Para ilmuwan telah menemukan keberadaan yang mengkhawatirkan dari Superluminal Afrika, sebuah kolom besar batuan panas yang muncul dari bumi dan secara tak terduga membentuk bagian timur benua tersebut.
Kita sudah lama mengetahui bahwa Afrika berubah dengan cepat. Zona retakan yang ada menunjukkan bahwa benua itu mengalami deformasi dan akan segera terpisah di masa depan.
Namun sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Geophysical Research Letters menunjukkan bahwa "skenario" pemisahan ini jauh lebih kompleks dan mencengangkan daripada yang kita bayangkan sebelumnya.

Benua-benua di Bumi dibentuk oleh proses geologi yang kompleks - Gambar grafis: SCITECH DAILY
Selama beberapa dekade, para ilmuwan memperkirakan bahwa sebagian besar deformasi di zona patahan akan terjadi tegak lurus terhadap arah patahan, yang pada dasarnya memisahkan kerak bumi secara horizontal, seperti yang terjadi pada sistem patahan Afrika Timur.
Namun, pengukuran GPS jangka panjang telah mengungkapkan sesuatu yang membingungkan: sebagian area tersebut juga bergeser sejajar dengan retakan itu sendiri.
Profesor Madya D. Sarah Stamps, seorang ahli geofisika dari Virginia Tech (AS) dan salah satu penulis, menyatakan bahwa Superplume Afrika adalah penyebabnya.
Kolom batuan panas ini tidak hanya muncul dari bumi, tetapi juga menciptakan aliran ke arah utara di bawah litosfer, diam-diam menyeret lempeng benua bersamanya.
Selain itu, studi independen lain yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Journal of Geophysical Research: Solid Earth menunjukkan bahwa proses deformasi kompleks Afrika juga melibatkan blok-blok kecil kerak bumi, yang disebut mikroplate, yang berputar secara independen di dalam zona retakan.
Lempeng mikro Victoria, sebuah entitas geologis yang terletak di antara cabang timur dan barat Sistem Patahan Afrika Timur, berputar berlawanan arah jarum jam dengan kecepatan sekitar 0,0583 derajat per juta tahun.
Rotasi ini menghasilkan efek yang aneh: Meskipun sebagian besar deformasi terkonsentrasi di sepanjang tepi lempeng mikro—di mana retakan bergeser dengan kecepatan sekitar 1,8 hingga 2,2 mm per tahun—inti dalamnya tetap sangat stabil.
Jika digabungkan, "kekuatan bawah tanah" ini menunjukkan bahwa Afrika tidak hanya terpecah oleh beberapa celah, tetapi sedang mengalami restrukturisasi benua yang kompleks.
Sumber: https://giadinh.suckhoedoisong.vn/thu-ky-la-dang-troi-len-tu-long-dat-lam-bien-dang-mot-luc-dia-172260505071721129.htm








Komentar (0)