Setelah pengumuman hasil ujian kelulusan SMA , banyak orang mengalihkan perhatian mereka kepada siswa-siswa berprestasi. Banyak sekolah menengah mengadakan upacara untuk menghormati dan merayakan siswa-siswa berprestasi. Media sosial juga dibanjiri pesan ucapan selamat dan kisah-kisah inspiratif tentang usaha dan kesuksesan. Ini adalah gambaran yang indah, sumber kebanggaan bagi keluarga, sekolah, dan masyarakat. Para teladan ini layak mendapat pengakuan karena mereka adalah hasil dari kerja keras dan tekad yang gigih.
Namun, di balik sorotan itu, ada ratusan ribu kandidat lain, terutama mereka yang mendapat nilai rendah atau yang belum memenuhi harapan. Para siswa ini hampir menghilang, tanpa disadari membuat kesedihan semakin berat. Kandidat-kandidat ini jarang disebutkan, padahal mereka paling membutuhkan dorongan dan bimbingan. Hal ini menimbulkan pertanyaan yang menggugah pikiran: Apakah kita terlalu fokus pada para pemenang dan melupakan mereka yang paling membutuhkan dorongan? Apakah kebijakan "pembelajaran tidak berfokus pada nilai" tetapi lebih pada penilaian kemampuan holistik siswa dapat diterapkan?

Bagi banyak siswa, nilai ujian telah menjadi ukuran harga diri mereka. Banyak siswa menghadapi tekanan dari keluarga, perbandingan dengan teman sebaya, dan komentar di media sosial. Ketika orang terus-menerus memuji nilai yang hampir sempurna, mengabaikan kisah kegagalan, ketekunan, dan kesempatan kedua, banyak siswa merasa bahwa hanya siswa berprestasi terbaik yang pantas mendapatkan perhatian sosial.
Pada kenyataannya, nilai rendah atau nilai yang jauh di bawah harapan tidak selalu mencerminkan kemalasan atau ketidakmampuan. Beberapa siswa harus bekerja sambil belajar untuk membantu menghidupi keluarga mereka. Yang lain mengalami krisis seperti penyakit keluarga, perceraian orang tua, atau kehancuran finansial tepat sebelum ujian. Beberapa siswa menderita tekanan psikologis yang berkepanjangan, insomnia, kecemasan, atau depresi. Ada juga siswa yang mungkin tidak unggul dalam mata pelajaran ujian tradisional tetapi memiliki bakat di bidang teknologi, seni, bisnis, atau profesi praktis... Setiap angka memiliki cerita di baliknya yang tidak dapat diceritakan oleh rapor.
Perlu dicatat bahwa ungkapan seperti "teruslah berusaha," atau "kamu akan lebih baik lain kali" terkadang hanyalah formalitas jika tidak disertai empati. Seorang siswa yang nilainya tidak memenuhi harapan, atau yang mendapat nilai rendah, tidak membutuhkan belas kasihan, melainkan bimbingan untuk memahami bahwa ada banyak jalan lain di depan: pelatihan kejuruan, kuliah, mengulang mata kuliah, mendapatkan pengalaman kerja, dan kemudian melanjutkan pendidikan mereka ketika keadaan memungkinkan. Kesuksesan tidak pernah dicapai hanya melalui satu jalan.
Dalam kehidupan, terdapat banyak kisah tentang orang-orang yang gagal ujian tetapi kemudian menemukan karier yang sesuai, anak muda yang mempelajari keahlian dan menjadi teknisi terampil, koki berbakat, pengusaha sukses, atau pekerja jujur yang memberikan kontribusi positif kepada masyarakat.
Setiap musim ujian selalu ada siswa berprestasi yang patut dirayakan, tetapi selalu ada juga siswa yang pulang ke rumah dengan kecewa. Yang paling dibutuhkan siswa-siswa ini adalah perspektif yang pengertian dan keyakinan bahwa satu ujian tidak dapat menentukan seluruh hidup mereka. Yang menentukan masa depan bukanlah hanya rapor, tetapi juga kemauan, ketekunan, dan kesempatan untuk terus maju.
Sumber: https://thanhnien.vn/nhung-thi-sinh-diem-chua-dat-nhu-ky-vong-185260703192029209.htm







