Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, Festival Hết Chá tetap hampir sepenuhnya melestarikan tradisi kunonya. Sejak pagi buta, tiang upacara didirikan dengan khidmat di alun-alun desa. Tiang tersebut dihiasi dengan kain berwarna cerah, karangan bunga, dan berbagai benda pahatan yang memiliki makna spiritual. Bagi masyarakat Thai Putih, tiang upacara tidak hanya menandai dimulainya festival tetapi juga berfungsi sebagai penghubung suci yang menghubungkan orang-orang dengan leluhur mereka.
![]() |
| Pertunjukan "Melatih kerbau untuk membajak sawah" di festival tersebut. |
![]() |
| Tarian rakyat Thailand ditampilkan dalam festival tersebut. |
![]() |
| Dukun tersebut melakukan persembahan ritual. |
Festival itu berlangsung pada hari reuni desa yang penuh sukacita. Senyum dan suara Ibu Luong Thi Loat (lahir tahun 1960, kawasan perumahan Na Ang) masih terngiang di benak saya: “Setiap kali ada festival, mereka yang tinggal jauh kembali. Semua orang bergandengan tangan dalam tarian lingkaran, duduk mengelilingi meja upacara, dan mengunjungi kerabat. Berpartisipasi dalam festival juga merupakan kembali ke akar kita, agar anak-anak dan cucu kita ingat bahwa kita adalah orang Thai. Selama adat istiadat tetap terjaga, desa pun tetap ada.”
Festival Hết Chá juga berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antar generasi di desa. Para tetua mengajarkan anak dan cucu mereka cara mendirikan tiang upacara, menyiapkan persembahan, dan melakukan ritual tradisional; kaum muda mempelajari setiap tarian dan lagu rakyat. Pelajaran tentang budaya ini tidak ditemukan dalam buku, tetapi diturunkan melalui tangan, mata, dan irama gendang yang semarak selama festival.
Sejak pagi buta di hari festival, desa itu bergema dengan suara gong dan gendang. Di tengah warna-warna cerah pakaian tradisional mereka, penduduk desa sibuk menyiapkan persembahan yang rumit untuk dipersembahkan dengan hormat kepada para dewa dan dukun. Persembahan tersebut meliputi: bebek rebus, ayam jantan rebus, babi, beras ketan putih, anggur, telur, kain tenun rapat, kain katun lokal, dan uang. Setiap nampan persembahan ditutupi dengan selembar kain persegi, sekitar 3 kilogram beras ketan, dua mangkuk penuh nasi, dua cincin perak, dua butir telur ayam segar, lilin lebah, dan bunga kapas. Di sampingnya terdapat anggur, cangkir, piring, dan lain-lain, untuk melakukan ritual.
Di depan tiang upacara, para dukun melakukan ritual untuk menyembah dewa bumi dan dewa-dewa lainnya, serta membawa persembahan bunga padi dan bunga bauhinia ke halaman utama. Di tengah kepulan asap dupa, orang-orang dengan hormat menyampaikan harapan dan keinginan mereka untuk kehidupan yang makmur dan desa yang damai.
Setelah upacara khidmat, dilanjutkan dengan festival yang meriah dan penuh warna, yang secara jelas menggambarkan kehidupan masyarakat Thailand pada masa awal pendirian desa dan pemukiman mereka. Pertunjukan rakyat yang sederhana namun riang membangkitkan ritme kerja yang akrab di dataran tinggi. Permainan mengumpulkan sayuran liar mengajak pengunjung bersama gadis-gadis Thailand yang anggun di tengah pegunungan dan perbukitan, bekerja dan menyanyikan lagu-lagu cinta yang meriah. Permainan menangkap ikan dan berburu menciptakan gambaran yang jelas tentang kerja keras di wilayah pegunungan.
Di sela-sela pertunjukan, terdapat tarian xòe Thailand yang anggun. Dengan rok hitam, selempang hijau, dan blus ketat, gadis-gadis Thailand bergerak lembut dan anggun mengikuti irama gendang dan gong. Bergandengan tangan, kaki bergerak berirama, lingkaran itu perlahan meluas, dan para turis, yang sedikit mabuk, mendapati diri mereka tertarik ke dalam tarian tanpa menyadarinya.
Sumber: https://www.qdnd.vn/van-hoa/doi-song/nho-ve-le-hoi-het-cha-1041417










Komentar (0)