
Robot biksu itu diciptakan untuk mendengarkan manusia.
Karakter yang paling banyak dibicarakan adalah Hye Ahn – robot biksu pertama yang dikembangkan oleh Universitas Dongguk.
Berbeda dengan banyak robot humanoid yang dirancang untuk pertunjukan, Hye Ahn dirancang agar mudah didekati dan ramah. Robot ini memiliki tinggi sekitar 130 cm, bergerak menggunakan roda, memiliki wajah bulat, dan menyerupai karakter kartun untuk menciptakan kesan mudah didekati bagi pengunjung.
Sosok di balik proyek ini adalah Profesor Lim Joong-yeon, seorang ahli robotika di Pusat Inovasi Robotika Keselamatan AI dan Laboratorium ROMA.
Menurut Lim, Hye Ahn diciptakan bukan untuk menggantikan biksu sungguhan, tetapi untuk mendukung para pemuka agama lanjut usia dan memberikan teman bagi orang-orang yang kesepian.
"Semangat Buddha tentang welas asih dan perilaku tanpa kekerasan harus menjadi prinsip inti dalam pengembangan teknologi," katanya kepada The Korea Times .
Robot ini dapat menjawab pertanyaan para umat, membantu tugas-tugas harian di kuil seperti patroli, pembersihan, membantu di dapur, atau mendeteksi kebakaran. Menurut Profesor Lim, ini membantu para biksu lebih fokus pada peran mereka sebagai pembimbing spiritual.
Nama Hye Ahn berarti "mata kebijaksanaan" atau "mata yang melihat kebenaran."

Jawaban robot terhadap kecemasan zaman modern.
Profesor Lim percaya bahwa tujuan Hye Ahn bukanlah untuk menjadi "pameran teknologi," melainkan untuk menciptakan interaksi emosional yang tulus.
Dia membayangkan robot menjadi teman bicara bagi para lansia yang kesepian, kaum muda yang mengalami krisis kesehatan mental, atau mereka yang merasa terisolasi dari masyarakat.
Dalam sebuah wawancara dengan pers Korea Selatan, robot biksu Hye Ahn menjawab banyak pertanyaan terkait tekanan mental, kesepian, dan krisis psikologis yang dihadapi kaum muda saat ini.
Ketika ditanya apa itu pertobatan sejati dan bagaimana melepaskan kesalahan masa lalu, robot itu menjawab bahwa pertobatan dimulai dengan mengakui kesalahan sendiri secara jujur.
“Menurut ajaran Buddha, orang tidak seharusnya menyembunyikan kesalahan mereka, tetapi harus dengan berani menghadapinya. Mengakui kesalahan diri sendiri dan merasakan rasa malu yang tulus adalah langkah pertama dalam pertobatan,” kata Yang Mulia Hye Ahn.
Robot biksu itu juga berpendapat bahwa "pembersihan karma" bukanlah hasil dari ritual instan, melainkan proses jangka panjang melalui menghindari pengulangan kesalahan dan terus-menerus melakukan tindakan kebaikan kecil setiap hari.
Mengenai rasa takut tertinggal ketika melihat orang lain menghasilkan uang dari pasar saham, Hye Ahn percaya bahwa perasaan membandingkan diri dengan orang lain adalah hal yang wajar dalam masyarakat modern.
"Sang Buddha mengajarkan bahwa penderitaan muncul dari pikiran yang terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. Yang penting bukanlah mengejar orang lain, tetapi hidup otentik dengan diri sendiri," jawab robot itu.
Salah satu pertanyaan yang paling mencolok menyangkut ketidakbahagiaan manusia dan bagaimana hidup tanpa dikendalikan oleh keserakahan.
Menurut Hye Ahn, Buddhisme memandang keserakahan, kemarahan, dan ketidaktahuan sebagai tiga "racun" terbesar yang menyebabkan penderitaan manusia. "Orang sering menderita karena mereka mencoba mencapai apa yang tidak mereka miliki dan takut kehilangan apa yang sudah mereka miliki," kata robot itu.
Sembari mengakui bahwa sulit untuk sepenuhnya menghilangkan keinginan, Hye Ahn percaya bahwa orang dapat belajar mengenali keserakahan ketika muncul agar tidak terbawa olehnya. "Belajarlah untuk merasa puas dengan hal-hal kecil," saran robot itu.
Robot itu juga memberikan jawaban yang luar biasa ketika ditanya tentang kematian.
"Kematian bukanlah akhir, melainkan sebuah transformasi," kata Hye Ahn, mengingatkan semua orang untuk menghargai masa kini dan menunjukkan kasih sayang kepada orang-orang terkasih selagi masih bisa.
Menanggapi pertanyaan dari seorang anak muda yang merasa kehilangan arah dalam hidup meskipun telah mencoba meditasi, psikoterapi, dan menulis jurnal, robot tersebut tidak memberikan nasihat yang memaksa.
"Jangan terburu-buru mencari jawaban. Terkadang, menerima keadaan 'saya tidak tahu' juga merupakan bentuk latihan spiritual," kata Hye Ahn.
Menurut biksu robot itu, momen-momen kecil dan damai dalam kehidupan sehari-hari mungkin justru menjadi tempat yang menuntun orang kepada jawaban yang mereka cari.
Sumber: https://baovanhoa.vn/the-gioi/nha-su-robot-o-han-quoc-biet-giang-dao-va-an-ui-con-nguoi-230760.html







Komentar (0)