Vietnam.vn - Nền tảng quảng bá Việt Nam

Rokok elektronik dan produk nikotin generasi berikutnya: Racun tersembunyi.

Organisasi Kesehatan Dunia memperingatkan bahwa di balik tampilan luar rokok elektrik yang menarik, terdapat nikotin – zat adiktif yang dapat langsung memengaruhi otak, dan sangat berbahaya bagi remaja.

VietnamPlusVietnamPlus31/05/2026

Mulai dari rasa buah yang manis hingga desain trendi yang menyerupai gadget teknologi, rokok elektrik dan produk nikotin generasi berikutnya dipromosikan sebagai pilihan yang "lebih aman". Namun di balik tampilan yang menarik itu tetap ada nikotin – zat adiktif beracun yang diam-diam menarik jutaan anak muda ke dalam siklus ketergantungan baru.

Seiring dengan semakin menurunnya penerimaan masyarakat terhadap rokok tradisional, industri nikotin dengan cepat mengubah strateginya untuk mempertahankan konsumen. Zat adiktif ini, yang dulunya diasosiasikan dengan kemasan rokok yang menampilkan gambar peringatan tentang penyakit, kini memiliki tampilan baru: lebih aromatik, lebih ringkas, dan jelas berteknologi tinggi.

Produk-produk yang disamarkan sebagai "es krim stroberi," "permen kapas," "teh persik," atau "mint" marak beredar di media sosial, dipromosikan sebagai aksesori fesyen atau perangkat teknologi mutakhir. Namun, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), di balik tampilan yang glamor itu terdapat nikotin – zat adiktif yang dapat langsung memengaruhi otak, dan sangat berbahaya bagi remaja.

Untuk Hari Tanpa Tembakau Sedunia tahun ini pada tanggal 31 Mei, WHO telah memilih tema "Mengungkap Daya Tarik yang Menipu - Aksi untuk Memerangi Kecanduan Nikotin dan Tembakau," untuk memperingatkan terhadap taktik pemasaran industri tembakau yang semakin canggih.

Selama dua dekade terakhir, kampanye anti-tembakau telah menghasilkan banyak hasil positif. WHO melaporkan bahwa jumlah pengguna tembakau di seluruh dunia telah menurun dari 1,38 miliar pada tahun 2000 menjadi sekitar 1,2 miliar pada tahun 2024.

Namun, seiring menyusutnya pasar rokok tradisional, industri ini dengan cepat beralih ke produk-produk baru seperti rokok elektrik, produk tembakau yang dipanaskan, kantong nikotin, dan nikotin sintetis.

Produk-produk ini sering dipasarkan dengan pesan-pesan seperti "lebih bersih," "kurang berbahaya," atau "membantu berhenti merokok." Namun, WHO menekankan bahwa pendekatan seperti itu dapat menyebabkan konsumen, terutama kaum muda, meremehkan risiko kecanduan nikotin.

Saat ini, tembakau merenggut lebih dari 8 juta nyawa setiap tahunnya di seluruh dunia, dengan sekitar 1,6 juta kematian disebabkan oleh perokok pasif. Selain kanker paru-paru, tembakau secara langsung terkait dengan penyakit kardiovaskular, stroke, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), infertilitas, dan berbagai gangguan kesehatan mental.

Kerugian ekonomi global yang disebabkan oleh tembakau saat ini melebihi 1,4 triliun dolar AS per tahun, setara dengan 1,8% dari PDB dunia. Lebih dari 80% beban tersebut ditanggung oleh negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Yang mengkhawatirkan para ahli saat ini adalah penyebaran nikotin yang cepat di kalangan anak muda melalui taktik "penambahan rasa" dan membangun citra produk sebagai ikon gaya hidup.

WHO menyatakan bahwa saat ini terdapat lebih dari 16.000 rasa berbeda yang digunakan dalam produk nikotin baru. Rasa-rasa ini membantu menutupi rasa nikotin yang menyengat, sehingga lebih mudah dan menarik untuk digunakan.

Selain itu, perangkat merokok dirancang agar ringkas, seperti USB drive, headphone, atau aksesori elektronik, sehingga menciptakan kesan modern dan tidak terlalu mencurigakan. Banyak produk menggunakan garam nikotin atau nikotin sintetis dalam konsentrasi tinggi, menghasilkan hisapan yang lebih halus dan penyerapan nikotin yang lebih cepat ke dalam tubuh.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), nikotin dapat memengaruhi perkembangan otak pada remaja, mengganggu daya ingat, konsentrasi, dan pengendalian perilaku. Penggunaan nikotin sejak dini juga meningkatkan risiko ketergantungan pada zat adiktif lainnya di kemudian hari.

WHO memperkirakan bahwa saat ini terdapat lebih dari 100 juta pengguna rokok elektronik di seluruh dunia, di mana setidaknya 15 juta di antaranya adalah anak-anak dan remaja berusia 13-15 tahun.
Lingkungan digital menjadi saluran pemasaran yang paling efektif untuk produk-produk ini. Sekitar 78% siswa berusia 13-15 tahun telah terpapar iklan, promosi, atau sponsor terkait tembakau dan nikotin di internet.

Gambar-gambar berwarna-warni di platform media sosial seringkali hanya menampilkan gaya dan kepribadian, sementara hampir tidak pernah menyebutkan risiko kesehatannya.

Selain rokok elektrik, WHO juga memperingatkan tentang maraknya penggunaan kantong nikotin – produk tanpa asap dan tanpa bau yang dipromosikan sebagai pilihan yang “discreet” dan “aman”.

Menurut laporan WHO terbaru, penjualan global kantong nikotin melebihi 23 miliar unit pada tahun 2024 dan terus tumbuh pesat. Namun, sekitar 160 negara saat ini belum memiliki peraturan khusus untuk produk ini.

Menanggapi perkembangan pesat nikotin generasi berikutnya, banyak negara telah mengadopsi langkah-langkah regulasi yang ketat. Inggris Raya mengesahkan undang-undang yang melarang penjualan tembakau kepada orang yang lahir pada tahun 2009 atau setelahnya dan melarang rokok elektrik sekali pakai.

Belgia menjadi negara pertama di Uni Eropa yang sepenuhnya melarang vape sekali pakai. Australia hanya mengizinkan penjualan rokok elektrik di apotek dengan resep dokter, sementara Singapura dan Thailand terus mempertahankan peraturan ketat tentang penggunaan produk-produk ini.

Di Vietnam, angka perokok pria dewasa telah menurun secara signifikan selama dekade terakhir. Namun, negara ini masih memiliki sekitar 15,8 juta perokok dan lebih dari 40.000 kematian terkait tembakau setiap tahunnya. Kerugian ekonomi yang disebabkan oleh tembakau diperkirakan mencapai 108 triliun VND setiap tahun.

Menanggapi situasi ini, Majelis Nasional mengeluarkan Resolusi 173/2024/QH15, yang sepenuhnya melarang produksi, perdagangan, impor, transportasi, penyimpanan, dan penggunaan rokok elektronik dan produk tembakau yang dipanaskan mulai tahun 2025. Langkah ini sangat dipuji oleh WHO dalam upaya melindungi kesehatan masyarakat.

Hari Tanpa Tembakau Sedunia kini lebih dari sekadar kampanye kesadaran kesehatan; ini juga merupakan perjuangan melawan manipulasi persepsi. WHO menyerukan kepada negara-negara untuk meningkatkan pajak tembakau, melarang iklan dan rasa yang menarik bagi kaum muda, dan memperketat regulasi platform digital.

Keluarga, sekolah, dan masyarakat juga perlu menyadari bahwa rokok elektrik bukanlah sekadar alat teknologi yang tidak berbahaya atau simbol individualitas. Di balik uap yang harum dan desain yang trendi, terdapat nikotin yang berbahaya.

Mengungkap "jebakan manis" ini merupakan bagian penting dari upaya melindungi generasi mendatang.

(VNA/Vietnam+)

Sumber: https://www.vietnamplus.vn/thuoc-la-dien-tu-va-cac-san-pham-nicotine-the-he-moi-chat-doc-nup-bong-post1113627.vnp


Komentar (0)

Silakan tinggalkan komentar untuk berbagi perasaan Anda!

Dalam topik yang sama

Dalam kategori yang sama

Dari penulis yang sama

Warisan

Angka

Bisnis

Berita Terkini

Sistem Politik

Lokal

Produk

Happy Vietnam
Di Bawah Cahaya Bulan

Di Bawah Cahaya Bulan

Kebahagiaan pekerja

Kebahagiaan pekerja

Lagu Pagi

Lagu Pagi