Upacara pembukaan ruang pameran yang menampilkan rumah panjang tradisional dan memeragakan kembali "Upacara Peresmian Rumah (Đĭ dôk sang mrâo)" masyarakat Ê Đê berlangsung pada pukul 8:00 pagi tanggal 17 November, di Ruang Rumah Panjang Ê Đê, di dalam kompleks Museum Đắk Lắk .

Rumah panjang Ede (gambar ilustrasi)
Rumah panjang Ede - sebuah ciri budaya tradisional yang unik dari masyarakat Ede.
Bagi masyarakat Ede, rumah panjang bukan hanya tempat tinggal keluarga tetapi juga mencerminkan gaya hidup dan kekayaan keluarga dalam komunitas. Ciri khas rumah panjang ini semakin terungkap melalui desain tangga, pilar lantai, dan tata letak ruang hunian.
Di provinsi Dak Lak, suku Ede adalah salah satu dari dua kelompok etnis asli yang telah lama tinggal di sana, terbagi menjadi banyak kelompok lokal yang berbeda. Masyarakat Ede hidup di bawah sistem matriarkal dengan banyak generasi dalam satu rumah. Dalam keluarga Ede, kepala rumah tangga adalah perempuan, yang mengendalikan semua kegiatan keluarga. Anak-anak menggunakan nama keluarga ibu mereka, dan anak laki-laki tidak mewarisi. Laki-laki tinggal di rumah istri mereka. Dengan sistem matriarkal, sebuah keluarga besar di rumah panjang biasanya memiliki tiga kelompok: perempuan yang menggunakan nama keluarga ibu mereka, laki-laki yang menggunakan nama keluarga ibu mereka, dan laki-laki yang tidak menggunakan nama keluarga ibu mereka.
Rumah suku Ede memiliki karakteristik unik yang berbeda dari rumah-rumah kelompok etnis lain di Dataran Tinggi Tengah. Rumah ini berupa rumah panggung panjang, juga dikenal sebagai rumah panjang, yang menyediakan ruang hidup bagi puluhan orang. Biasanya, rumah panjang dibangun 1,5-2 meter di atas tanah, dengan bagian atas untuk tempat tinggal dan bagian bawah untuk beternak: babi, ayam, kerbau, sapi, dll. Arsitektur rumah panjang memiliki tiga bagian: halaman, area tamu, dan ruang tinggal. Dalam struktur rumah panjang tradisional, tangga dianggap sebagai kebanggaan keluarga dan komunitas. Tangga terbuat dari kayu solid, dipahat dan dihubungkan dari tanah ke lantai, dan semua anak tangga berjumlah ganjil, yang dianggap ideal oleh masyarakat Ede. Di tangga, beberapa motif diukir: sepasang payudara ibu yang melambangkan sistem matriarkal masyarakat Ede; di sekitar payudara terdapat gambar sepasang merpati, bulan, bintang, atau hewan seperti kura-kura dan kadal yang melambangkan politeisme.
Rumah panjang Ede bukan hanya tempat tinggal keluarga tetapi juga mencerminkan gaya hidup dan kekayaan keluarga dalam komunitas. Ciri khas rumah panjang juga terlihat dari tata letaknya. Rumah tersebut dibagi menjadi dua bagian: bagian dekat pintu masuk utama (disebut Gah) adalah tempat tamu diterima, tempat keluarga besar berkumpul, dan tempat kegiatan komunitas berlangsung. Di sinilah juga sering dipajang barang-barang berharga dan sakral masyarakat Ede, seperti gendang dan gong, dapur utama, kursi tamu, kursi tuan rumah, bangku panjang (Kpan), guci anggur, dan tanduk hewan. Bangku Kpan juga merupakan barang yang familiar bagi masyarakat Ede; ciri khasnya adalah bangku ini diukir dari satu batang pohon yang utuh, dengan kaki dan tempat duduk yang menyatu, sedikit melengkung di kedua ujungnya, dan beberapa bangku Kpan memiliki panjang 15-20 meter. Bangku Kpan biasanya digunakan oleh para pengrajin untuk duduk dan memainkan gong dan gendang selama festival dan perayaan keluarga atau komunitas. Separuh lainnya (disebut Ok) adalah dapur umum dan tempat tinggal bagi pasangan suami istri, yang membentang di sepanjang kedua sisi jalan setapak utama. Sisi kiri dibagi menjadi beberapa ruang tamu kecil. Sisi kanan adalah koridor untuk pergerakan, dengan dapur terletak di ujung paling belakang...
Di rumah panjang, ruangan pertama dari halaman belakang adalah kamar nyonya rumah. Ruangan ini berisi dapur dan penampungan air untuk seluruh rumah, dan semua kegiatan di dalam rumah diputuskan oleh nyonya rumah. Ketika nyonya rumah meninggal atau menjadi tua dan lemah, "kedudukan nyonya rumah" diwariskan kepada putri bungsu. Jika putri bungsu menikah saat ibunya masih hidup, keluarganya tinggal di sebelah kamar nyonya rumah.
Bagi masyarakat Ede, rumah panjang bukan hanya simbol khas keluarga besar matriarkal, tetapi juga tempat yang melestarikan nilai-nilai budaya dan spiritual dalam kehidupan mereka. Rumah panjang juga memupuk ikatan erat dan saling mendukung di antara anggota keluarga. Oleh karena itu, ciri khas budaya unik dari wilayah dataran tinggi ini dilestarikan dan dijaga oleh generasi masyarakat Ede hingga saat ini.

Suku Ede dengan praktik budaya mereka yang unik (foto ilustrasi)
Upacara Peresmian Rumah Baru
Upacara pindah rumah, atau Đĭ dôk sang mrâo, adalah ritual penting dan sakral dalam kehidupan budaya dan spiritual masyarakat Ede, yang bertujuan untuk berdoa kepada roh-roh agar mendapatkan berkah berupa rumah yang sejuk dan kokoh, kesehatan yang baik bagi pemilik rumah, dan kemakmuran dalam bisnis. Upacara ini secara jelas mencerminkan identitas budaya tradisional dan semangat komunitas yang erat dari masyarakat Ede di Dataran Tinggi Tengah.
Upacara ini merupakan kesempatan bagi pemilik rumah untuk berterima kasih kepada para dewa atas perlindungan mereka selama proses pembangunan rumah dan untuk berdoa agar mereka terus melindungi rumah dari roh jahat dan penyakit. Ini juga merupakan kesempatan bagi kerabat dan penduduk desa untuk berkumpul, merayakan, memberi selamat kepada pemilik rumah, dan memperkuat solidaritas komunitas. Ritual ini menandai kepemilikan dan tempat tinggal resmi rumah baru, sebuah aset keluarga yang penting (menurut sistem matriarkal, rumah panjang adalah milik perempuan dan diperluas ketika seorang anak perempuan menikah).
Upacara pindah rumah biasanya diadakan setelah pembangunan rumah panjang tradisional selesai dan sering kali berlangsung selama "musim perayaan sepanjang tahun" (setelah panen). Ritual utamanya meliputi: menyiapkan persembahan, yang, tergantung pada keadaan keluarga, dapat mencakup ayam, babi, atau kerbau dan sapi, bersama dengan barang-barang lain seperti anggur beras, sirih, beras, dan lilin. Selanjutnya, pemimpin upacara (biasanya pemilik rumah atau dukun yang dihormati) melakukan doa-doa: Doa-doa tersebut mengundang para dewa (dewa rumah, dewa bumi, dewa sungai, dewa gunung, dll.) untuk menyaksikan, menerima persembahan, dan memberikan berkah kepada keluarga.
Selama upacara, pemimpin upacara melakukan ritual di lokasi-lokasi penting di rumah, seperti pilar utama dan perapian, untuk meminta izin dan memberi tahu roh-roh tentang kedatangan rumah baru dan keluarga tersebut. Beberapa upacara mungkin termasuk pertukaran gelang (gelang perunggu) yang melambangkan ikatan dan keharmonisan di antara anggota keluarga atau klan. Setelah upacara, semua orang berkumpul untuk makan, minum, menari, memainkan gong dan gendang, dan bernyanyi sepanjang malam. Ini adalah perayaan yang meriah, yang mengekspresikan kegembiraan dan kebersamaan seluruh komunitas dengan keluarga yang telah pindah ke rumah baru.
Upacara pindah rumah bukan hanya acara pribadi, tetapi juga acara budaya bersama bagi seluruh desa, yang berkontribusi pada pelestarian dan promosi identitas budaya unik masyarakat Ede.
Sumber: https://bvhttdl.gov.vn/quang-ba-gioi-thieu-van-hoa-truyen-thong-cua-dan-toc-e-de-20251115154443909.htm






Komentar (0)