Kerusakan besar
Tembakau saat ini merenggut lebih dari 8 juta nyawa setiap tahunnya di seluruh dunia, dengan sekitar 1,6 juta kematian disebabkan oleh perokok pasif. Selain kanker paru-paru, tembakau secara langsung terkait dengan penyakit kardiovaskular, stroke, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), infertilitas, dan berbagai gangguan kesehatan mental. Kerugian ekonomi global yang disebabkan oleh tembakau saat ini melebihi $1,4 triliun per tahun, setara dengan 1,8% dari PDB dunia. Lebih dari 80% beban ini ditanggung oleh negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Yang mengkhawatirkan para ahli saat ini adalah penyebaran nikotin yang cepat di kalangan anak muda melalui taktik "penambahan rasa" dan membangun citra produk sebagai ikon gaya hidup.
WHO melaporkan bahwa saat ini terdapat lebih dari 16.000 rasa berbeda yang digunakan dalam produk nikotin baru. Rasa-rasa ini membantu menutupi rasa nikotin yang menyengat, sehingga lebih mudah dan menarik untuk digunakan. Selain itu, perangkat merokok dirancang agar ringkas, seperti USB drive, headphone, atau aksesori elektronik, sehingga menciptakan kesan modern dan tidak terlalu mencurigakan. Banyak produk menggunakan garam nikotin atau nikotin sintetis dalam konsentrasi tinggi, menghasilkan hisapan yang lebih halus dan penyerapan nikotin yang lebih cepat ke dalam tubuh.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), nikotin dapat memengaruhi perkembangan otak pada remaja, mengganggu daya ingat, konsentrasi, dan pengendalian perilaku. Penggunaan nikotin sejak dini juga meningkatkan risiko ketergantungan pada zat adiktif lainnya di kemudian hari. WHO memperkirakan bahwa saat ini terdapat lebih dari 100 juta pengguna rokok elektronik di seluruh dunia, di mana setidaknya 15 juta di antaranya adalah anak-anak dan remaja berusia 13-15 tahun.
Lingkungan digital menjadi saluran pemasaran yang paling efektif untuk produk-produk ini. Sekitar 78% siswa berusia 13-15 tahun telah terpapar iklan, promosi, atau sponsor terkait tembakau dan nikotin di internet. Gambar-gambar berwarna di platform media sosial seringkali hanya menampilkan kemewahan dan individualitas, sementara hampir tidak pernah menyebutkan risiko kesehatannya.
Selain rokok elektrik, WHO juga memperingatkan tentang maraknya penggunaan kantong nikotin – produk tanpa asap dan tanpa bau yang dipromosikan sebagai pilihan yang “discreet” dan “aman”. Menurut laporan WHO terbaru, penjualan global kantong nikotin melebihi 23 miliar unit pada tahun 2024 dan terus tumbuh pesat. Namun, sekitar 160 negara saat ini belum memiliki peraturan khusus untuk jenis produk ini.
Banyak langkah manajemen yang kuat.
Menanggapi perkembangan pesat nikotin generasi berikutnya, banyak negara telah mengadopsi langkah-langkah regulasi yang ketat. Inggris Raya mengesahkan undang-undang yang melarang penjualan tembakau kepada mereka yang lahir pada tahun 2009 atau setelahnya dan melarang rokok elektrik sekali pakai. Belgia menjadi negara pertama di Uni Eropa (UE) yang sepenuhnya melarang vape sekali pakai. Australia hanya mengizinkan penjualan rokok elektrik di apotek dengan resep dokter, sementara Singapura dan Thailand terus mempertahankan sanksi ketat untuk penggunaannya.
Di Vietnam, angka perokok pria dewasa telah menurun secara signifikan selama dekade terakhir. Namun, negara ini masih memiliki sekitar 15,8 juta perokok dan lebih dari 40.000 kematian terkait tembakau setiap tahunnya. Kerugian ekonomi yang disebabkan oleh tembakau diperkirakan mencapai 108 triliun VND setiap tahun.
Menanggapi situasi ini, Majelis Nasional mengeluarkan Resolusi 173/2024/QH15, yang sepenuhnya melarang produksi, perdagangan, impor, transportasi, penyimpanan, dan penggunaan rokok elektronik dan produk tembakau yang dipanaskan mulai tahun 2025. Langkah ini sangat dipuji oleh WHO dalam upaya melindungi kesehatan masyarakat.
Hari Tanpa Tembakau Sedunia kini lebih dari sekadar kampanye kesadaran kesehatan; ini juga merupakan perjuangan melawan manipulasi persepsi. WHO menyerukan kepada negara-negara untuk meningkatkan pajak tembakau, melarang iklan dan rasa yang menarik bagi kaum muda, dan memperketat regulasi platform digital.
Keluarga, sekolah, dan masyarakat juga perlu menyadari bahwa rokok elektrik bukanlah sekadar alat teknologi yang tidak berbahaya atau simbol individualitas. Di balik uap yang harum dan desain yang trendi, terdapat nikotin yang berbahaya. Mengungkap "jebakan manis" ini merupakan bagian penting dari upaya untuk melindungi generasi mendatang.
THANH PHUONG
Sumber: https://baocantho.com.vn/ngay-the-gioi-khong-thuoc-la-chat-doc-nup-bong-a205943.html









Komentar (0)