Saat menyebut Tay Ninh , orang langsung membayangkan tanah yang dipenuhi sinar matahari dan angin, dengan hamparan ladang tebu yang luas, perkebunan karet hijau subur yang bergoyang tertiup angin, dan gunung Ba Den yang megah berdiri tegak sebagai saksi bisu kisah hidup yang tak terhitung jumlahnya.
Jika Anda pernah ke Tay Ninh, Anda mungkin pernah mendengar tentang garam udang – bumbu yang, hanya dengan sekali cicipi, sudah cukup untuk meninggalkan kesan yang mendalam. Ini bukan hanya lauk, tetapi juga bagian dari kenangan masa kecil dan aspek budaya masyarakat di wilayah ini.
Garam putih murni, udang kering merah cerah, cabai pedas, dan sedikit gula manis dicampur bersama dan dipanggang dengan api kecil, menghasilkan bumbu yang gurih dan harum. Semangkuk garam udang Tay Ninh bukan hanya saus celup untuk buah; tetapi juga mewujudkan cita rasa matahari, angin, dan dedikasi mereka yang membuatnya.
Saat masih kecil, setiap kali ibu pulang dari pasar, saya dengan penuh antusias menunggu beliau membuka tas belanjaannya. Hanya dengan melihat stoples kecil garam udang saja sudah membuat jantung saya berdebar. Beberapa belimbing hijau, beberapa jambu biji yang renyah, atau sepotong mangga asam yang baru dipetik dari kebun—hanya sedikit garam udang saja sudah cukup untuk membuat semuanya terasa lezat. Rasa pedasnya membuat bibir saya merah padam, tetapi saya tidak bisa berhenti makan.
Garam udang Tay Ninh bukan sekadar bumbu sederhana, tetapi juga simbol ikatan antar generasi. Saya ingat sore-sore musim panas ketika seluruh keluarga berkumpul, ibu saya memetik sayuran sambil bercerita tentang masa lalu. Beliau berkata bahwa di masa lalu, setiap kali kehabisan garam udang, nenek saya akan pergi ke pasar untuk membeli udang kering, menggilingnya menjadi bubuk halus, dan memanggangnya dengan garam kasar dan cabai kering. Tanpa mesin yang kita miliki sekarang, setiap langkah dilakukan secara manual, namun setiap toples garam udang harum dan lezat, dan tahan selama setahun penuh.
Di kampung halaman saya, ada hidangan-hidangan yang, meskipun sederhana, dipenuhi dengan begitu banyak cinta. Saya pernah melihat para wanita di Tay Ninh dengan teliti bekerja di dekat api, dengan hati-hati mengaduk garam udang dalam wajan besi cor yang panas. Itu bukan sekadar pekerjaan; itu adalah kegembiraan, sebuah gairah. Mereka memahami bahwa garam udang tidak hanya harus lezat tetapi juga harus membawa jiwa dari orang yang membuatnya.
Setelah dewasa dan meninggalkan Tay Ninh untuk mengejar mimpi, akhirnya aku mengerti apa artinya merindukan rumah. Di tengah hiruk pikuk jalanan kota, ada kalanya hatiku terasa sedih hanya karena bertemu dengan pedagang kaki lima yang menjual buah dengan acar udang. Acar udang di negeri asing ini, meskipun pedas dan asin, terasa kurang memiliki kehangatan dan semilir angin kota kelahiranku.
Suatu kali, ibuku mengirimiku sebuah stoples kecil berisi garam udang. Begitu aku membuka tutupnya, aroma yang kuat langsung menyebar, membawaku kembali ke masa kecilku, berlari dan bermain di jalanan pedesaan yang berdebu. Aku ingat sore-sore musim panas duduk di bawah pohon mangga, mencelupkan potongan buah ke dalam garam udang, mengingat pengingat ibuku, "Makanlah sedikit-sedikit, nanti terlalu pedas," dan bahkan hari-hari hujan ketika ia memasak semangkuk bubur nasi putih dan menaburkan sedikit garam udang di atasnya untuk menambah cita rasa.
Garam udang Tay Ninh tidak mahal atau mewah, tetapi memiliki vitalitas yang abadi. Di antara banyak rempah-rempah mewah, garam udang tetap memiliki tempat istimewa tersendiri, dikenang dengan penuh kasih oleh banyak orang yang telah meninggalkan kampung halamannya. Sama seperti penduduk Tay Ninh sendiri – tulus, sederhana, namun penuh kehangatan.
Tay Ninh bukan hanya rumah bagi Gunung Ba Den yang megah atau ladang tebu yang luas, tetapi juga bagi hal-hal kecil yang membangkitkan kenangan indah. Semangkuk garam udang – tampak sederhana, namun menyimpan begitu banyak kenangan dan emosi orang-orang di sini.
Setiap kali saya pulang ke kampung halaman, momen favorit saya adalah pergi ke pasar dan membeli sendiri sebotol garam udang. Meskipun garam udang dapat ditemukan di banyak tempat, hanya di Tay Ninh saya benar-benar merasakan jiwa kampung halaman saya di setiap butir garam. Memegang botol itu di tangan, saya merasa seperti sedang memegang sepotong masa kecil saya, sepotong kampung halaman saya yang akan selalu saya bawa, ke mana pun saya pergi.
Ada hal-hal, sekecil apa pun, yang memiliki nilai yang sangat besar. Semangkuk garam udang bukan hanya bumbu; itu adalah kenangan, simbol kasih sayang terhadap kampung halaman, benang yang menghubungkan masyarakat Tay Ninh dengan tanah tercinta ini.
Di tengah kesibukan hidup, terkadang kita membutuhkan momen untuk kembali pada hal-hal sederhana. Dan bagi saya, hanya semangkuk acar udang, mangga asam, sudah cukup untuk merasakan bahwa tanah kelahiran saya selalu ada di sini, di hati saya.
Lan Anh
Sumber: https://baotayninh.vn/moc-mac-chen-muoi-tom-a185684.html






Komentar (0)