Aku tak pernah menyangka bahwa memasuki pernikahan akan seperti menandatangani kontrak untuk menyerahkan hak atas hidupku kepada orang lain.
Di rumah ini, saya menyandang gelar istri dan ibu, tetapi kenyataannya, saya tidak berbeda dengan seorang penyewa yang harus meminta izin bahkan untuk hal-hal terkecil sekalipun.

Gambar ilustrasi, sumber: AI
Suami saya bekerja, tetapi gaji dan bonusnya langsung masuk ke rekening ibunya. Ibunya bilang dia akan menyimpannya untuk suami saya, karena kami masih muda dan kurang berpengalaman serta boros dalam pengeluaran.
Jadi setiap pagi, saya harus mengulurkan tangan untuk meminta uang untuk pergi ke pasar, dan kemudian di malam hari saya harus dengan teliti mencatat setiap ikat sayuran dan ikan agar dia "memeriksanya." Campur tangan ini tidak hanya berhenti pada uang; tetapi juga meluas ke cara saya mendidik anak saya. Jika saya berbicara dengan tegas kepada anak, dia langsung tampak membela dirinya.
Setiap kali aku curhat kepada suamiku, bukannya empati, yang kudapatkan hanyalah desahan yang sama. Dia menyuruhku untuk bersabar saja dengan ibuku demi kedamaian di rumah.
Kata-kata itu seperti obat bius, memaksa saya untuk tetap diam menghadapi semua absurditas itu. Dia tidak mengerti bahwa kesabaran tanpa batas sama saja dengan membiarkan kehancuran keluarga kecil ini.
Titik puncaknya terjadi bulan lalu. Untuk mempersiapkan anak saya masuk kelas satu, saya harus mengencangkan ikat pinggang, tidak berani membeli lipstik atau kemeja baru untuk diri sendiri selama enam bulan.
Namun, melalui pertanyaan dan penyelidikan para tetangga, saya menyadari dengan getir bahwa ibu mertua saya diam-diam telah menarik semua tabungan kami untuk melunasi hutang judi putranya dari pernikahan sebelumnya di kampung halamannya.
Hatiku terasa dingin. Aku telah berkorban dan bertahan demi apa yang disebut "bakti kepada orang tua," hanya untuk menerima pengkhianatan yang paling kejam sebagai balasannya. Ternyata, di mata ibu mertuaku, aku hanyalah alat kerja, dan di mata suamiku, kedamaian semu ibunya lebih penting daripada kebahagiaan sejati istri dan anak-anaknya.
Sumber: https://giadinh.suckhoedoisong.vn/nghet-tho-khi-me-chong-kiem-soat-chi-tieu-tung-mo-rau-con-ca-172260527212458983.htm








Komentar (0)