Suatu malam yang gerimis di penghujung tahun, saya duduk di sebuah kafe kecil bersama seorang teman lama. Kami tidak bertanya seberapa jauh perjalanan yang telah kami lalui, kami juga tidak perlu mengenang hal-hal yang telah kami lewatkan; teman saya hanya mendorong secangkir teh kental yang mengepul ke arah saya. Dan begitulah, kami duduk dalam keheningan, menyaksikan jalanan berlalu dalam cahaya remang-remang lampu jalan. Orang-orang bergegas melewati satu sama lain dalam perjuangan mereka untuk bertahan hidup di malam hari. Pada saat itu, saya merasa sangat beruntung dapat "berdiri di luar" arus yang kacau itu untuk sementara waktu, untuk menghargai rasa damai yang kecil ini. Ternyata kebahagiaan terkadang hanyalah secangkir teh panas, jiwa yang sehati yang memahami keheningan saya, dan keadaan pikiran yang riang di tengah hiruk pikuk kehidupan sehari-hari.
Temanku berkata bahwa seiring berjalannya waktu, mengenang masa lalu mengungkapkan bahwa waktu adalah obat yang paling ampuh sekaligus paling kejam. Ketika kita masih muda, kita sering memandang waktu sebagai raksasa yang murah hati, selalu siap menunggu di persimpangan jalan agar kita dapat berkelana dengan bebas. Saat itu, kita percaya kita bisa menunda segalanya: permintaan maaf, pelukan, atau kepulangan. Tetapi setelah mengalami cukup banyak musim, kita tiba-tiba menyadari bahwa waktu tidak menunggu siapa pun; ia diam-diam mengikis apa yang pernah kita anggap tak berubah. Dan waktulah yang dengan cepat mengambil hal-hal berharga, membawa serta orang-orang terkasih kita, yang tak akan pernah kembali.
![]() |
| Ilustrasi: HH |
Suaramu tercekat karena emosi saat kau mengatakan bahwa kehilangan itu telah membuatmu menyadari bahwa di penghujung tahun, betapapun kacaunya dunia di luar sana, hal terpenting adalah menemukan jalan pulang. Terkadang hanya beberapa hari setelah perjalanan bus yang panjang dan penuh sesak, di lain waktu kau bergegas kembali ke kota tepat pada waktunya untuk Malam Tahun Baru. Sayangnya, setiap tahun, kau melihat wajah orang tuamu semakin menua. Kerutan semakin dalam di wajah mereka, kini dihiasi bintik-bintik penuaan. Kembali ke rumah, berjalan di jalan beton yang lebar, kau sangat merindukan jalan tanah merah, makanan sederhana berupa sayuran rebus dan aroma tajam pasta udang, namun begitu hangat dan memuaskan. Ternyata, kembali bukanlah tentang membual tentang apa yang telah kau capai selama setahun terakhir, atau menceritakan kesuksesanmu yang gemilang. Kita kembali untuk menjadi diri kita sendiri, untuk melihat ibu kita masih duduk di dekat perapian, ayah kita masih termenung sambil minum teh, dan untuk melihat diri kita sendiri masih sebagai anak yang diizinkan untuk membuat kesalahan, diizinkan untuk menjadi rentan. Dan ternyata, bepergian ke mana-mana di dunia yang luas ini membuatmu menyadari bahwa rumah adalah satu-satunya tempat yang tidak mengharuskanmu mengenakan baju zirah berkilauan untuk menghadapi berbagai kesulitan.
"Biarkan masa lalu berlalu"—kedengarannya mudah, tetapi ini adalah proses belajar untuk memaafkan diri sendiri. Kita sering mudah memaafkan orang lain tetapi terlalu keras pada diri sendiri. Kita menyiksa diri sendiri atas rencana yang belum selesai, kesalahan masa lalu, dan kata-kata yang tak terucapkan. Tetapi angin masa lalu telah berlalu. Biarkan apa yang telah rusak tetap rusak dengan cara yang paling indah. Biarkan apa yang telah hilang dianggap sebagai bagian dari pelajaran hidup.
Aku bangun, mengucapkan selamat tinggal kepada teman lamaku, pulang, menyalakan lampu, dan mulai membersihkan rumah kecilku. Aku membuang barang-barang yang tidak lagi kupakai, menyeka debu dari bingkai foto lama, seolah-olah aku sedang membersihkan hatiku sendiri. Aku mempersiapkan diri untuk tahun baru bukan dengan ambisi besar, tetapi dengan pola pikir yang siap menyambut "angin" baru, dengan ketenangan dan kelembutan yang lebih besar. Waktu akan terus mengalir, tetapi selama hati kita cukup luas dan hangat, setiap musim yang berlalu akan meninggalkan benih kedamaian.
Dieu Huong
Sumber: https://baoquangtri.vn/van-hoa/202602/thoi-gian-troi-qua-ke-tay-9e24c0c/







Komentar (0)