
"Sup campur" buatan ibuku tidak sesederhana namanya yang sederhana. Untuk membuat sepanci sup dengan cita rasa asli Xuan Dinh, sejak pagi buta, ia akan pergi ke pasar Dong Tao untuk memilih bahan-bahan yang paling segar. Baginya, ketelitian dan perhatian terhadap detail dalam proses pemilihan, mulai dari pasar, adalah yang menciptakan jiwa khas "sup campur" kampung halaman kami. Harus dikatakan bahwa bahan-bahan untuk hidangan ini merupakan perpaduan artistik dari produk pertanian dan kehutanan lokal. Di tangan ibuku, ada kacang hijau yang lembut dan gurih, kacang tanah yang kaya rasa, dan biji teratai putih krem yang tersusun bersama rebung kering yang kenyal. Warna putih labu kuning yang lembut kontras dengan warna hitam pekat jamur kuping yang dicincang halus, dihiasi dengan jamur shiitake yang harum dan mi beras gulung. Dan, tentu saja, ada potongan-potongan daging perut babi segar yang diiris dengan teliti, dicampur dengan sedikit lemak babi yang kaya rasa. Inti dan jiwa dari hidangan ini terletak pada aroma harum bawang merah goreng, yang berpadu sempurna dengan saus ikan dan garam yang kaya rasa, menciptakan simfoni cita rasa yang familiar sekaligus baru, membangkitkan semua indra penikmatnya.
Saat api mulai bergemuruh, ibuku memulai proses penting dan sibuk itu. Tanpa terburu-buru, ia menambahkan setiap bahan ke dalam panci sesuai prosedur yang ketat, seolah-olah sedang melakukan ritual. Pertama, segenggam bawang merah kering dimasukkan ke dalam lemak babi panas, memenuhi dapur dengan aroma harumnya. Selanjutnya, irisan daging perut babi yang empuk dan berwarna merah muda, rebung kering yang diiris tipis dan lembut, kacang tanah rebus yang sudah dikupas, biji teratai putih yang lezat, dan jamur shiitake yang harum. Aroma yang kaya itu memenuhi dapur kecil sebelum ia dengan santai menambahkan kaldu dalam jumlah yang tepat. Terakhir, kacang hijau yang lembut dan creamy, labu siam yang menyegarkan, dan mi beras putih yang renyah ditambahkan terakhir, perlahan-lahan tercampur di bawah pengadukan terampilnya, menunggu saat yang tepat untuk memasaknya.
Setelah menunggu dengan santai di atas api yang redup, hidangan "berantakan" itu akhirnya matang. Ketika ibuku mengangkatnya dari kompor, uap panas mengepul, membawa aroma harum yang menyelimuti tangannya dan menyebar ke seluruh ruangan. Asap dapur yang masih tersisa bercampur dengan makanan yang mengepul, menciptakan pemandangan yang nyata sekaligus seperti mimpi. Ibuku dengan lembut menyendok hidangan itu ke dalam mangkuk, dengan hati-hati memastikan setiap mangkuk berisi keseimbangan sempurna dari tekstur kenyal mi beras dan rebung, rasa gurih kacang-kacangan, kacang tanah, dan biji teratai, kesegaran labu siam, lemak babi yang kaya dan perut babi yang berkilauan, aroma gurih jamur shiitake, dan berbagai rempah-rempah... Melihat uap putih yang mengepul dari mangkuk hidangan "berantakan" itu, tiba-tiba aku merasakan gelombang nostalgia, melihat semua perhatian dan kerja keras ibuku terangkum dalam hidangan sederhana ini.
Saat masih kecil, saya sering bertanya-tanya dan menanyakan hal ini kepada ibu saya:
Mengapa hidangan ini disebut "kacau" atau "campur aduk"?
Ibuku menatapku dan tersenyum lembut:
- Kamu akan mengerti saat kamu dewasa nanti.
Pertanyaan saya berkembang seiring berjalannya waktu, dan sekarang, setelah mengalami cukup banyak suka dan duka, saya mengerti mengapa hidangan itu disebut "ho lon" (campuran). Ibu saya menyebutnya "ho lon" bukan sembarangan, tetapi karena itu mencerminkan kasih sayang hatinya yang tak terbatas. Sama seperti panci "ho lon" yang dengan mudah menerima berbagai macam bahan dan kemudian membentuknya menjadi cita rasa yang harmonis dan kaya, ibu saya menggunakan kasih sayangnya untuk merangkul beragam kepribadian anak-anaknya, memelihara kekurangan menjadi rumah yang lengkap dan harmonis. Ternyata "kekacauan" ini adalah esensi kebersamaan, cita rasa tangan seorang wanita yang selalu tahu bagaimana mengubah hal-hal sederhana menjadi harta karun yang sakral. Dengan demikian, masakan ibu saya mengajarkan saya bahwa puncak kesempurnaan terkadang terletak pada hal-hal yang paling sederhana. Dan kekayaan terbesar dalam hidup seseorang adalah limpahan kasih sayang keluarga, yang ditemukan dalam hidangan lezat masakan rumahan yang dimasak oleh tangan ibu saya.
Sumber: https://baohungyen.vn/mon-lao-nhao-cua-me-3190452.html






Komentar (0)