
Data Opta, yang dikumpulkan dari setiap final Piala Dunia sejak 1966, menunjukkan bahwa sepak bola tidak berubah secara linier. Setiap era menyaksikan munculnya tren baru, yang pada gilirannya memunculkan tindakan balasan. Dari umpan panjang melambung hingga kombinasi umpan sabar melawan blok pertahanan rendah, Piala Dunia bagaikan buku sejarah mini tentang taktik sepak bola dunia.
Era umpan panjang dan Revolusi Brasil tahun 1970-an
Jika Anda menonton ulang final Piala Dunia 1966 antara Inggris dan Jerman Barat, banyak penonton saat ini mungkin akan terkejut dengan perbedaan tempo permainan yang sangat besar. Saat itu, 25% operan dari kedua tim memiliki panjang setidaknya 18 meter. Sebagai perbandingan, di Piala Dunia 2022, hanya satu pertandingan yang mencapai rasio serupa.
Pola pikir taktis saat itu sangat sederhana: kirim bola ke depan secepat mungkin. Statistik menunjukkan bahwa di Piala Dunia 1966, jarak yang ditempuh bola ke depan tujuh kali lebih jauh daripada jarak yang ditempuh bola ke belakang. Pada tahun 2022, rasio ini telah turun menjadi sekitar tiga kali lipat.
Di era permainan bola panjang, kemenangan Brasil di Piala Dunia 1970 muncul sebagai tim dari masa depan. Sementara sebagian besar lawan memprioritaskan umpan cepat ke depan, Brasil memainkan umpan pendek, mengalirkan bola, dan dengan sabar mencari ruang.
Kurang dari 10% umpan mereka berupa umpan panjang. Para gelandang bekerja sama erat, bek sayap ikut serta dalam serangan, dan tim mempertahankan struktur yang jelas alih-alih terpecah menjadi kelompok-kelompok terpisah.
Sepak Bola Total dan Era Pertahanan
Pada Piala Dunia 1974, tim Belanda yang diperkuat Rinus Michels dan Johan Cruyff telah membawa revolusi taktik ke tingkat yang baru. Sementara peta panas Piala Dunia 1966 menunjukkan lini tengah yang relatif kosong, pada akhir tahun 1970-an, sebagian besar aktivitas pertandingan terkonsentrasi di area ini.
Belanda tidak hanya memperluas peran gelandang tetapi juga melibatkan bek tengah dalam membangun serangan. Dari sinilah, gagasan mengontrol ruang melalui sistem umpan mulai menyebar ke seluruh dunia.
Seiring tim-tim semakin mahir mengendalikan lini tengah, sistem pertahanan pun berevolusi untuk melawannya. Pada tahun 1980-an, jebakan offside menjadi senjata taktis yang umum. Jumlah offside meningkat begitu drastis sehingga FIFA harus mengubah peraturan pada tahun 1990. Ini juga merupakan periode ketika sepak bola menjadi lebih pragmatis.
Piala Dunia 1990 rata-rata hanya mencetak 2,2 gol per pertandingan, penurunan signifikan dari 2,8 gol pada turnamen 1982. Setelah turnamen ini, FIFA melarang kiper menangkap umpan balik, menyebabkan jumlah umpan balik ke kiper menurun sekitar 70% hanya dalam satu Piala Dunia berikutnya.

Mulai dari permainan transisi hingga penguasaan bola dan menembus blok pertahanan rendah.
Dari tahun 1994 hingga 2006, Piala Dunia memasuki periode transisi dengan sistem pertahanan zonal 4-4-4 Arrigo Sacchi. Tim-tim terorganisir dengan ketat dan bergerak serempak. Akibatnya, tingkat akurasi umpan di Piala Dunia turun dari 82% pada tahun 1986 menjadi 76% pada tahun 2002. Sepak bola selama era ini sangat terkait dengan serangan balik berkecepatan tinggi dan umpan silang dari sayap.

Tim nasional Spanyol dari tahun 2008-2012 membawa penguasaan bola ke puncaknya. Di Piala Dunia 2010, mereka rata-rata melakukan 525 operan per pertandingan. Hanya 7,7% dari operan tersebut berupa operan panjang. Jeda antar operan hanya sekitar 2,5 detik. Spanyol sering melakukan operan untuk menarik seluruh tim mereka ke separuh lapangan lawan, sekaligus menciptakan peluang untuk melakukan tekanan balik segera setelah kehilangan penguasaan bola.

Piala Dunia 2022 sekali lagi menunjukkan bahwa sepak bola bergerak ke arah baru: menembus blok pertahanan rendah. Banyak tim menggunakan blok pertahanan menengah atau rendah dengan organisasi yang sangat tinggi. Akibatnya, hanya 16% pergerakan bola ke sepertiga akhir lapangan terjadi melalui tengah. Tim-tim mengincar sayap dan kemudian mengoper bola kembali ke lini kedua, menciptakan rata-rata 2,3 peluang per pertandingan.
Akibatnya, jarak tembakan rata-rata turun menjadi 16,4 meter, terendah dalam sejarah Piala Dunia, dengan 63% tembakan dilakukan di dalam area penalti.
Sumber: https://baovanhoa.vn/the-thao/nhung-chien-thuat-lam-thay-doi-lich-su-world-cup-235105.html



























































