Menyadari permintaan pasar akan ayam broiler berkualitas tinggi, pada tahun 2014, Bapak Nguyen Manh Son, dari desa Vu Xa, komune Tong Phan (distrik Phu Cu), beralih dari beternak ayam berbulu putih ke beternak ayam Ri hibrida yang dipelihara secara bebas.

Pak Son berkata: "Dengan peternakan unggas yang sudah ada dan pengalaman bertahun-tahun dalam beternak ayam, saya tidak perlu banyak berinvestasi ketika beralih ke model peternakan ayam bebas kandang. Untuk menerapkan model peternakan ayam bebas kandang, saya merenovasi hampir satu hektar kebun menjadi area bebas kandang. Jenis ayam yang dipilih keluarga saya untuk dipelihara adalah jenis Ri Lai. Ini adalah jenis ayam yang sehat dengan daging yang harum dan lezat, daya tahan yang baik terhadap penyakit, dan cocok untuk kondisi bebas kandang. Ketika saya pertama kali memulai, karena saya belum memahami teknik perawatan dan pasar dengan baik, saya hanya memelihara 500 ekor ayam. Berkat ketekunan saya, kemauan untuk belajar dari model peternakan yang sukses, dan pelatihan peternakan unggas yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah dan instansi terkait, saya memperoleh keuntungan dari kelompok ayam pertama saya."
Berawal dari 500 ekor ayam, Bapak Son kini memelihara rata-rata 4.000 ekor ayam setiap tahunnya. Waktu dari pemeliharaan hingga penjualan memakan waktu 4-5 bulan, dan dengan perawatan yang baik, ayam dapat mencapai berat 2-2,2 kg per ekor. Dengan menggunakan metode pemeliharaan bertahap, ia memelihara 2-3 kelompok ayam per tahun. Untuk memastikan pertanian yang berkelanjutan dan efisien, ia fokus pada pemberian nutrisi yang cukup, secara teratur memberikan suplemen vitamin dan mineral, serta melakukan vaksinasi terhadap penyakit. Di musim dingin, ia menggunakan pemanas listrik, dan di musim panas, kipas angin untuk mendinginkan ayam. Kandang ayam berventilasi baik. Selain itu, ia menggunakan alas kandang biologis untuk menghilangkan bau, menjaga udara tetap kering dan sejuk, serta meminimalkan risiko penyakit berbahaya. Yang penting, ketika ayam berusia sekitar 40 hari, ia melepaskannya ke kebun. Hal ini meningkatkan kualitas ayam. Tergantung pada waktu dalam setahun, harga jual rata-rata ayam berkisar antara 80.000 hingga 90.000 VND per kg. Dengan harga jual tersebut, setelah dikurangi biaya, Bapak Son memperoleh keuntungan rata-rata 150-200 juta VND per tahun. Selama proses peternakan ayam, beliau juga memanfaatkan kotoran ayam untuk keperluan pertanian, sehingga turut menambah penghasilan keluarga.
Berkat kerja keras dan dedikasinya dalam peternakan unggas, keluarga Bapak Son kini menikmati kehidupan yang nyaman dan penghasilan yang stabil. Selain itu, beliau selalu bersedia mendukung dan berbagi pengalamannya dalam beternak ayam kampung dengan keluarga-keluarga di dalam dan di luar komune yang membutuhkannya.
Minh Hong
Sumber







Komentar (0)