Ikan-ikan yang terdampar itu tergeletak miring di dalam keranjang, sisiknya yang berwarna tembaga berkilauan di bawah sinar matahari sore. Setiap spesies memiliki penampilan uniknya sendiri, bagian dari lanskap tanah kelahiran saya, dari musim hujan dan cerahnya yang tak terduga. Beberapa ikan ini direbus dengan kunyit, yang lain dipanggang di atas api unggun di tepi sawah, aromanya memenuhi rumpun bambu, asapnya bercampur dengan celoteh riang anak-anak. Sekalipun seseorang mencoba mencari hidangan-hidangan itu di kota, mereka tidak akan pernah bisa menangkap kembali cita rasa aslinya.
Setelah menangkap ikan, semua orang basah kuyup, wajah, tangan, dan kaki mereka tertutup lumpur. Tetapi tidak ada yang terburu-buru untuk pulang. Seluruh lapangan seperti taman bermain yang luas, tempat orang dewasa beristirahat di tepi rerumputan, sementara anak-anak saling mengejar di sawah yang retak, membiarkan sore berlalu perlahan, membiarkan matahari terbenam mewarnai rumpun bambu dengan warna merah, menyebar di atas air dan kepala-kepala kecil yang mengapung di atasnya.
Pedesaan masa lalu kini telah berubah menjadi sawah bertingkat untuk menanam tanaman. Kolam dan danau di desa saya jarang mengering, dan menangkap ikan telah menjadi kenangan indah, yang dikenang dalam cerita-cerita. Musim-musim riang di ladang menjadi semakin jarang. Tidak ada lagi yang duduk menunggu air surut, tidak ada lagi anak-anak desa yang bersorak ketika mereka menangkap ikan di lumpur tebal. Tawa riuh di ladang kini hanya tersisa dalam ingatan mereka yang hidup di masa polos yang telah berlalu seperti sinar matahari yang terlepas dari genggaman mereka.
Terkadang, ketika melewati sawah, aku merindukan perasaan mengarungi lumpur, bermain air di tengah tawa anak-anak, duduk di tepi sawah sambil memanggang ikan, menghirup aroma ikan bakar yang menggugah selera, dan air liurku menetes. Aku juga merindukan perasaan mengangkat keranjang dari genangan air, jantungku berdebar kencang, bertanya-tanya apakah ada ikan di dalamnya. Hal-hal sederhana ini mungkin tak terlupakan seumur hidup.
Kenangan menangkap ikan di ladang pedesaan adalah sumber nostalgia yang mendalam bagi saya, bagian dari masa kecil saya di tengah ladang yang luas dan tak terbatas, sekilas pandangan yang menyegarkan ke dalam kehidupan. Dan jika suatu hari kenangan itu kembali, saya berharap bisa menjadi anak desa itu lagi, tanpa alas kaki dan berlumpur, berlari melintasi ladang keemasan yang bermandikan sinar matahari sore, pulang ke rumah untuk menunjukkan kepada ibu saya hasil tangkapan saya yang masih hangat dan sedikit berbau amis…
Nhat Pham
Sumber: https://baolongan.vn/nho-thuo-tat-ca-dong-que-a200295.html







Komentar (0)