
Model ekonomi baru ini tidak hanya membantu mereka mencapai kesejahteraan berkelanjutan di tanah air mereka, tetapi juga menciptakan titik balik terobosan bagi wajah pertanian lokal.
Titik balik yang mengubah hidup
Dahulu kala, keputusan untuk meninggalkan kota dan pindah ke pedesaan untuk beternak kambing atau berinvestasi pada pohon aprikot hias dianggap "gila" di mata banyak orang. Namun, justru tekad yang beralasan inilah yang menjadi landasan kokoh bagi perubahan haluan yang spektakuler.
Di komune Hoa Vang, Bapak Pham Phu Khanh, yang memulai karirnya sebagai pekerja konstruksi, telah membangun bisnis yang sukses dengan lebih dari 200 pohon aprikot dan 20 pohon ara kuno senilai miliaran VND. Pada akhir tahun 2024, beliau semakin mendiversifikasi mata pencahariannya dengan model peternakan luwak siklus tertutup yang mengikuti prinsip "menggunakan keuntungan jangka pendek untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang," sehingga keluarganya dapat memiliki rumah yang luas dan nyaman.
Demikian pula, Bapak Tran Van Phuc, yang memiliki pekerjaan tetap sebagai manajer pabrik garmen, memilih untuk kembali ke kampung halamannya untuk memulai bisnisnya sendiri. Dimulai dengan 5 ekor kambing indukan, ia belajar sendiri teknik-teknik melalui internet dan mengunjungi peternakan-peternakan besar untuk belajar. Kini, kawanan kambingnya telah berkembang menjadi ratusan ekor.

Di lahan pertanian seluas 500m² dengan lumbung dan 0,5ha lahan penggembalaan, ia menerapkan metode pertanian semi-intensif, memanfaatkan sumber makanan alami untuk mengoptimalkan biaya. Yang menarik, ia menjalankan model ekonomi sirkular: menggunakan kotoran hewan untuk membudidayakan cacing tanah sebagai pakan tambahan, sekaligus menjual kelebihan pupuk cacing. Pendekatan inovatif ini menghasilkan keuntungan lebih dari 300 juta VND setiap tahunnya, membuktikan bahwa pertanian dapat menjadi "profesi yang sedang tren" jika dikelola dengan benar.
Bahkan seorang petani berpengalaman seperti Bapak Doan Thanh Truong (komune Vu Gia) pun tak bisa lepas dari gelombang inovasi. Khawatir dengan ketidakstabilan model pertanian tradisional, beliau memutuskan untuk menginvestasikan ratusan juta dong untuk merenovasi kandang seluas 100m² untuk beternak tikus bambu. Dengan total ternak sebanyak 200-300 ekor, termasuk hampir 100 ekor untuk pembiakan, keluarganya memperoleh pendapatan ratusan juta dong setiap tahunnya dari penjualan ternak dan produk komersial. Bapak Truong telah mengubah hobinya menjadi model ekonomi yang terstruktur dengan baik, berkontribusi dalam menyebarkan metode pertanian yang efektif kepada puluhan rumah tangga.
Sebuah terobosan dengan pemikiran digital.
Di desa ukiran batu Dai Tan (komune Phu Thuan), Bapak Truong Anh Thinh berupaya melanjutkan perjalanan melestarikan kerajinan ini. Menghadapi risiko punahnya kerajinan tersebut, beliau mendirikan Koperasi Ukiran Batu, menciptakan lapangan kerja bagi puluhan pekerja muda. Tidak hanya mengamankan bahan baku sendiri, Bapak Thinh juga membawa "perangkat lesung dan alu batu" miliknya, yang telah meraih sertifikasi OCOP bintang 3, ke berbagai pameran dan pekan raya.

Secara khusus, ia membuat terobosan signifikan dengan menerapkan teknologi 3D dan AI pada desain, membantu produk mencapai kesempurnaan optimal sebelum produksi massal. Terlepas dari bantuan yang cukup besar dari mesin, ia tetap berkomitmen pada keyakinan bahwa: "Teknologi membimbing, tetapi esensi batu tetap terletak pada pengalaman, pemahaman budaya, dan tangan terampil pengrajin."
Yang membedakan Bapak Thinh, serta para "CEO akar rumput" yang disebutkan sebelumnya, adalah pola pikir mereka yang berbeda dari pendekatan "dari mulut ke mulut" konvensional. Mereka menjalankan bisnis menggunakan data, teknologi, dan wawasan pasar. Menurut Bapak Nguyen Ut, Wakil Ketua Asosiasi Petani Kota, pergeseran dari "produksi pertanian" ke "ekonomi pertanian" adalah kunci untuk membuka jalan menuju keberlanjutan.
Selain memberikan dukungan modal, asosiasi di semua tingkatan juga memainkan peran "pendukung" dengan menyelenggarakan 390 kursus pelatihan tentang pertanian digital dan keterkaitan rantai nilai untuk ribuan anggota. Pada tahun 2026, dengan ratusan koperasi dan asosiasi baru, lanskap pertanian Da Nang diharapkan akan membentuk rantai nilai yang terstruktur dengan baik.
Di balik ladang dan tambang batu ini, bukan hanya terdapat aspirasi untuk meraih kekayaan, tetapi juga bukti sebuah keyakinan: Petani benar-benar dapat berkembang di lahan mereka sendiri. Ketika pola pikir "berani berpikir, berani bertindak" dianut, setiap kebun dan sudut pedesaan akan menjadi ruang ideal untuk membangun kehidupan yang makmur.
Sumber: https://baodanang.vn/nhung-ceo-chan-dat-giu-dat-vung-ven-3340691.html









