baru akan dimulai, masalah pembelian buku pelajaran sudah menjadi kekhawatiran yang tak terpisahkan bagi banyak orang tua, terutama di daerah pedesaan, pegunungan, dan kepulauan. Bagi keluarga perkotaan yang kaya, membeli beberapa set buku tidaklah terlalu sulit, tetapi bagi banyak rumah tangga miskin, biayanya cukup besar, terkadang bahkan harus diimbangi dengan biaya hidup minimum lainnya.

Ketika Negara memutuskan untuk mengurusi bagian ini, itu adalah bentuk berbagi yang praktis, membantu orang tua merasa lebih aman, menghemat sumber daya untuk fokus pada kebutuhan lain yang sama pentingnya seperti gizi, kesehatan atau kegiatan ekstrakurikuler untuk anak-anak mereka.

vanho6 41989.jpeg
Lektor Kepala, Dr. Bui Hoai Son, Anggota Tetap Komite Kebudayaan dan Pendidikan Majelis Nasional . Foto: Le Anh Dung

Lebih lanjut, kebijakan ini menegaskan nilai sosial: Pengetahuan adalah aset bersama bangsa, dan semua anak berhak atas akses yang sama. Ketika semua siswa, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi, memiliki buku yang sama, hal itu bukan hanya alat belajar tetapi juga simbol keadilan sosial.

Dampak positif ini akan menyebar ke seluruh lapisan masyarakat. Ketika pengetahuan disebarluaskan secara merata, pendidikan akan memiliki peluang untuk meningkatkan kualitasnya, karena siswa tidak lagi terganggu oleh kekhawatiran akan kekurangan buku. Guru juga akan dapat mengajar dengan tenang ketika semua siswa memiliki cukup buku.

Lebih jauh lagi, kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan dan kepedulian Negara akan semakin menguat, menjadi motor penggerak bagi seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama peduli terhadap pendidikan rakyat.

Salah satu isu yang menjadi perhatian saat ini adalah kesenjangan pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan, dataran rendah dan dataran tinggi. Menurut Anda, dapatkah kebijakan penyediaan buku teks gratis berkontribusi untuk mempersempit kesenjangan ini dan meningkatkan pemerataan akses pendidikan antarwilayah?

Saya rasa inilah manfaat terpenting dari kebijakan ini. Selama ini, kesenjangan kondisi belajar antarwilayah sangat besar. Di beberapa tempat, siswa memiliki cukup buku, sementara di tempat lain, mereka harus belajar dengan buku-buku lama, bahkan pergi ke sekolah dengan tangan kosong. Hal ini secara tak kasat mata menciptakan ketimpangan sejak tingkat sekolah dasar.

Ketika buku teks disediakan secara gratis, siswa di mana pun akan memiliki buku yang baru, konsisten, dan seragam. Hal ini akan menghilangkan rasa rendah diri, membantu anak-anak di daerah tertinggal agar tidak dirugikan dibandingkan dengan teman-teman mereka di tempat lain.

Guru-guru di daerah terpencil kini tak perlu lagi bersusah payah mengumpulkan buku untuk murid-muridnya. Kebijakan ini ibarat jembatan, mendekatkan ilmu pengetahuan ke daerah-daerah yang masih banyak kesulitannya.

Selain itu, keseragaman buku teks berkontribusi pada kesatuan pengajaran dan pembelajaran di seluruh negeri. Ketika semua orang mempelajari buku yang sama, pengajaran, ujian, dan penilaian akan lebih mudah, sehingga menjamin kualitas secara keseluruhan. Selain itu, siswa miskin akan lebih termotivasi ketika mereka menyadari bahwa mereka tidak tertinggal. Ini merupakan langkah penting menuju tujuan pemerataan pendidikan—salah satu nilai inti dari setiap sistem pendidikan yang maju.

Ketika kesenjangan regional menyempit, ketika kesempatan untuk bersekolah dan akses terhadap pengetahuan terjamin bagi setiap anak, kita tidak hanya membangun generasi warga negara yang lebih terdidik, tetapi juga memupuk solidaritas, kohesi, dan pembangunan berkelanjutan negara di masa depan.

Tantangan apa yang akan dihadapi kebijakan ini ketika diterapkan secara nasional? Menurut Anda, apa solusi untuk memastikan implementasi kebijakan yang efektif?

Tentu saja, setiap kebijakan besar memiliki tantangan dalam implementasinya. Menurut saya, tantangan-tantangan ini dapat dilihat dari berbagai sudut pandang.

Pertama-tama, ada tantangan sumber daya keuangan. Buku teks berkaitan dengan puluhan juta siswa, dengan jumlah cetakan yang sangat besar setiap tahunnya. Kenyataan bahwa anggaran negara menanggung semua biaya ini tentu akan menciptakan tekanan yang besar, terutama ketika ada banyak bidang lain yang juga membutuhkan investasi seperti kesehatan, infrastruktur, pertahanan negara, jaminan sosial, dll. Masalahnya adalah bagaimana menyeimbangkan anggaran secara wajar, memastikan hak belajar bagi siswa sambil menjaga stabilitas makroekonomi dan efisiensi belanja publik.

Tantangan kedua adalah organisasi pelaksanaan. Ketika buku didistribusikan secara gratis, tanpa mekanisme pengelolaan yang ketat, risiko pemborosan sangat mungkin terjadi. Mentalitas "hadiah cuma-cuma" dapat menyebabkan banyak siswa tidak merawat buku mereka, yang mengakibatkan kerusakan, kehilangan, dan memaksa pencetakan tambahan dengan biaya yang cukup besar. Selain itu, sistem distribusi buku perlu diatur secara ilmiah dan tepat waktu, untuk menghindari situasi kelebihan dan kekurangan di awal tahun ajaran.

Ketiga, tantangan kualitas dan stabilitas buku teks. Menyediakannya secara gratis berarti Negara harus mengambil inisiatif dalam tahap penyusunan, pencetakan, dan pendistribusian. Jika mekanisme ini kurang kompetitif dan transparan, risiko buku menjadi lambat berinovasi, kurang fleksibel, atau tidak memenuhi persyaratan praktis tidak dapat dihindari. Kebijakan gratis ini, jika tidak dibarengi dengan reformasi mekanisme penyusunan dan penilaian, dapat secara tidak sengaja memperparah kekurangan ini.

Terakhir, tantangan kesadaran sosial. Kebijakan ini hanya dapat sepenuhnya efektif jika orang tua, guru, dan siswa menyadari tanggung jawab mereka dalam melestarikan dan menggunakan buku. Jika ini dianggap sebagai anugerah berharga dari Negara untuk generasi muda, buku akan dilestarikan dan digunakan kembali selama bertahun-tahun. Sebaliknya, jika kurangnya kesadaran, pemborosan tak terelakkan.

Pendek kata, kebijakan penyediaan buku pelajaran gratis memang banyak manfaatnya, tetapi agar berhasil, diperlukan solusi yang komprehensif: mulai dari alokasi anggaran, penyaluran yang wajar, penyediaan mekanisme persaingan, hingga peningkatan kesadaran masyarakat terhadap nilai buku pelajaran gratis.

Terima kasih banyak!

Politbiro: 1 set buku teks terpadu di seluruh negeri, disediakan gratis bagi siswa pada tahun 2030. Atas nama Politbiro, Sekretaris Jenderal To Lam baru-baru ini menandatangani dan menerbitkan Resolusi 71 Politbiro tentang terobosan dalam pengembangan pendidikan dan pelatihan.

Sumber: https://vietnamnet.vn/mien-phi-sach-giao-khoa-cho-hoc-sinh-la-su-chia-se-thiet-thuc-voi-nguoi-dan-2437254.html