Saya teringat sebuah gambar dari masa-masa ketika Hanoi berjuang melawan pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu. Saat itu, saya berkesempatan menemani seorang pemimpin kota untuk memeriksa sebuah rumah kos di Gia Lam.

Di sebuah ruangan yang luasnya hanya beberapa puluh meter persegi, sekitar 10 pria tinggal berdesakan. Mereka adalah pekerja lepas, buruh kasar, pengemudi ojek, dan pekerja upahan dari berbagai provinsi yang datang ke Hanoi untuk mencari nafkah.

Karena kota itu berada dalam keadaan terkunci (lockdown), mereka harus tinggal di ruangan itu selama berhari-hari. Setelah mendengarkan cerita semua orang tentang kondisi hidup mereka, makanan, dan perjuangan untuk mencari nafkah, pemimpin kota itu keluar dan tiba-tiba berkata, "Rakyat mereka hidup dalam kesengsaraan yang begitu besar."

Pepatah itu selalu terngiang di benak saya sejak saat itu.

Saat ini, ketika para pemimpin mulai memandang perumahan sewa sebagai segmen strategis, saya menyadari bahwa di balik perdebatan tentang real estat, harga rumah, atau perencanaan kota, terdapat kisah jutaan orang yang tinggal di ruangan sempit dan miskin yang serupa.

Sebuah "kota kamar sewaan" di dalam Hanoi.

Hanoi saat ini memiliki pasar perumahan sewa yang sangat besar. Menurut para pemimpin kota, hampir 2 juta orang mungkin tinggal di akomodasi sewa, setara dengan sekitar seperempat populasi ibu kota. Ini termasuk pekerja pabrik, mahasiswa, pekerja migran, pekerja kantoran muda, dan keluarga yang belum mampu membeli rumah.

Mereka menciptakan "kota sewa" raksasa yang berdampingan dengan kawasan perkotaan baru di mana harga mencapai ratusan juta dong per meter persegi.

Kedua dunia ini hidup berdampingan di kota yang sama, namun akses terhadap perumahan sangat berbeda.

Pasar perumahan sewa telah ada sejak lama, terutama dibentuk oleh masyarakat sendiri, mulai dari deretan asrama pekerja di pinggiran kota, rumah-rumah kecil yang dibagi-bagi untuk disewakan kepada mahasiswa, hingga puluhan ribu apartemen mini yang bermunculan di kawasan perumahan.

Dengan kata lain, sebagian besar masalah perumahan di Hanoi bagi masyarakat berpenghasilan menengah dan rendah selama bertahun-tahun pada dasarnya telah diselesaikan terutama melalui "sumber daya sosial," atau "rakyat yang saling membantu."

Dengan harga perumahan yang terus meningkat lebih cepat daripada pendapatan dan program perumahan publik yang gagal memenuhi harapan, muncul pertanyaan lain: Apakah kepemilikan rumah benar-benar diperlukan agar orang dapat hidup nyaman di kota?