Apa itu volatilitas?
Dalam konteks manajemen, "volatilitas" sering dikaitkan dengan perubahan mendadak dan tak terduga yang berasal dari geopolitik , pasar (harga, inflasi, nilai tukar, rantai pasok), kebijakan, krisis ESG, hingga perilaku pelanggan atau inovasi teknologi... Namun, jika kita melihatnya dalam ruang yang lebih luas dan jangka waktu yang lebih panjang, kita dapat melihat bahwa volatilitas bukanlah pengecualian, melainkan aturan umum. Volatilitas bukan hanya disebabkan oleh "kecelakaan" tetapi berasal dari realitas yang terus berubah dan terus bergerak.
Mengelola fluktuasi dan berupaya mengatasi kesulitan, Petrovietnam telah melampaui banyak target produksi dan bisnis serta mencetak banyak rekor baru. Foto: Petrovietnam
Persimpangan antara filsafat - sains - agama
Bahkan sejak zaman dahulu, filsuf ternama Heraklitus adalah orang pertama yang menyebutkan ketidakkekalan dengan pepatah: "Panta rhei" (semuanya mengalir). Menurutnya, tidak ada yang konstan, semuanya selalu berubah, "tak seorang pun dapat melangkah dua kali ke dalam arus yang sama".
Para klasik Marxisme-Leninisme menunjukkan bahwa gerak adalah sifat inheren, suatu cara eksistensi materi. Segala sesuatu di dunia material selalu bergerak, mulai dari perubahan posisi sederhana hingga proses berpikir. Gerak ini abadi, dengan kecenderungan menuju "negasi dari negasi" - sebuah hukum universal perkembangan alam, sejarah, dan pemikiran. Karl Marx dan Friedrich Engels menekankan bahwa hukum ini mencerminkan jalur objektif perkembangan berbagai hal dan fenomena.
Tak hanya filsafat, sains juga menegaskan perubahan semua fenomena. Lebih lanjut, sains juga membuktikan kesamaan persepsi agama tentang hakikat nama dan rupa sebagai perubahan. Dengan kata lain, filsafat, sains, dan agama bertemu dalam persepsi: perubahan adalah hakikat realitas. Segala sesuatu yang kita anggap "nyata" hanya ada sementara, tidak terikat dalam hubungan sebab akibat, atau prinsip "asal mula yang saling bergantung" dalam Buddhisme. Sebagaimana filsafat Marxis-Leninis mengungkapkan: "ada apa adanya, tetapi bukan apa adanya", untuk menunjukkan pergerakan segala sesuatu yang konstan.
Dari perspektif agama, khususnya Buddhisme, perubahan dikaitkan dengan ketidakkekalan (anicca), sebagai kebenaran universal. Buddhisme menganggap ketidakkekalan sebagai salah satu dari tiga karakteristik dasar semua fenomena yang terkondisi. Dari wawasan dan realisasi makhluk-makhluk yang tercerahkan, Buddhisme menegaskan bahwa segala sesuatu yang lahir berubah dan binasa; tidak ada yang dapat eksis selamanya; semua kesadaran (nama) dan materi (wujud) tunduk pada ketidakkekalan. Artinya, perubahan bukanlah sesuatu yang "abnormal", melainkan "jelas", dan merupakan hakikatnya.
Mengelola perubahan: sebuah paradoks atau sebuah kebutuhan?
Begitu kita mengakui bahwa perubahan adalah suatu bentuk ketidakkekalan, sebuah paradoks muncul: Bagaimana kita bisa mengelola sesuatu yang pada dasarnya tak terkendali, tak terduga, dan tak berubah? Pertanyaan ini tidak hanya filosofis, tetapi juga epistemologis dan praktis dalam manajemen.
Dalam organisasi, tak seorang pun dapat sepenuhnya "mengendalikan" fluktuasi, baik internal maupun eksternal, akibat perubahan konteks, faktor pasar, atau perubahan teknologi yang cepat. Tak seorang pun dapat memprediksi risiko angsa hitam dan angsa abu-abu yang muncul lebih sering dari sebelumnya, seperti pandemi Covid-19, krisis geopolitik, konflik bersenjata tradisional dan non-tradisional, bencana alam... Pertanyaannya adalah: Jadi, apa yang bisa dikelola?
Realitas yang fluktuatif, yang ditandai dengan "perubahan, perubahan, dan perubahan" di segala aspek kehidupan, memaksa teori-teori manajemen modern untuk menyesuaikan diri dan beralih ke tujuan yang lebih praktis dan ilmiah: manajemen tujuan dalam konteks yang fluktuatif, yang juga merupakan inti dari "manajemen volatilitas". Faktanya, kita tidak dapat dan tidak bertujuan untuk mengelola volatilitas itu sendiri, karena volatilitas merupakan elemen alam dan masyarakat yang tak terelakkan, di mana konteksnya selalu di luar kendali, bahkan psikologi dan emosi manusia pun tidak kekal. Yang dapat dilakukan adalah mengelola kesadaran, sikap, respons, dan strategi untuk beradaptasi, mengatasi, dan bergerak menuju tujuan.
Menurut Dr. Le Manh Hung, Ketua Dewan Direksi Petrovietnam, mengelola fluktuasi berarti mengelola kondisi batas untuk mengelola tujuan perencanaan dalam konteks perubahan yang cepat dan tak terduga. Pendekatan ini mensyaratkan: (i) fleksibilitas dalam perencanaan dan pelaksanaan rencana; (ii) selalu mengidentifikasi faktor-faktor kunci dan tingkat dampak pada setiap tujuan untuk mendapatkan solusi respons yang tepat; (iii) berfokus pada kemampuan untuk merespons dengan cepat dan memadai, alih-alih hanya mengandalkan prediksi; (iv) membangun tim yang memenuhi persyaratan; (v) model tata kelola organisasi yang tepat, desentralisasi untuk mempersingkat waktu respons dan pengambilan keputusan.
Dalam konteks perubahan yang semakin cepat dan tak terduga, bisnis perlu menerapkan strategi "respons fleksibel". Implementasinya membutuhkan: (i) membagi tujuan ke dalam segmen-segmen yang mudah dikelola; (ii) pemantauan, pelacakan, dan umpan balik yang berkelanjutan; (iii) menerima perubahan sebagai bagian yang tak terelakkan dan objektif; (iv) menghindari "bertaruh" pada rencana yang tidak berubah; (v) menerima risiko yang terkendali.
Dapat dilihat bahwa persinggungan antara sains, filsafat, dan agama dalam kategori yang disebut "Dharma" oleh Buddhisme, menunjukkan perspektif baru: perubahan adalah manifestasi dari ketidakkekalan, bukan hanya perubahan di permukaan tetapi juga hakikat realitas yang mendalam. Hal ini menimbulkan persyaratan objektif dalam manajemen, atau dengan kata lain, manajemen perubahan yang tak terelakkan.
Pabrik-pabrik Petrovietnam selalu dioptimalkan untuk kapasitas dan kinerja dengan ketersediaan tinggi. Foto: Petrovietnam
Implikasi dalam manajemen
Dari analisis di atas, kita dapat memperjelas arti "manajemen perubahan". Artinya, kemampuan untuk menetapkan, mengejar, dan mengimplementasikan tujuan secara fleksibel dalam konteks yang selalu berubah, cepat, dan tak terduga, tanpa "terjebak" dalam pemikiran atau model lama yang dianggap tidak dapat diubah.
"Mengelola perubahan" bukanlah ilusi mengendalikan semua perubahan dan fluktuasi yang terjadi dalam produksi dan bisnis khususnya, dan dunia nyata secara umum, melainkan proses mengidentifikasi, merespons, dan beradaptasi melalui kemampuan mengendalikan kondisi batas, guna memastikan tercapainya tujuan keseluruhan dalam menerima perubahan lingkungan. Dapat dikatakan bahwa perubahan adalah sebuah gelombang, dan manajemen adalah seni berselancar, bukan mencegah atau memadamkan gelombang tersebut.
Dari perspektif ontologis, perubahan merupakan sifat inheren suatu fenomena dan tidak dapat dicegah. Menyadari hal ini membantu kita untuk lebih terbuka terhadap perubahan, untuk memahami bahwa mengelola perubahan bukanlah formalitas atau slogan, melainkan sebuah kebutuhan objektif, kebutuhan nyata semua pihak, mulai dari individu, organisasi, bangsa, hingga kemanusiaan.
“Mengelola fluktuasi adalah mengelola kondisi batas untuk mengelola tujuan perencanaan dalam konteks perubahan yang cepat dan tidak dapat diprediksi.” Dr. Le Manh Hung, Ketua Dewan Direksi Petrovietnam |
---|
Sumber: https://daibieunhandan.vn/quan-tri-bien-dong-tu-goc-nhin-ban-the-luan-10378586.html
Komentar (0)