Negara untuk mobil
Harga bensin di AS telah melampaui angka $4 per galon yang secara psikologis signifikan di seluruh 50 negara bagian seiring dengan terus menyebarnya dampak perang Iran.
Amerika Serikat mungkin satu-satunya negara di mana fluktuasi harga bensin menjadi berita. Memantau harga bensin di SPBU adalah hobi khas Amerika dan sering kali memiliki nuansa politik .
Orang Amerika banyak mengemudi karena mereka harus melakukannya. Sistem jalan raya baru memungkinkan perjalanan mobil yang cepat di seluruh negeri, tetapi juga memperkuat tren desentralisasi populasi: Jika Anda dapat mengemudi ke mana saja, Anda tidak perlu tinggal di dekat apa pun.
Kehidupan kelas menengah Amerika terkait erat dengan kehidupan di pinggiran kota. Sementara itu, ketergantungan pada bensin murah secara psikologis terkait dengan mobilitas kelas menengah dan perluasan wilayah pinggiran kota.
Angka-angka
Harga bensin di AS jauh lebih murah daripada di Eropa, di mana pajak sangat tinggi. Selain itu, harganya juga paling murah jika dibandingkan dengan upah di antara beberapa negara besar.
Namun, harga yang relatif lebih rendah ini diimbangi oleh konsumsi orang Amerika yang jauh lebih tinggi. Rata-rata, seorang pengemudi Amerika mengonsumsi hampir 575 galon per tahun, sekitar tiga kali lebih banyak daripada rata-rata pengemudi di Jerman.
Oleh karena itu, indikator ini jauh lebih sensitif dan memiliki implikasi ekonomi yang lebih signifikan.
Dengan harga bensin $3 per galon—rata-rata sebelum perang Iran—tagihan bensin tahunan akan sekitar $1.725, atau $144 per bulan.
Jika harga bensin tetap pada rata-rata nasional saat ini sebesar $4,56, angka tersebut akan meningkat menjadi $2.622 per tahun, atau $219 per bulan.
Dengan demikian, perbedaan antara kedua pilihan tersebut sekitar $900 per pengemudi per tahun, yang merupakan hambatan ekonomi yang signifikan.
Namun, angka-angka tersebut tidak menceritakan keseluruhan cerita. Ciri khas unik Amerika adalah harga bensin ditampilkan secara publik di mana-mana. Orang Amerika sering menjumpai papan harga raksasa yang menyala.
Kehadiran dan perhatian yang terus-menerus seputar biaya bensin dan minyak membuat pengeluaran ini jauh lebih penting daripada pengeluaran lainnya. Sewa, premi asuransi kesehatan , dan tagihan belanjaan semuanya naik dan menarik perhatian publik, tetapi perubahan ini kurang mendapat penekanan.
Namun, harga bensin telah menjadi indikator konstan sentimen ekonomi. Jurnalis Amerika Ian Bogost menggambarkan papan harga di SPBU sebagai "kartu skor ekonomi yang ditempatkan beberapa blok terpisah" dan bahkan menyebut papan harga bensin sebagai "semacam kunci untuk memahami kehidupan Amerika."
Politik
Tidak mungkin membahas harga bensin tanpa menyebutkan aspek politiknya. Peristiwa yang memberikan karakter politik pada harga bensin adalah krisis minyak tahun 1970-an, yang tentu saja disebabkan oleh peristiwa di Timur Tengah.
Embargo minyak Arab tahun 1973 dan Revolusi Iran tahun 1979 menyebabkan kelangkaan bahan bakar dan distribusi yang terbatas di Amerika Serikat. Bahkan ada aturan plat nomor ganjil untuk menentukan siapa yang boleh membeli bensin pada hari-hari tertentu.
Peristiwa-peristiwa dahsyat di negara yang sangat bergantung pada mobil ini telah menabur kecemasan yang selalu ada tentang energi ke dalam politik Amerika.
Kenangan akan peristiwa-peristiwa itu masih bergema dalam retorika saat ini, terutama dalam konteks peristiwa-peristiwa terkini.
Jimmy Carter sering dikenang sebagai contoh klasik seorang presiden selama "krisis bensin." Namun, antrean panjang di SPBU juga dikaitkan dengan ketidakmampuan presiden.
Harga bensin tetap tinggi sepanjang masa kepresidenan George W. Bush. Pada tahun 2008, harga bahan bakar telah menjadi bagian penting dari debat pemilihan presiden AS.
Bahkan ada sidang kongres tentang harga energi dan slogan kampanye seperti "Bor minyak, bor minyak." Baik Barack Obama maupun Joe Biden menyaksikan kenaikan harga bensin yang sangat tinggi selama masa jabatan mereka.
Pendahulunya berkuasa selama lonjakan harga pasca-2011 setelah Musim Semi Arab, sementara yang terakhir berkuasa selama perang Rusia-Ukraina dan lonjakan permintaan setelah pandemi Covid-19.
Tren tersebut kini mungkin juga berlaku untuk Presiden Donald Trump. Sebuah jajak pendapat baru dari Fox News menunjukkan bahwa 58% responden menganggap biaya hidup sebagai kekhawatiran ekonomi utama mereka.
Kenaikan harga bensin hanya akan menambah kekhawatiran. Dengan peringkat persetujuan Trump secara keseluruhan yang sudah rendah, ini dapat menyebabkan masalah bagi Presiden dan Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu mendatang.
Hal ini semakin mengkhawatirkan mengingat sebagian besar pemilih Trump tinggal di daerah pedesaan, dan oleh karena itu sangat bergantung pada mobil.
Sumber: https://giaoducthoidai.vn/noi-am-anh-ky-la-cua-nuoc-my-post779483.html








Komentar (0)