Pesan yang jelas tentang tindakan dan tanggung jawab.
Poin terpenting dalam pidato Sekretaris Jenderal dan Presiden pada konferensi ini terletak bukan hanya pada persyaratan untuk memahami resolusi secara menyeluruh, tetapi juga pada semangat pergeseran yang kuat dari kesadaran menuju implementasi. Ini adalah tuntutan yang sepenuhnya tepat dalam konteks saat ini. Setelah peristiwa-peristiwa besar: Kongres Nasional ke-14, pemilihan anggota Majelis Nasional ke-16 dan Dewan Rakyat di semua tingkatan, dan fase pertama Sidang Pertama Majelis Nasional ke-16, negara kita telah memperoleh landasan politik dan kelembagaan yang penting untuk tahap pembangunan baru. Seperti yang dikatakan Sekretaris Jenderal dan Presiden, "pedoman dan arahnya jelas dan koheren," dan "struktur dan organisasi, terutama dalam hal personel, dari seluruh sistem politik pada dasarnya sudah lengkap." Oleh karena itu, "tugas kita sekarang adalah untuk melakukan dan melakukannya dengan benar, untuk melakukannya secara tegas dan efektif."

Pesan itu memuat tuntutan politik yang sangat signifikan. Suatu negara tidak dapat memasuki era baru hanya melalui resolusi yang benar. Sistem politik tidak dapat membangun kepercayaan sosial hanya melalui penegasan tekad semata. Yang diharapkan oleh para pemilih dan rakyat adalah efektivitas nyata dari implementasi. Pernyataan Sekretaris Jenderal dan Presiden membawa pesan tindakan dan tanggung jawab yang sangat jelas: resolusi tersebut harus diimplementasikan "secara tegas, serentak, efektif, dengan fokus pada area-area kunci," menciptakan "perubahan yang jelas" di seluruh sistem politik, dan yang lebih penting lagi, menjadikan perubahan-perubahan tersebut "menyebar sebagai kekuatan pendorong pembangunan di seluruh masyarakat."
Pidato tersebut menjadi sangat penting ketika Sekretaris Jenderal dan Presiden menekankan: "Peraturan Partai adalah lembaga penting yang memastikan bahwa Partai kita beroperasi sebagai satu blok yang bersatu dalam seluruh sistem politik." Hal ini jelas menunjukkan kebutuhan yang konsisten pada periode saat ini: untuk berkembang lebih cepat, kita harus terlebih dahulu beroperasi lebih bersatu; untuk mencapai tujuan besar, kita harus terlebih dahulu menjaga prinsip, disiplin, ketertiban, dan sinkronisasi dalam bertindak.
Patut juga dicatat bahwa pidato Sekretaris Jenderal dan Presiden tidak hanya membahas perlunya menjaga disiplin di dalam Partai, tetapi juga mengaitkan disiplin tersebut dengan kapasitas pembangunan bangsa. Ini adalah perspektif yang sangat modern. Pada periode ketika negara menghadapi tuntutan yang sangat tinggi, sangat baru, dan sangat signifikan, hal ini sangat penting.
Mulai dari alokasi sumber daya hingga penciptaan sumber daya, kepemimpinan, dan pengaktifan.
Pidato tersebut juga menyoroti poin penting: pergeseran mendasar dalam pola pikir pembangunan. Sekretaris Jenderal dan Presiden menunjukkan bahwa selama ini, di banyak tempat dan di banyak tingkatan, terdapat pola pikir pembangunan yang terutama didasarkan pada sumber daya yang ada, mengandalkan anggaran negara, lahan, dan investasi publik sebagai pilar utama. Dan yang perlu diubah bukanlah hanya struktur modal, tetapi "transformasi mendasar dari pola pikir pembangunan dari alokasi sumber daya menjadi menciptakan, memimpin, dan mengaktifkan sumber daya."
Ini merupakan pergeseran dalam pemikiran tata kelola nasional. Ketika Negara diposisikan dengan tepat dalam perannya sebagai fasilitator, ketika modal negara dipandang sebagai modal awal dan modal penggerak, dan ketika aliran modal sosial dibuka dan dihubungkan ke arah yang benar, dorongan untuk pembangunan tidak lagi hanya bergantung pada sumber daya terbatas yang dialokasikan langsung oleh Negara. Dinamika ekonomi kemudian akan berasal dari kemampuan untuk memungkinkan masyarakat bergerak maju bersama, berinvestasi bersama, berinovasi bersama, dan berkomitmen pada pembangunan bersama.
Patut dicatat bahwa dalam pernyataan Sekretaris Jenderal dan Presiden, "sumber daya dalam diri rakyat" dipahami dalam arti yang sangat luas dan mendalam. Ini mencakup tidak hanya modal, tetapi juga kecerdasan, keterampilan, tenaga kerja, semangat kewirausahaan, dan aspirasi yang sah untuk sejahtera dari puluhan juta orang. Ini adalah pendekatan yang sangat signifikan, karena menekankan hakikat kekuatan nasional yang sebenarnya di era baru: bahwa kekuatan tidak terutama terletak pada sumber daya, tetapi pada manusia; tidak hanya pada anggaran, tetapi pada kepercayaan; tidak hanya pada perintah administratif, tetapi pada kemampuan untuk mengaktifkan inisiatif dan aspirasi untuk pembangunan di seluruh masyarakat.
Oleh karena itu, penekanan Sekretaris Jenderal dan Presiden bahwa perlu dipastikan bahwa "setiap warga negara, setiap keluarga, setiap rumah tangga bisnis, dan setiap perusahaan menjadi entitas pertumbuhan" dapat dianggap sebagai proposisi yang patut dipertimbangkan secara serius oleh badan pembuat kebijakan dan daerah. Pertumbuhan berkelanjutan hanya muncul ketika setiap sel ekonomi sehat, ketika peluang pembangunan terbuka bagi sejumlah besar orang dan bisnis, ketika lembaga menciptakan kondisi yang menguntungkan alih-alih menciptakan lebih banyak hambatan, ketika biaya kepatuhan wajar, infrastruktur disinkronkan, akses pasar terbuka lebar, dan kepercayaan dipertahankan.
Pidato tersebut juga menyentuh masalah kronis dalam praktik pembangunan: keter狹an pikiran yang berasal dari batas-batas administratif, pembagian sektoral, dan agenda politik jangka pendek. Ketika Sekretaris Jenderal dan Presiden menyatakan, "Perencanaan adalah pemikiran pembangunan yang terruangisasi," hal itu memberikan panduan mendalam tentang metodologi. Perencanaan harus mencerminkan visi jangka panjang yang terintegrasi, menghubungkan wilayah, infrastruktur, energi, penduduk, tenaga kerja, lingkungan, ketahanan pangan, dan kapasitas pembangunan jangka panjang bangsa. Oleh karena itu, "tingkat manfaat yang dinikmati oleh rakyat adalah kriteria utama" dan harus menjadi standar untuk mengevaluasi semua proyek, keputusan investasi, dan arus keluar modal.
Semuanya dimulai dari orang-orang yang secara langsung menerapkan kebijakan tersebut di tingkat akar rumput.
Poin penting lainnya dalam pidato tersebut adalah penekanan pada sistem pemerintahan lokal dua tingkat. Sekretaris Jenderal dan Presiden dengan jelas menyatakan prinsipnya: "Pemerintah pusat kuat dalam arahan strategis, institusi, dan pengawasan; pemerintah daerah kuat dalam pelaksanaan, dengan tingkat komune memainkan peran kunci dalam menentukan kualitas operasional seluruh sistem." Ini adalah proposisi yang perlu dipahami sepenuhnya baik dalam hal desentralisasi maupun tanggung jawab.
Agar sistem pemerintahan lokal dua tingkat benar-benar efektif dan efisien, tingkat komune harus memiliki kapasitas untuk mengambil keputusan dalam lingkup yang ditugaskan, kemampuan untuk memobilisasi sumber daya, kapasitas untuk memantau dan memberikan umpan balik, dan data yang cukup untuk membantu tingkat yang lebih tinggi mengambil keputusan yang lebih akurat. Ketika tingkat komune tidak kuat, semua kebijakan utama dapat tertunda, atau bahkan menjadi tidak efektif dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu, penetapan Komite Sentral tahun 2026 sebagai "Tahun Kader Akar Rumput" bukan hanya tema kerja, tetapi juga arah strategis: agar resolusi dapat diimplementasikan, resolusi tersebut harus dimulai dari orang-orang yang paling dekat dengannya, dari mereka yang secara langsung terlibat dalam pengorganisasian dan pelaksanaan kebijakan di tingkat akar rumput.
Secara keseluruhan, pidato Sekretaris Jenderal dan Presiden pada Konferensi Nasional tentang Mempelajari, Memahami, dan Menerapkan Resolusi Sidang Pleno ke-2 Komite Sentral ke-14 menyampaikan pesan yang sangat jelas: negara telah melewati tahap pembentukan kebijakan dan organisasi secara fundamental; sekarang saatnya untuk menunjukkan kapasitasnya dalam bertindak. Oleh karena itu, implementasi resolusi harus diukur dari kemajuan institusionalisasi, kualitas koordinasi antar tingkatan, efektivitas pengawasan, kemampuan untuk menghilangkan "hambatan," dan yang terpenting, kepercayaan masyarakat dan pelaku usaha terhadap sistem. Ketika sistem beroperasi dengan lancar, ketika disiplin dijaga, ketika sumber daya dimanfaatkan, dan ketika setiap warga negara dan pelaku usaha melihat peluang untuk berkontribusi dan berkembang, maka aspirasi nasional akan benar-benar berubah menjadi kekuatan pendorong pembangunan.
Yang dibutuhkan negara saat ini adalah kapasitas yang lebih besar untuk memenuhi janjinya. Dan itulah semangat inti dari konferensi hari ini: pemahaman mengarah pada persatuan, persatuan mengarah pada tindakan, dan tindakan mengarah pada pembangunan.
Sumber: https://daibieunhandan.vn/quan-triet-de-hanh-dong-hanh-dong-de-phat-trien-10413507.html






