![]() |
Martin Odegaard baru saja memberikan dua penampilan luar biasa melawan Brighton dan Aston Villa. |
Ketika gelandang Norwegia ini dalam performa terbaiknya, ia bukan hanya pengatur permainan dalam sistem Mikel Arteta, tetapi juga tolok ukur ambisi Arsenal untuk meraih gelar juara.
Ketika sang kapten kembali bernapas lega.
Ada paradoks menarik di Arsenal musim ini. Sementara Declan Rice dipuji sebagai simbol baru semangat juang, kapten resmi justru perlahan menghilang dari sorotan.
Cedera bahu dan lutut telah mengganggu ritme Martin Odegaard, membuatnya bermain tidak konsisten dan tidak mampu sepenuhnya menunjukkan kemampuan yang pernah menjadi ciri khasnya. Hal ini menimbulkan pertanyaan. Apakah sudah saatnya pergantian kapten?
Dua pertandingan melawan Brighton dan Aston Villa memberikan jawabannya. Melawan Brighton, Odegaard membuka skor dengan tembakan jarak jauh yang keras, sebuah gol yang lebih merupakan sebuah kelegaan daripada sekadar gol teknis. Dan dalam kemenangan 4-1 atas Villa pada pagi hari tanggal 31 Desember, Arsenal memainkan sepak bola yang mencekik lawan mereka, dengan setiap gerakan tampaknya diatur oleh kapten mereka.
Kehadiran Odegaard tidak terbatas pada sentuhan akhir. Dia mendikte tempo permainan, meminta bola di setiap momen krusial.
Ketika rekan setimnya menguasai bola, Odegaard terus-menerus menunjuk, meregangkan pertahanan lawan. Pada satu titik menjelang akhir pertandingan, Arsenal tampak bermain sepak bola menggunakan sinyal non-verbal, dan Odegaard adalah orang yang memegang peta tersebut.
![]() |
Saat rekan setimnya menguasai bola, Odegaard terus-menerus memberi isyarat, meregangkan pertahanan lawan. |
Gol kedua melawan Villa menggambarkan dengan sempurna kebangkitan ini. Odegaard melakukan tekel di lini tengah, sebuah keterampilan yang sebelumnya dianggap sebagai kelemahan.
Dari situ, gelandang Norwegia itu langsung melaju ke tengah, lalu memberikan umpan terobosan yang brilian kepada Martin Zubimendi. Itu adalah pergerakan yang merangkum dua aspek gaya bermain Odegaard saat ini: agresif tanpa bola dan halus saat menguasai bola.
Angka-angka tidak bohong. Melawan Villa, Odegaard adalah pemain Arsenal dengan jumlah tembakan terbanyak, sentuhan terbanyak di sepertiga akhir lapangan, dan umpan-umpan pressing terbanyak. Dia juga memenangkan duel terbanyak dan merebut bola lebih sering daripada pemain lain.
Di musim Liga Premier ini, Odegaard rata-rata melakukan lebih dari 2,5 umpan kunci per pertandingan, dengan tingkat akurasi umpan lebih dari 88% dan lebih dari 7 kali merebut bola. Dia bukan lagi sekadar gelandang serang murni, tetapi gelandang yang komplet.
Evolusi lini tengah Arsenal
Kembalinya Odegaard bertepatan dengan perubahan besar dalam struktur lini tengah Arsenal. Kedatangan Martin Zubimendi memungkinkan fleksibilitas yang lebih besar dalam distribusi peran defensif.
Zubimendi mengatur tempo dari belakang, tetapi dia tidak lagi diam di tempat. Dia bersedia maju ke depan, siap menembus area penalti. Sebaliknya, Odegaard mundur lebih dalam untuk mengatur dan memulai tekanan.
![]() |
Di musim Liga Premier ini, Odegaard rata-rata melakukan lebih dari 2,5 umpan kunci per pertandingan, dengan tingkat akurasi umpan lebih dari 88% dan lebih dari 7 kali merebut bola kembali. |
Pada gol kedua melawan Villa, garis antara "gelandang bertahan" dan "gelandang menyerang" hampir kabur. Odegaard merebut bola, dan Zubimendi menyelesaikannya. Ini adalah sesuatu yang jarang dicapai Arsenal di musim-musim sebelumnya, ketika peran masing-masing gelandang cukup kaku.
Fleksibilitas ini membuat Arsenal lebih sulit diprediksi. Mereka menciptakan tekanan intens di lini tengah, memaksa lawan untuk melakukan umpan-umpan terburu-buru.
Setelah merebut kembali penguasaan bola, Arsenal langsung melancarkan serangan balik berkecepatan tinggi. Dalam serangan balik ini, Odegaard adalah orang pertama yang mengambil keputusan, menentukan arah serangan dan ritme seluruh tim.
Dampak Odegaard juga terlihat jelas dalam kisah Eberechi Eze. Pemain yang didatangkan dengan harga £60 juta ini diharapkan dapat menciptakan persaingan ketat untuk posisi nomor 10. Namun, sejak Odegaard mencapai kebugaran puncak awal bulan ini, Eze hampir menghilang dari susunan pemain inti.
Dalam tiga putaran terakhir Liga Premier, gelandang Inggris itu belum bermain satu menit pun. Pesannya jelas: ketika Odegaard fit, tidak ada yang bisa menggantikannya.
Keyakinan itu bukan hanya berasal dari Arteta. Sebelum musim dimulai, ruang ganti Arsenal melakukan pemungutan suara untuk memilih kapten. Odegaard menang telak. Arteta menggambarkannya sebagai kemenangan "sejauh satu mil".
Oleh karena itu, seruan untuk pergantian kapten hanya ada di luar gerbang tempat latihan. Di dalam, Odegaard tidak pernah kehilangan posisinya.
Dalam konteks persaingan perebutan gelar yang semakin sengit, performa Odegaard sangat penting. Ketika gelandang Norwegia ini bermain dengan potensi penuhnya, Arsenal tidak hanya menang, tetapi menang seperti kandidat juara. Mereka tidak lagi bergantung pada momen-momen individual, tetapi beroperasi seperti mesin yang terorganisir, di mana setiap umpan memiliki tujuan.
Arsenal mengirimkan banyak pesan dalam kemenangan mereka atas Aston Villa. Tetapi pesan terkuat datang dari gambar Odegaard yang berdiri di tengah lapangan, mengarahkan dengan tangannya, matanya terus mencari ruang. Itu adalah gambar seorang kapten yang kembali di waktu yang tepat. Dan dengan Odegaard seperti itu, mimpi besar The Gunners bukan lagi mimpi yang jauh.
Sumber: https://znews.vn/odegaard-xung-danh-thu-linh-cua-arsenal-post1615670.html










Komentar (0)