Kodok gurun, katak monyet, semut panen, dan ikan teri dapat mengeluarkan zat halusinogen dalam racunnya yang melumpuhkan musuh-musuhnya.
Katak gurun Sonoran ( Incilius alvarius )
Habitat: Gurun Sonoran, Amerika Serikat bagian barat daya dan Meksiko bagian utara
Kodok gurun Sonora berukuran relatif besar. Foto: Wikimedia
Kodok gurun Sonoran, juga dikenal sebagai kodok Sungai Colorado, adalah salah satu spesies kodok terbesar di Amerika Utara. Kodok ini mengeluarkan enzim yang mengubah bufotenin, senyawa yang ditemukan di banyak spesies kodok lainnya, menjadi 5-MeO-DMT, halusinogen kuat yang terkait dengan zat psikoaktif DMT. Kodok gurun Sonoran menyemprotkan campuran beracun yang mengandung 5-MeO-DMT dari kelenjar parotis yang terletak di belakang setiap mata dan kelenjar di kakinya. Jika tertelan dalam jumlah besar oleh predator, racun tersebut dapat menyebabkan muntah, serangan jantung, dan bahkan kematian. Para ilmuwan masih belum yakin mengapa kodok gurun Sonoran menghasilkan 5-MeO-DMT. Ini adalah satu-satunya spesies kodok yang menghasilkan senyawa ini.
Katak monyet raksasa ( Phyllomedusa bicolor )
Habitat: Cekungan Amazon di Amerika Selatan
Katak monyet mengeluarkan senyawa yang disebut kambo, yang digunakan oleh dukun adat sebagai stimulan. Foto: Inaturalist
Para peneliti terpecah pendapat mengenai apakah kambo, racun yang dikeluarkan oleh katak kera raksasa, harus dianggap sebagai halusinogen. Di kalangan masyarakat adat di Amazon barat daya, sekresi kulit katak telah digunakan sebagai stimulan dalam ritual perdukunan selama berabad-abad. Kambo juga biasa dioleskan pada luka bakar kecil dan dangkal untuk meningkatkan daya tahan para pemburu.
Ketika predator mencoba memangsa katak, kambora dapat menyebabkan muntah, kejang, dan perubahan fungsi jantung. Para peneliti masih mencoba menguraikan senyawa khusus ini untuk menjelaskan efeknya, tetapi mereka tahu bahwa katak monyet menghasilkan total lebih dari 200 fragmen protein pendek yang dapat memengaruhi fungsi tubuh. Beberapa di antaranya memiliki potensi besar untuk penggunaan obat di masa depan.
Semut pemanen California ( Pogonomyrmex californicus )
Habitat: Amerika Serikat bagian barat daya dan Meksiko bagian utara
Penduduk asli California memakan semut panen sebagai bagian dari ritual keagamaan. Foto: Inaturalist
Bisa semut panen California terdiri dari enzim. Masyarakat adat di California tengah dulunya memakan semut ini dalam ritual keagamaan. Mereka akan menelan ratusan semut hidup dalam bola yang dililit dari bulu elang. Jelas, mereka akan tersengat dari dalam. Justin Schmidt, seorang ahli entomologi di Southwestern Institute for Biological Sciences dan University of Arizona, Tucson, mengatakan bahwa rasa sakit akibat banyak sengatan semut sekaligus, dikombinasikan dengan cuaca yang sangat dingin, puasa, dan kurang tidur dalam beberapa kasus, dapat menyebabkan halusinasi pada manusia.
Bisa dari seekor semut saja sudah cukup untuk membunuh seekor tikus. Seseorang bisa mati jika memakan 1.000 semut. Namun, beberapa hewan, seperti kadal bertanduk ( Phrynosoma solare ), memiliki lendir di mulut dan sistem pencernaannya yang memungkinkan mereka untuk memakan ratusan semut. Senyawa dalam darah mereka dapat menetralkan bisa tersebut.
Sarpa salpa
Habitat: laut beriklim sedang dan tropis dari pantai Atlantik Afrika hingga Laut Mediterania.
Ikan kembung. Foto: Flickr
Ikan mackerel dapat menyebabkan halusinasi visual dan auditori jika dikonsumsi, meskipun kasusnya jarang terjadi. Dua kasus keracunan ikan halusinogenik dilaporkan pada tahun 2006 dalam jurnal Clinical Toxicology. Dalam satu kasus, seorang pria memakan mackerel panggang dan mengalami halusinasi berupa binatang yang berteriak dan arthropoda raksasa yang merayap di sekitar mobilnya. Gejala tersebut menghilang sekitar 36 jam setelah pasien memakan ikan tersebut. Para peneliti masih belum yakin tentang senyawa yang menyebabkan keracunan tersebut. Ahli biologi evolusi Leo Smith dari Universitas Kansas, Lawrence, yang mempelajari sejarah dan diferensiasi ikan, mengatakan bahwa ia dan ilmuwan lain menduga senyawa tersebut merupakan produk sampingan dari makanan ikan tersebut.
An Khang (Menurut Berita Sains )
Tautan sumber






Komentar (0)