
Terletak di Dusun 4, Komune Chau Thanh, Provinsi Vinh Long , Pagoda Kompong Chray (juga dikenal sebagai Pagoda Hang) dibangun pada tahun 1637. Pagoda ini bukan hanya salah satu pagoda Khmer kuno di Vietnam Selatan, tetapi juga habitat bagi ribuan burung liar, menciptakan lanskap yang unik dan langka.

Terletak di area seluas kurang lebih 7 hektar, Pagoda Hang dikelilingi oleh pepohonan purba seperti Dipterocarpus, Shorea, bambu, dan spesies lainnya, menciptakan ekosistem hijau subur yang cocok bagi banyak spesies burung untuk hidup dan bersarang.

Setiap tahun, setelah bermigrasi untuk mencari makan, burung-burung kembali ke kuil untuk musim kawin (berangkat sekitar bulan lunar pertama dan kembali untuk bersarang sekitar sebulan sebelumnya), menutupi pohon-pohon asam di sekitar pekarangan dan menciptakan pemandangan yang semarak di tengah suasana tenang biara. Kawanan burung-burung ini, yang bersarang, berkembang biak, dan dilindungi sebagai bagian dari kehidupan spiritual, menciptakan lanskap yang unik dan langka.



Menurut dewan pengelola kuil, hanya beberapa tahun setelah Pagoda Hang dibangun, burung-burung liar mulai menetap di sana. Selama perang pada tahun 1960-an, kawanan burung tersebut secara bertahap pergi. Pada tahun 1990-an, burung-burung itu kembali, awalnya hanya beberapa lusin, kemudian meningkat menjadi ratusan, dan kadang-kadang mencapai puluhan ribu individu. Terlepas dari jumlahnya yang besar, burung-burung tersebut hidup berdampingan dengan cukup harmonis, dengan sedikit persaingan untuk habitat.

Bapak Son Ngoc Sia, seorang umat Buddha yang sudah lama menganut ajaran Buddha di kuil tersebut, mengatakan bahwa burung-burung itu hampir secara eksklusif bertengger di pepohonan yang mengelilingi halaman kuil, tidak mengganggu aula utama atau bangunan spiritual lainnya. Warga setempat juga sadar akan pentingnya melindungi burung-burung tersebut, dan segera melaporkan setiap kegiatan perburuan ilegal kepada pihak berwenang.

Ciri khas lain dari Pagoda Hang adalah gerbang masuknya, yang dirancang berbentuk gua dengan atap lengkung yang unik. Struktur ini terdiri dari dua gua kecil di kedua sisinya dan sebuah gua besar di tengah, menciptakan bentuk yang berbeda dari banyak pagoda Khmer lainnya di wilayah Delta Mekong. Karakteristik inilah yang menyebabkan penduduk setempat menyebutnya Pagoda Hang (Pagoda Gua).

Gerbang utama cukup kecil, cocok untuk pejalan kaki dan sepeda motor, sedangkan mobil harus menggunakan gerbang samping kuil.


Di sore hari, lantunan doa para biksu bergema di seluruh halaman kuil, bercampur dengan suara burung-burung yang kembali ke sarangnya, menciptakan suasana damai. Lebih dari sekadar tempat ibadah bagi masyarakat Khmer, Pagoda Hang juga melestarikan nilai-nilai sejarah, budaya, dan ekologi yang unik.

Pada Mei 2025, pagoda tersebut diakui sebagai peninggalan sejarah tingkat provinsi, yang semakin menegaskan nilai sebuah bangunan berusia lebih dari tiga abad di wilayah barat daya Vietnam.
Sumber: https://vietnamnet.vn/ngoi-co-tu-3-the-ky-la-mai-nha-cua-dan-chim-troi-2520388.html
Komentar (0)