Guru sering berkata bahwa kehidupan siswa adalah masa paling riang. Usia di mana seseorang bisa bebas menangis saat sedih, tertawa saat bahagia, atau "berhenti bermain satu sama lain" saat marah. Setiap orang memberikan cinta yang tulus dan tanpa pamrih, semata-mata karena cinta dan rasa hormat. Seperti cinta yang dimiliki guru untuk generasi-generasi orang dewasa dari sekolah yang tersembunyi di balik pohon eukaliptus yang menghalangi pasir? Seseorang tiba-tiba bertanya, yang memicu beberapa menit perenungan. Guru itu hanya tersenyum lembut, tanpa menjawab.
Pada hari-hari sebelum kelas tambahan, guru selalu mengatur waktu agar kami dapat menikmati musim panas dengan baik. Musim panas yang dihabiskan siswa untuk kegiatan ekstrakurikuler, seperti pergi ke rumah guru untuk meminta mangga dari pohonnya, atau menyiangi kebun sekolah pada hari-hari sebelum kegiatan ekstrakurikuler.
Rumah guru selalu menyediakan manisan untuk anak-anak. Semakin eksentrik dan aneh para siswa di kelas, semakin mereka senang mengunjungi guru. Puluhan tahun kemudian, ketika rambut mereka juga diwarnai oleh warna waktu, generasi-generasi siswa yang dulu suka memetik buah dan memanjat pohon berkumpul di sini untuk mengenang. Kenangan yang tak terlukiskan dalam bentuk apa pun.

Hujan dan sinar matahari mewarnai kenangan menjadi kenangan indah. Saat mengunjungi guru itu pada suatu sore di bulan November, saya melihat beberapa tulisan tangan naif yang masih tersimpan rapi di sudut rumah. Koran dinding, yang agak kotor karena badai di wilayah Tengah, dengan hormat ia gantung di samping foto-foto kelas. Kelas kami adalah kelas terakhir di mana ia menjadi wali kelas, sebelum dipindahkan ke pekerjaan lain.
Kelas itu tak pernah melewatkan satu hari pun di kebun mangga, selama bulan-bulan musim panas yang terik. Banyak dari mereka kini telah menjadi dokter dan insinyur, tiba-tiba merasa seperti kembali muda, masa-masa ketika mereka berebut sekantong garam dan cabai. Lelucon-lelucon dari masa-masa polos itu, bagai obat untuk mengembalikan keremajaan bagi mereka yang telah dewasa, matang berkat kata-kata guru, yang berharap bisa kembali menjadi anak-anak.
Di hari-hari ketika ia sakit dan tak berselera makan, ia tetap menjaga kebiasaan membaca koran setiap pagi dengan kacamata bacanya. Ia mencari berita, lalu mencari artikel karya seorang mahasiswa yang telah menjadi penulis. Ia menambatkan hatinya ke arah tak terhingga, menyaksikan waktu perlahan memendek di antara halaman-halaman kalender lama. Cinta hidupnya yang meluap-luap menutupi dahinya yang keriput, tangannya yang berbintik-bintik, dan punggungnya yang bungkuk hingga tak lagi mampu menjangkau kotak angka di sudut papan tulis. Memandangnya, kami belajar pelajaran baru tentang optimisme.
Ketika rambutnya memutih, feri telah tiba di tepi pantai. Setiap kali peringatan Hari Guru berlalu, waktu untuk bertemu dengannya semakin berkurang. Tak perlu menyesali masa muda—begitulah yang pernah dikatakannya—karena ia telah menjalani hidup yang penuh. Baginya dan banyak orang lain yang mendayung perahu ilmu pengetahuan, hal yang berharga adalah melihat murid-muridnya berdiri kokoh di tepi seberang.
Saat rambut gurunya memutih, kata-katanya masih memiliki warna yang pekat selama bertahun-tahun.
Sumber: https://www.sggp.org.vn/thuong-mai-toc-thay-post824954.html






Komentar (0)