

Rumah itu terletak di sebuah gang kecil di Kota Ho Chi Minh. Arsiteknya mendesainnya agar tak terbatas. Di mana pun pemilik rumah berdiri atau berjalan, mereka dapat mengamati area lain; setiap orang dapat saling melihat sekilas, saling mendengar, saling memanggil, dan saling memikirkan...



Meskipun lebarnya sempit, arsitek tetap mengalokasikan ruang yang cukup besar untuk halaman depan dengan fasad yang mencolok dan lapang yang terbuat dari batu bata berlubang. Dipadukan dengan rumpun bambu hijau yang tinggi di luar, ini menciptakan ruang terbuka yang langka tepat di depan rumah.




Interiornya dirancang dengan ruang terbuka dan tingkat yang bertingkat, membuat ruangan terasa lebih lapang dan luas. Jendela atap berfungsi untuk membawa cahaya dan udara ke lantai bawah. Melalui jendela atap, sinar matahari menyinari dinding-dinding tinggi di siang hari, menciptakan pergerakan waktu yang menarik.


Rumah itu dibangun menggunakan metode prefabrikasi; hanya dinding sekelilingnya yang dibangun, sedangkan sisanya merupakan rangkaian kayu, besi, papan gipsum, dan material lain yang saling terhubung.











Material yang digunakan bernuansa pedesaan dan alami: batu bata yang tidak dibakar untuk langit-langit, kayu yang hanya diberi minyak pelindung, papan semen yang tidak dicat, besi yang mempertahankan warna logam alaminya,... Ini mencerminkan konsep otentisitas: "Segalanya harus apa adanya, dalam sifat aslinya!"
Sumber: https://tienphong.vn/ngoi-nha-nhu-mot-thien-vien-binh-yen-post1846099.tpo









Komentar (0)