Vietnam.vn - Nền tảng quảng bá Việt Nam

Membentuk kembali hubungan Prancis-Filipina

Konferensi tingkat tinggi “Africa Forward” baru-baru ini di Nairobi menyoroti pergeseran signifikan dalam pendekatan Prancis terhadap Afrika. Dari fokus selama beberapa dekade pada keamanan dan pertahanan, Paris kini mempromosikan model kerja sama baru yang berbasis pada perdagangan, investasi, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan. Pergeseran ini mencerminkan perubahan tren dalam hubungan Prancis dengan negara-negara Afrika, serta kebutuhan akan perluasan hubungan ekonomi dalam konteks meningkatnya persaingan global.

Báo Đại biểu Nhân dânBáo Đại biểu Nhân dân22/05/2026

Dari tonggak sejarah hingga kebutuhan akan inovasi dalam hubungan kerja sama.

Prancis dan Kenya baru-baru ini bersama-sama menjadi tuan rumah KTT “Africa Forward” pertama di Nairobi, Kenya. Acara ini sangat signifikan karena diadakan di luar wilayah Afrika berbahasa Prancis yang secara tradisional berpusat di Paris. KTT tersebut mempertemukan sejumlah kepala negara Afrika, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan perwakilan dari organisasi internasional untuk mempromosikan agenda pembangunan bersama, yang berfokus pada ekonomi , inovasi, dan kerja sama investasi.

le-president-francais-emmanuel-macronet-le-president-kenyan-william-ruto-participent-au-sommet-africa-forward-a-l-universite-de-nairobi-au-kenya-le-lundi-11-mai-2026.jpg
Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Kenya William Ruto berpartisipasi dalam sesi diskusi pemuda bert名为 "Africa Forward, Creation in Motion" sebagai bagian dari Africa Forward Summit di Nairobi, Kenya. Foto: AP - Brian Inganga

Pesan utama yang ditekankan pada konferensi tersebut adalah perlunya membangun model kerja sama yang lebih sesuai dengan konteks pembangunan baru Afrika. Selama bertahun-tahun, hubungan antara Prancis dan negara-negara Afrika terutama berfokus pada pertahanan dan keamanan. Namun, Paris kini beralih ke pendekatan yang lebih menekankan pada perdagangan, teknologi, dan konektivitas ekonomi.

Hubungan Prancis-Afrika mencerminkan jejak sejarah yang mendalam dari era pasca-kolonial. Setelah memberikan kemerdekaan kepada sebagian besar bekas koloninya pada tahun 1960-an, Prancis telah mempertahankan jaringan kerja sama yang erat dengan banyak negara Afrika, khususnya di bidang pertahanan, pelatihan, dan pengembangan infrastruktur.

Selama Perang Dingin, Prancis mempertahankan kehadiran militer di beberapa negara Afrika untuk mengamankan kepentingan strategisnya dan mendukung stabilitas regional. Perjanjian kerja sama pertahanan bilateral dan jaringan pangkalan militer yang membentang dari Afrika Barat hingga Tanduk Afrika memainkan peran penting dalam kebijakan luar negeri Paris.

Selain kerja sama keamanan, Prancis juga berpartisipasi dalam pelatihan pasukan militer lokal, mendukung pendidikan , pengembangan bahasa, dan pengembangan kelembagaan di banyak negara Afrika berbahasa Prancis. Hal ini telah membantu mempertahankan ikatan sejarah dan budaya antara kedua belah pihak selama beberapa dekade.

Pada tahun 2010-an, seiring dengan semakin kompleksnya situasi keamanan di wilayah Sahel, Prancis terus memperkuat kehadiran militernya untuk mendukung upaya kontra-terorisme dan memastikan stabilitas regional. Antara tahun 2013 dan 2022, ribuan tentara Prancis, bersama dengan pasukan internasional, dikerahkan ke beberapa negara Sahel sebagai bagian dari operasi Serval dan Barkhane.

Namun, dengan perubahan lingkungan internasional dan kebutuhan pembangunan baru Afrika, pendekatan yang terutama didasarkan pada kerja sama militer secara bertahap menunjukkan keterbatasannya. Banyak negara Afrika sekarang memprioritaskan program pembangunan ekonomi, transformasi digital, infrastruktur, dan menarik investasi asing daripada model kerja sama keamanan tradisional.

Memperluas kerja sama untuk pembangunan

Dalam beberapa tahun terakhir, Prancis secara bertahap menyesuaikan strateginya di Afrika ke arah mengurangi kehadiran militernya dan memperkuat kerja sama ekonomi. Sejak tahun 2022, Paris mulai merestrukturisasi jaringan pangkalan dan pasukannya di wilayah Sahel serta di banyak negara Afrika lainnya.

Pada tahun 2025, sebagian besar pangkalan militer Prancis di Senegal, Chad, Gabon, dan Pantai Gading akan diserahkan kepada negara masing-masing. Kehadiran militer Paris di benua Eropa sekarang terutama terdiri dari kelompok penghubung dan pendukung pelatihan berskala kecil.

Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Kenya William Ruto bersama-sama memimpin KTT Africa Forward di Nairobi, Kenya. Foto: Kobby Kyei News

Seiring dengan proses ini, Prancis mendirikan Komando Afrika di Paris pada tahun 2024 untuk mengkoordinasikan kerja sama pertahanan dan mempertahankan kemampuan untuk memberikan dukungan teknis bila diperlukan. Satu-satunya pangkalan militer utama Prancis yang tersisa di Afrika saat ini terletak di Djibouti, dengan sekitar 1.500 personel.

Penyesuaian strategis ini menunjukkan bahwa Paris bergerak menuju model kerja sama yang lebih fleksibel, mengurangi ketergantungannya pada kehadiran militer langsung. Presiden Emmanuel Macron telah berulang kali menekankan keinginannya untuk membangun "kemitraan yang setara" dengan negara-negara Afrika, sambil mempromosikan bidang kerja sama yang memiliki nilai jangka panjang.

Tren ini juga mencerminkan pergeseran prioritas di antara banyak negara Afrika. Di tengah urbanisasi yang pesat, pertumbuhan populasi muda, dan meningkatnya kebutuhan pembangunan infrastruktur, negara-negara Afrika kini sangat tertarik untuk berinvestasi di bidang teknologi, energi, logistik, dan pendidikan kejuruan.

Bagi Prancis, ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Selama dua dekade terakhir, pangsa perdagangan Prancis di Afrika telah menurun secara signifikan karena banyak mitra internasional lainnya telah meningkatkan kehadiran ekonomi mereka di benua tersebut. Afrika kini hanya menyumbang sekitar 2% dari total perdagangan internasional Prancis.

Oleh karena itu, Paris mempromosikan strategi peningkatan investasi dan perluasan kerja sama dengan negara-negara dengan perekonomian besar dan berkembang pesat di Afrika Timur dan Barat seperti Kenya, Nigeria, Ethiopia, dan Afrika Selatan. Negara-negara ini dipandang sebagai pasar dengan potensi besar di bidang teknologi digital, energi terbarukan, infrastruktur perkotaan, dan jasa keuangan.

Perdagangan, teknologi, dan investasi telah menjadi fokus baru.

Para pengamat mencatat bahwa konferensi "Africa Forward" di Nairobi secara jelas menunjukkan arah baru Prancis dalam hubungannya dengan Afrika. Alih-alih menekankan isu-isu keamanan, agenda konferensi terutama berfokus pada inovasi, transformasi digital, pembangunan hijau, dan kerja sama bisnis. Pada konferensi tersebut, beberapa perusahaan besar Prancis mengumumkan rencana investasi signifikan di Afrika dengan total lebih dari 14 miliar euro di sektor energi, kecerdasan buatan, infrastruktur, dan pertanian.

Sejalan dengan itu, raksasa telekomunikasi Orange mengumumkan akan menggandakan jumlah pusat digital di Afrika dari 50 menjadi 100 untuk mendukung pelatihan keterampilan digital dan mempromosikan ekosistem teknologi lokal. Sementara itu, perusahaan pelayaran CMA CGM berkomitmen untuk berinvestasi dalam modernisasi pelabuhan Mombasa di Kenya untuk meningkatkan kemampuan logistik di Afrika Timur.

Banyak perusahaan Prancis lainnya juga memperluas kehadiran mereka di ekonomi-ekonomi utama Afrika. Grup energi TotalEnergies sedang bersiap untuk meluncurkan proyek minyak dan gas baru di Nigeria. Di Pantai Gading, perusahaan-perusahaan Prancis terlibat dalam pembangunan sistem metro Abidjan – salah satu proyek infrastruktur perkotaan terbesar di Afrika Barat.

Di Ethiopia, Prancis saat ini merupakan investor terbesar ketiga di sektor ritel, pertanian, dan pengolahan. Proyek-proyek ini menunjukkan prioritas Paris pada sektor-sektor yang berpotensi menciptakan dampak pembangunan jangka panjang dan mendorong hubungan ekonomi yang lebih dalam dengan Afrika. Selain investasi, Prancis juga memperkuat kerja sama di bidang pendidikan, pelatihan kejuruan, dan transfer teknologi. Program-program yang mendukung kewirausahaan, inovasi, dan pengembangan keterampilan bagi kaum muda Afrika menjadi fitur penting dari strategi baru Paris.

Namun, para pengamat juga menunjukkan bahwa proses membentuk kembali hubungan dengan Afrika tidak akan mudah, karena Prancis akan menghadapi persaingan yang semakin sengit dari kekuatan besar lainnya seperti Tiongkok, Turki, Rusia, dan negara-negara Teluk. Pada saat yang sama, skeptisisme terhadap Paris di beberapa negara Afrika belum sepenuhnya hilang.

Terlepas dari banyaknya tantangan dalam persaingan ekonomi internasional, pergeseran fokus dari kehadiran militer ke kerja sama pembangunan dianggap sebagai penyesuaian yang tepat terhadap tren baru di Afrika. Dengan populasi muda, tingkat pertumbuhan yang tinggi, dan kebutuhan pembangunan yang signifikan, Afrika terus memainkan peran yang semakin penting dalam kebijakan luar negeri dan strategi ekonomi banyak negara, termasuk Prancis.

Dalam konteks ini, model kerja sama yang berbasis pada perdagangan, teknologi, investasi, dan pertukaran antar masyarakat diharapkan dapat mengantarkan fase baru yang lebih seimbang dan substantif dalam hubungan antara Prancis dan negara-negara Afrika.

Sumber: https://daibieunhandan.vn/tai-dinh-hinh-quan-he-phap-phi-10417873.html


Komentar (0)

Silakan tinggalkan komentar untuk berbagi perasaan Anda!

Dalam topik yang sama

Dalam kategori yang sama

Dari penulis yang sama

Warisan

Angka

Bisnis

Berita Terkini

Sistem Politik

Lokal

Produk

Happy Vietnam
Jelajahi dan alami bersama anak Anda.

Jelajahi dan alami bersama anak Anda.

Jelajahi dunia bersama anak Anda.

Jelajahi dunia bersama anak Anda.

Menceritakan kisah tentang Presiden Ho Chi Minh - Memupuk patriotisme.

Menceritakan kisah tentang Presiden Ho Chi Minh - Memupuk patriotisme.