| Seorang Thọ menemukan sebuah "harta karun" di hutan: tiga jamur berbentuk telur berwarna putih, segar, dan masih utuh. |
Hadiah dari Hutan
Pada akhir pekan, saya bergabung dengan sekelompok anak muda yang sedang menuju Gunung Dinh – tempat yang dianggap sebagai "harta karun musim hujan" oleh para pecinta alam. Setelah sekitar 15 menit mengendarai sepeda motor, jalan beraspal menuju Gunung Dinh berakhir di sebuah lapangan terbuka. Dari sana, kelompok tersebut menghentikan sepeda motor mereka dan mulai berjalan kaki menyusuri jalan setapak kecil melalui hutan.
Kelompok teman yang pergi bersama itu adalah anak muda dari berbagai profesi, tetapi mereka semua memiliki minat yang sama terhadap alam dan menjelajahi kekayaan pegunungan dan hutan.
Wind, pemandu kami, dengan kulitnya yang kecokelatan, tubuhnya yang tegap, dan matanya yang selalu berbinar-binar penuh kekaguman setiap kali bertemu dengan alam, berkata: "Anda harus pergi sangat pagi untuk melihat hutan saat fajar. Pada saat itu, jamur-jamur baru saja muncul dari tanah, masih tertutup embun, tampak seperti alam semesta kecil."
Ia membungkuk, dengan lembut menyingkirkan dedaunan yang layu, dan menunjuk sekelompok jamur putih yang baru mekar: "Setiap jamur adalah kenangan yang tersisa dari pohon purba. Ketika pohon itu tumbang, mereka tumbuh, seperti pasukan diam yang menjaga jiwa hutan."
Selain jamur, hutan ini juga kaya akan hasil bumi lainnya. Ho Nghia Tho, salah satu anggota kelompok tersebut, berseru gembira ketika menemukan sekelompok rebung muda yang baru saja tumbuh. Meskipun rebung langka musim ini, rasanya manis dan renyah; cukup direbus dan dicelupkan ke dalam garam dan cabai sudah cukup untuk meninggalkan kesan yang tak terlupakan.
Jalan setapak di hutan basah dan licin karena hujan, tetapi semua orang tampak gembira. Beberapa buah liar seperti manggis liar dan rambutan dibagikan. Beberapa rasanya asam dan tajam, yang lain agak manis. "Ini manggis liar, menyegarkan dan membantu mendinginkan badan," kata seseorang memperkenalkan. Beberapa orang dalam kelompok itu memetik jamur, yang lain mengumpulkan tunas rotan, dan yang lainnya mengambil foto. Sesekali, mereka tertawa terbahak-bahak saat menemukan jamur berbentuk hati atau jamur berwarna cerah dengan lubang kecil seperti payung.
Jangan hanya mengambilnya, tetapi juga mengembalikannya ke hutan.
Lebih dari sekadar piknik, perjalanan memetik jamur di hutan menjadi tren gaya hidup santai. Dalam kelompok tersebut, beberapa orang stres karena pekerjaan, sementara yang lain memilih untuk meninggalkan kota dan menyepi ke hutan untuk sementara waktu. Perjalanan ini adalah cara untuk "menyegarkan" emosi mereka.
Angin berkata, "Hutan tidak pernah terburu-buru. Setiap jamur tumbuh dengan caranya sendiri." Baginya, pergi ke hutan bukan hanya tentang memetik hal-hal yang dapat dimakan, tetapi juga tentang mempelajari kembali kesabaran, mendengarkan alam, dan hidup lebih lambat dan lebih baik setiap hari.
Nguyen Thy berbagi: “Tidak ada suara sepeda motor, tidak ada wifi, tidak ada tenggat waktu, hanya suara gemericik aliran sungai, angin yang berdesir melalui dedaunan, dan kicauan serangga. Di hutan, manusia tampak mengecil, sementara alam terbuka, diam-diam memberikan hadiah tanpa kata seperti jamur, rebung, dan buah-buahan liar.”
Di akhir perjalanan, rombongan duduk di tepi sungai untuk membasuh muka, beristirahat, dan menikmati momen damai di hutan. Sebelum kembali, rombongan membersihkan sampah dan menimbun lubang yang digali oleh babi hutan, agar hutan tetap terjaga keasliannya.
Salah seorang anggota secara kebetulan menemukan seekor kura-kura kecil yang tersesat di sepanjang jalan setapak. Ia dengan hati-hati membawa kura-kura itu kembali ke vegetasi yang lebih lebat di dekat sungai, tempat yang lebih aman bagi kura-kura itu untuk melanjutkan perjalanannya.
"Pergi ke hutan bukan hanya tentang mengambil, tetapi juga tentang belajar memberi kembali," kata Gió. Bagi kelompok anak muda itu, setiap perjalanan bukan hanya tentang menikmati alam, tetapi juga komitmen yang tulus: mencintai hutan berarti mengetahui cara melindunginya, dimulai dari tindakan terkecil.
Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, perjalanan seperti ini menjadi pilihan yang menenangkan bagi kaum muda yang mencari keseimbangan. Selama hutan masih memiliki jamur, rebung, dan tawa para pecinta hutan, mungkin kenangan akan alam masih memiliki kesempatan untuk dilestarikan.
Teks dan foto: TRÀ NGÂN
Sumber: https://baobariavungtau.com.vn/kinh-te/202506/san-san-vat-nui-rung-1045238/







Komentar (0)