
Dalam kenangan masa kecilku, aku selalu melihat bayangan nenekku di dekat perapian saat musim hujan di masa lalu. (Gambar: Internet)
Dulu, kampung halaman saya miskin. Di musim kemarau, debu memenuhi udara, dan di musim hujan, jalanan tanah menjadi berlumpur, dan setelah beberapa langkah saja, lumpur menempel di kaki kami. Namun, kami anak-anak menyukai hujan. Begitu langit gelap, kami akan bergegas keluar ke halaman, saling mengejar di bawah aliran air yang mengalir dari atap. Nenek akan berdiri di beranda dan berteriak, "Masuk ke dalam, kalian bisa masuk angin!" Kami pura-pura tidak mendengar. Baru ketika Nenek keluar ke halaman dengan sapunya, kami semua berlari kembali ke dalam dengan panik. Nenek tidak memukul kami, dia hanya mengancam kami.
Saat memasuki rumah, semua orang menggigil kedinginan. Nenek mengambil handuk untuk mengeringkan rambutnya, menyalakan api, merebus sepanci air jahe panas, dan menyuruh mereka meminumnya untuk menghangatkan diri. Di dapur kecil, api yang berkedip-kedip menerangi wajah Nenek yang keriput. Di sampingnya ada sepanci ubi jalar yang dimasak sempurna, aromanya yang manis memenuhi seluruh rumah.
Pada hari-hari hujan, ladang-ladang tergenang air. Nenekku masih akan membungkuk di ladang yang berlumpur, tangannya bekerja tanpa lelah. Di malam hari, aku sering berdiri di beranda, menatap jalan berlumpur di tengah hujan, menunggunya pulang. Ketika aku melihat sosoknya berjalan tertatih-tatih, pakaiannya basah kuyup, bahunya yang kurus sedikit gemetar karena angin dingin, aku akan berlari keluar untuk menyambutnya. Nenekku hanya akan tersenyum lembut: "Tidak ada yang perlu ditunggu, Nenek sudah pulang."
Nenek jarang bercerita tentang hidupnya. Hanya pada malam-malam yang panjang dan hujan, ketika listrik padam dan seluruh keluarga berkumpul di sekitar lampu minyak, barulah ia perlahan-lahan menceritakan beberapa kisah lama. Kisah tentang tahun-tahun perang, gagal panen padi karena banjir, tahun-tahun kelaparan ketika mereka harus makan sayuran liar untuk makan…
Suatu malam, hujan turun deras. Angin menerpa atap jerami, menimbulkan suara gemerisik. Aku terbangun dan melihat nenekku masih duduk di dekat lampu minyak yang berkedip-kedip. Aku bertanya pelan, "Nenek, apakah Nenek belum tidur?" Setelah beberapa lama, ia menjawab, "Nenek tidak bisa tidur. Hujannya terlalu deras; Nenek takut atapnya bocor." Kemudian ia kembali terdiam. Belakangan, aku mengerti bahwa yang paling ia takuti bukanlah atap yang bocor, tetapi keluarga tidak akan memiliki cukup makanan setelah musim hujan yang panjang. Ada kesulitan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Kesulitan itu terpendam dalam suara hujan, dalam tatapannya yang jauh, dan dalam keheningan panjang seumur hidup.
Kasih sayang nenekku kepada cucu-cucunya tidak diungkapkan dengan kata-kata, tetapi dalam hal-hal sederhana sehari-hari. Setiap kali ada perayaan ulang tahun keluarga atau ketika semua cucu berkumpul, ia akan sibuk menyiapkan kue beras kukus sejak pagi buta. Tangan keriputnya dengan cekatan mengaduk adonan dan menuangkannya ke dalam cetakan di atas kompor kayu. Seluruh dapur dipenuhi aroma santan dan tepung beras yang dimasak, bercampur dengan kepulan asap tipis. Itu adalah kue paling lezat di masa kecilku, karena di dalamnya terkandung kasih sayang nenekku.
Nenekku menyayangi ayahku dengan caranya sendiri yang unik. Setiap kali dia marah pada ayahku karena sesuatu, dan seluruh keluarga mengundangnya makan malam, dia akan berpaling dan berkata, "Aku bahkan tidak akan makan emas!" Tapi dia mengatakan itu; orang yang paling dia cintai adalah ayahku. Ketika ayahku pulang larut malam dari kerja, dia akan begadang menunggunya. Ketika ayahku sakit, dia akan bergegas keluar untuk membeli obat. Suatu kali, ketika ayahku mabuk dan tergeletak di tempat tidur gantung, dia akan menggerutu sambil menyelimutinya dengan selimut lalu bergegas memasak bubur.
Nenekku meninggal dunia saat musim hujan. Pada hari kami memakamkannya, gerimis, persis seperti hari ini. Lapisan tipis hujan jatuh di jalan tanah dan di pundak orang-orang yang menghadiri pemakaman. Aku terus berjalan, merasa seolah kakiku hampir tidak bisa bergerak. Saat kerumunan menghilang di balik deretan pohon, aku hanya bisa berdiri diam, menatap sepetak tanah yang baru saja mengisi ruang bagi seseorang yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk anak-anak dan cucu-cucunya.
Setelah pemakaman, musim hujan berlanjut tahun itu. Hujan masih turun di atap tua, masih menyelimuti ladang dengan warna putih. Ayunan tempat Nenek berbaring masih ada, alat pengukus kue masih berada di sudut lemari. Hanya satu hal yang berubah: tidak ada yang berdiri di beranda memanggil cucu-cucu masuk ke dalam saat hujan, tidak ada yang begadang menunggu orang-orang terkasih pulang setelah seharian mencari nafkah…
Seiring bertambahnya usia, saya mengerti bahwa hal paling berharga yang ditinggalkan nenek saya bukanlah harta benda atau kekayaan materi. Yang terpenting adalah cara beliau mengajari anak-anak dan cucu-cucunya untuk berbelas kasih, menghargai beras yang diperoleh melalui kerja keras, dan hidup rukun dengan tetangga. Generasi beliau tidak memiliki banyak kesempatan untuk mengumpulkan kekayaan. Tahun-tahun perang, kemiskinan, dan kesulitan telah merenggut begitu banyak dari mereka. Nenek saya tidak meninggalkan rumah besar atau harta benda berharga. Tetapi beliau meninggalkan sesuatu yang jauh lebih abadi bagi anak-anak dan cucu-cucunya: kesabaran dalam menghadapi kesulitan, belas kasih kepada orang lain, dan pengorbanan tanpa pamrih yang tak perlu disebut-sebut.
Sekarang, setiap kali musim hujan kembali, aku merindukan nenekku. Aku ingat sosok kecilnya dari bertahun-tahun yang lalu, diam-diam melindungi keluarga kami. Nenekku telah tiada, tetapi ia tetap ada dalam ingatanku, di rumah kami, dan dalam kebaikan yang dihargai cucu-cucunya setiap hari.
MINH KHANG
Sumber: https://baoangiang.com.vn/nhung-mua-mua-co-noi-a490415.html









