Ayahku adalah seorang petani sederhana dan jujur, menghabiskan hari-harinya bekerja keras di ladang. Dia tidak pernah mengeluh, dan aku tidak pernah melihatnya meneteskan air mata. Dia sepertinya menekan semua kesulitan dan kesusahan untuk memastikan semuanya dilakukan dengan benar. Dia selalu menunjukkan kasih sayang dan perhatiannya kepada para wanita dalam keluarga dengan cara yang sangat istimewa – melalui surat-surat tulisan tangan yang terkadang membuatku iri.
Cinta ayahku kepada ibuku sepertinya tak lekang oleh waktu, karena setiap kali ibuku bersamanya, ia selalu merasa nyaman. Dua puluh lima tahun yang lalu, pada hari ayahku meninggalkan ketiga anaknya yang masih kecil bersama ibuku di kampung halaman mereka untuk pergi ke selatan mencari penghasilan yang lebih besar, saat itulah kami berempat saling bergantung satu sama lain di rumah kami yang beratap genteng. Saat hari-hari badai, air hujan akan merembes masuk, dan di tengah malam, ibuku akan mengeluarkan baskom untuk menampung air hujan agar aku dan saudara-saudaraku bisa tidur nyenyak.
Dulu, metode dan peralatan komunikasi tidak secanggih sekarang. Orang tua mengungkapkan kasih sayang mereka melalui surat tulisan tangan. Setiap kali tukang pos berdiri di gerbang, kami berempat akan makan malam lebih awal untuk membaca surat ayah saya. Di ranjang bambu yang reyot, saya akan berbaring di pangkuan ibu saya, sementara kedua kakak perempuan saya membaca kata-kata tulusnya di bawah cahaya lampu pijar yang berkedip-kedip. Baik surat itu panjang atau pendek, kalimat pertama yang dikirim ayah saya selalu: "Istri dan anak-anakku tersayang, aku merindukan kalian semua!...". Adegan itu terukir jelas dalam ingatan saya.
Setelah menerima surat itu, ibuku mengizinkanku menulis beberapa baris, meskipun agak canggung, untuk menulis surat kepada ayahku. Meskipun tahun-tahun telah berlalu, aku masih mengingat kata-kata itu dengan jelas: “Cuaca di sana panas dan cerah, Ayah, jagalah kesehatanmu. Jangan khawatir, Ibu dan kami berempat masih sehat, dan panen padi tahun ini melimpah. Kakak perempuanku yang tertua baru saja lulus ujian masuk SMA, dan aku adalah siswa berprestasi, Ayah, ingatlah untuk membelikanku hadiah…”
Waktu berlalu begitu cepat, dan ketika ayahku pulang, keluarga sangat gembira. Aku menyeret ranselnya ke dalam rumah, dan dia dengan cepat mengeluarkan mobil mainan kecil yang selalu kuinginkan. Di antara pakaian baru untuk kedua adikku dan syal untuk ibuku, ada surat-surat yang telah dia simpan dengan hati-hati di dalam kotak kayu. Kata-kata yang baru saja kutulis kini ada di tanganku. Saat membalik halaman, aku memperhatikan beberapa tulisannya buram. Ayahku berkata dengan tenang, "Hujan membasahinya..." Aku tertawa, "Ayah ceroboh sekali..." Ibuku, dengan air mata di matanya, bergegas ke kamarnya. Saat itu, aku masih naif dan belum sepenuhnya mengerti semuanya. Tapi sekarang, aku menyadari betapa ayahku telah menyembunyikan air matanya.
Di masa mudanya, ayahku sangat mencintai ibuku, dan di usia paruh baya, ia berbagi cinta itu dengan kedua kakak perempuanku. Dan sekarang, dengan rambutnya yang mulai beruban, kepala keluarga itu memeluk cucunya, yang ia sayangi seperti seorang putri. Melalui setiap tahapan hidupnya, terlepas dari kerutan yang bertambah dan lika-liku kehidupan, cinta ayahku tetap segar seperti di usia dua puluhan.
Seseorang pernah berkata, "Apa pun yang terjadi, seorang ayah tetaplah seorang ayah, dan kita harus mencintai dan menghargainya." Aku bisa pergi ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi ayahku, makan makanan yang belum pernah ia coba, tetapi untuk menjadi diriku yang sekarang, ia selalu menjadi sumber dukungan emosional yang kuat. Cinta adalah sebuah proses utuh yang terangkum dalam setiap tindakan dan isyarat, sekecil apa pun itu. Karena selama ayahku masih hidup, hidupku memiliki tempat untuk diandalkan; ketika ia tiada, semua suka duka kehidupan hanya menyisakan jalan pulang.
Saat bulan Juni tiba, di bawah rimbunnya tanaman labu hijau, sebuah rumah masih berdiri, mendengarkan matahari dan hujan, dan surat-surat diam-diam menabur benih kenangan.
Halo, para pemirsa setia! Musim ke-4, bertema "Ayah," resmi diluncurkan pada 27 Desember 2024, melalui empat platform media dan infrastruktur digital Radio dan Televisi serta Surat Kabar Binh Phuoc (BPTV), yang berjanji untuk menyampaikan kepada publik nilai-nilai indah dan suci dari kasih sayang seorang ayah. |
Sumber: https://baobinhphuoc.com.vn/news/19/173917/nhung-canh-thu-tinh-cha






Komentar (0)