![]() |
Para pemain Jepang menunjukkan kemajuan yang luar biasa. |
Pernyataan ini cukup mengejutkan karena bahkan tim-tim yang secara tradisional kuat seperti Brasil, Jerman, atau Argentina biasanya menghindari terlalu banyak membicarakan tentang memenangkan kejuaraan sebelum turnamen dimulai. Yang lebih penting lagi adalah Jepang berada di grup yang dianggap sebagai "grup maut" bersama Belanda, Swedia, dan Tunisia. Namun, melihat perkembangan sepak bola Jepang selama bertahun-tahun, tim dari Negeri Matahari Terbit ini memiliki alasan untuk berpikir lebih besar. Satu-satunya masalah adalah Piala Dunia selalu menjadi tempat di mana garis antara kepercayaan diri dan rasa puas diri bisa sangat tipis.
Jepang berhak untuk bermimpi besar.
Sejak penampilan pertama mereka di Piala Dunia pada tahun 1998, Jepang telah menjadi salah satu perwakilan sepak bola Asia yang paling konsisten. Tidak seperti banyak tim yang kesuksesannya hanya datang dalam beberapa generasi, Jepang hampir menjadikan kualifikasi Piala Dunia sebagai hal yang rutin.
Yang lebih penting lagi, performa mereka terus meningkat dari waktu ke waktu. Dalam empat Piala Dunia terakhir, Jepang telah lolos dari babak penyisihan grup sebanyak tiga kali. Ini adalah prestasi yang jarang dicapai oleh tim-tim di luar Eropa dan Amerika Selatan. Tim ini juga menjadi perwakilan Asia pertama yang lolos dari babak penyisihan grup dalam dua Piala Dunia berturut-turut.
Sayangnya, Jepang selalu hampir mencetak sejarah. Pada tahun 2010, mereka kalah dari Paraguay melalui adu penalti. Di Piala Dunia 2018, Jepang unggul dua gol atas Belgia tetapi akhirnya menderita kekalahan menyakitkan 2-3. Kemudian, di Piala Dunia 2022, mereka tersingkir oleh Kroasia setelah adu penalti.
Tiga kekalahan itu secara tidak sengaja menunjukkan bahwa Jepang bukan lagi tim yang hanya datang ke Piala Dunia untuk belajar. Mereka sekarang mampu bersaing setara dengan rival-rival besar. Kepercayaan diri Jepang saat ini juga bukan sesuatu yang muncul secara spontan. Di Piala Dunia 2022, mereka mengejutkan dunia dengan mengalahkan Jerman dan Spanyol secara berturut-turut.
Selain itu, pertandingan persahabatan baru-baru ini terus membawa optimisme bagi para penggemar. Jepang sebelumnya mengalahkan Jerman 4-1 di Wolfsburg, mengalahkan Turki 4-2, dan kemudian menang melawan Inggris, Skotlandia, Brasil, dan Ghana.
Yang penting adalah Jepang tidak lagi memainkan gaya bertahan dengan menumpuk pemain dan menunggu serangan balik seperti dulu. Mereka memiliki banyak pemain yang bermain di Eropa, memiliki kontrol bola yang lebih baik, dan dapat beralih antara fase menyerang dan bertahan dengan sangat cepat.
![]() |
Jepang mengalahkan Inggris di Wembley. |
Jepang mungkin akan menanggung akibat dari rasa percaya diri yang berlebihan hingga mendekati delusi kebesaran.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Jepang dapat membidik babak lebih jauh dari babak 16 besar. Namun, Piala Dunia selalu berbeda dari pertandingan persahabatan.
Grup Jepang kali ini sama sekali tidak mudah. Belanda memiliki pengalaman dan skuad yang seimbang. Swedia selalu menjadi tim yang tangguh berkat kebugaran fisik dan disiplin taktis mereka. Tunisia, meskipun dianggap sebagai tim underdog, kuat dan mampu memenangkan perebutan bola.
Menariknya, Jepang seringkali tampil sangat baik melawan lawan yang lebih kuat tetapi kesulitan melawan tim yang memprioritaskan pragmatisme. Piala Dunia 2022 adalah contoh paling jelas. Di antara kemenangan melawan Jerman dan Spanyol, Jepang secara tak terduga kalah dari Kosta Rika, yang dianggap sebagai tim terlemah di grup mereka. Kekalahan itu hampir membuat mereka kehilangan segalanya.
Ini menunjukkan bahwa Jepang terkadang memaksimalkan kekuatannya ketika menjadi tim yang kurang diunggulkan dan harus mempelajari lawannya dengan cermat. Namun, mereka kesulitan ketika bermain sebagai tim favorit, melawan lawan yang belum banyak mereka kembangkan strateginya. Di Piala Dunia, banyak lawan yang tidak dikenal dan gaya bermain yang asing menanti Jepang.
Selain itu, menyatakan bahwa mereka akan memenangkan Piala Dunia juga dapat memberi tekanan pada tim. Sepak bola Jepang dikenal karena kerendahan hati dan kedisiplinannya. Menetapkan tujuan yang terlalu ambisius secara tidak sengaja dapat menciptakan tekanan psikologis yang tidak perlu.
Masalah lain adalah keputusan pelatih Moriyasu terkait susunan pemain. Kesediaannya untuk mencoret pemain berpengalaman seperti Kaoru Mitoma atau Takumi Minamino jika perlu dapat membahayakan keseimbangan tim. Mungkin Moriyasu terlalu percaya diri dengan taktiknya bahkan tanpa pemain-pemain andalannya.
Oleh karena itu, Piala Dunia 2026 akan menjadi ujian penting bagi sepak bola Jepang. Jika mereka melaju jauh, mereka dapat membuktikan bahwa mereka telah mencapai level baru. Tetapi jika mereka tersingkir lebih awal, orang-orang akan mempertanyakan apakah Jepang benar-benar memiliki kekuatan untuk menjadi penantang gelar atau hanya tetap menjadi tim yang sangat pandai menciptakan kejutan besar.
Sumber: https://znews.vn/nhat-ao-tuong-suc-manh-khi-muon-vo-dich-world-cup-post1652475.html









Komentar (0)