
Terlahir dalam keluarga petani, dengan kehidupan yang erat kaitannya dengan ladang dan musim banjir, Nguyen Huu Quan (lahir tahun 1999, desa Dong Doai, komune Duc Quang) segera memutuskan bahwa ia perlu bekerja di luar negeri untuk mengumpulkan modal, sehingga ia dapat kembali ke kampung halamannya dan memulai bisnis ketika ia memiliki kesempatan.
Setelah kembali ke rumah dari bekerja di Jepang selama dua tahun, kekhawatiran pertamanya adalah menemukan pekerjaan yang stabil. Setelah banyak malam tanpa tidur karena berpikir, ia meneliti pasar dan memutuskan untuk memulai bisnis di kampung halamannya dengan beternak musang.

Pada awal tahun 2025, Bapak Quan mulai merenovasi kandangnya, berinvestasi dalam bibit ternak, dan mempelajari teknik perawatan musang dari komune lain di provinsi tersebut. Awalnya, karena kurang pengalaman, beliau menghadapi banyak kesulitan, mulai dari perawatan hingga pencegahan penyakit. "Saya belajar sambil jalan, terutama melalui model-model sukses di daerah lain dan menarik kesimpulan sendiri. Memelihara musang membutuhkan perhatian yang cermat, tetapi jika dilakukan dengan benar, hasilnya cukup stabil," ujar Bapak Quan.
Awalnya, untuk mendapatkan pengalaman dalam beternak hewan, Bapak Quan berinvestasi dalam beternak musang untuk diambil dagingnya, dan baru kemudian mengimpor musang betina dan jantan untuk dikembangbiakkan. Setelah hampir 12 bulan memelihara mereka, kawanan musang keluarganya kini berjumlah 60 ekor, berkembang dan beradaptasi dengan baik terhadap kondisi pertanian setempat, membuka arah pengembangan ekonomi baru bagi keluarganya.

Sistem kandang ternak dirancang secara ilmiah oleh Bapak Quan, memastikan pencahayaan, ventilasi, kehangatan di musim dingin, dan kesejukan di musim panas yang memadai.
Menurut Bapak Quan, beternak musang membutuhkan investasi awal yang tinggi untuk bibit. Setiap musang yang dibelinya untuk diambil dagingnya, dengan berat 0,5 kg, harganya 2,5 juta VND, sedangkan musang jantan untuk pembiakan harganya 30 juta VND per ekor. Namun, setelah satu tahun, musang akan mencapai berat 3-3,5 kg atau lebih, sehingga harga jualnya berlipat ganda. Selain itu, sumber makanan utama musang mudah didapatkan secara lokal, seperti pisang matang, dedak padi, dan ikan nila, sehingga perawatannya relatif mudah. Pada tahun 2026, setelah menjual musang-musang hasil ternakannya untuk diambil dagingnya, Bapak Quan berencana untuk memperluas kawanan musangnya menjadi 200-250 ekor.

Menurut Bapak Tran Xuan Thach, Wakil Ketua Komite Rakyat Komune Duc Quang, model peternakan musang yang dikembangkan Bapak Nguyen Huu Quan merupakan contoh nyata dari semangat berani dan inovatif kaum muda pedesaan.
“Ini adalah model baru, yang menjanjikan efisiensi ekonomi dan kesesuaian dengan kondisi lokal. Komune selalu mendorong kaum muda untuk berinvestasi dalam pembangunan ekonomi di kampung halaman mereka, sekaligus menciptakan kondisi agar model yang layak dapat direplikasi. Kami sedang melakukan survei lapangan untuk menilai kelayakan model dan untuk memahami pemikiran, aspirasi, dan kebutuhan masyarakat guna mengembangkan rencana dukungan dan solusi yang tepat,” tambah Bapak Thach.

Dalam konteks banyak pemuda pedesaan yang masih berjuang mencari jalan setelah kembali dari pasar kerja luar negeri, model peternakan musang yang digagas Nguyen Huu Quan tidak hanya menyediakan lapangan kerja bagi dirinya sendiri dan bertujuan untuk memperkaya keluarganya, tetapi juga berkontribusi pada diversifikasi ternak dan menciptakan arah pembangunan ekonomi baru bagi pemuda pedesaan di daerah yang sering terkena bencana alam.
Kisah kewirausahaan Nguyen Huu Quan bukan hanya bukti upayanya untuk mengatasi kesulitan, tetapi juga bukti semangat "pergi dan kembali" yang dimiliki banyak anak muda di daerah pedesaan yang rawan banjir. Berawal dari nol, dengan kemauan dan tekad yang kuat, ia telah dan terus mengejar mimpinya untuk membangun bisnis di kampung halamannya di Duc Quang.
Sumber: https://baohatinh.vn/nuoi-chon-huong-o-vung-ron-lu-post305554.html






Komentar (0)