Uang muka untuk jual beli properti adalah ketika calon pembeli mentransfer uang muka (biasanya uang) kepada penjual (pihak yang berhak menggunakan tanah atau rumah) untuk mengamankan penandatanganan dan pelaksanaan perjanjian jual beli. Perjanjian uang muka dapat dipahami sebagai kontrak pendahuluan untuk memfasilitasi transaksi selanjutnya (penandatanganan perjanjian jual beli resmi). Oleh karena itu, beberapa faktor perlu dipertimbangkan ketika melakukan pembayaran uang muka.
Verifikasi legal atas rumah dan tanah tersebut.
Saat membeli rumah atau tanah, pilihlah yang memiliki dokumen legal lengkap, seperti sertifikat kepemilikan, untuk memastikan properti tersebut bebas dari sengketa kepemilikan, penyitaan untuk penegakan putusan pengadilan, hipotek, atau keputusan administratif oleh otoritas yang berwenang. Untuk keamanan tambahan, mintalah salinan Sertifikat Hak Penggunaan Tanah, Kepemilikan Rumah dan Aset Lain yang Melekat pada Tanah (dengan notarisasi terbaru) dari penjual.
Untuk menghindari risiko, pelanggan perlu melakukan riset menyeluruh terhadap properti sebelum melakukan pembayaran uang muka.
Setelah itu, pembeli harus langsung pergi ke Komite Rakyat setempat untuk meminta informasi serupa dan kemudian membandingkan apakah informasi dari kedua sumber tersebut cocok.
Verifikasi identitas pemilik rumah.
Pembeli perlu memverifikasi bahwa informasi pemilik rumah, seperti nama, foto, dan nomor identitas, sesuai dengan informasi pada sertifikat hak milik tanah. Harap berikan fotokopi sertifikat hak milik tanah dan dokumen legal lainnya dari pemilik rumah untuk verifikasi di pihak berwenang setempat guna menentukan secara akurat apakah pemilik rumah tersebut adalah pemilik yang sah.
Periksa apakah rumah tersebut tunduk pada pembatasan zonasi tertentu.
Informasi ini dapat diverifikasi di Departemen Manajemen Perkotaan atau departemen inspeksi perencanaan Komite Rakyat di distrik/kabupaten tempat properti tersebut berada.
Pelajari sejarah rumah tersebut.
Sejarah sebuah rumah mungkin tidak relevan secara hukum, tetapi secara langsung memengaruhi psikologi penghuninya dan likuiditasnya. Misalnya, jika seseorang meninggal di rumah tersebut karena perkelahian, bunuh diri, atau jika rumah tersebut dijual karena perceraian atau pembagian harta, penghuninya seringkali merasa tidak nyaman. Ini adalah pola pikir umum di kalangan pembeli rumah di Timur, yang menghargai aspek spiritual dan feng shui.
Jika Anda membeli rumah untuk ditinggali dan sama sekali tidak peduli dengan masalah-masalah ini, tidak apa-apa. Tetapi jika Anda berinvestasi untuk dijual kembali, pembeli berikutnya mungkin akan pilih-pilih, ragu-ragu, dan menolak. Banyak orang membeli rumah untuk dijual kembali, tetapi akhirnya membeli rumah tempat seseorang meninggal secara tragis. Ketika mereka menunjukkan rumah itu kepada calon pembeli, mereka mendengar tetangga bergosip, menyebabkan transaksi gagal.
Periksa ketentuan perjanjian deposit sebelum menandatangani.
Klausul-klausul yang diperlukan meliputi: informasi pribadi, alamat rumah, nomor kavling, nomor bidang tanah, peta lokasi, harga pembelian, angsuran pembayaran, tanggal penyerahan, pajak, biaya, dll. Bahkan kontrak uang muka pun memerlukan tanda tangan suami dan istri (jika penjual sudah menikah) untuk menghindari masalah.
Selain itu, pembeli rumah memerlukan tanda terima atau formulir otorisasi pembayaran dari bank setelah membayar penjual.
Ngoc Vy
Bermanfaat
Emosi
Kreatif
Unik
Kemarahan
Sumber







Komentar (0)