
Saat ini, ketika bahasa asing, terutama bahasa Inggris, hampir menjadi wajib untuk pendidikan dan pekerjaan, bahasa Vietnam menghadapi risiko diabaikan dalam komunikasi dan perilaku kita sehari-hari.
Mencerminkan tingkat budaya
Tidak jarang kita menjumpai contoh pencampuran bahasa Vietnam dan bahasa asing secara sembarangan dalam percakapan dan tulisan sehari-hari. Kaum muda cenderung menggunakan bahasa gaul, mengabaikan aturan dasar ejaan dan tata bahasa Vietnam. Seiring waktu, hal ini telah mengurangi keindahan dan kemurnian bahasa ibu mereka, yang menyebabkan kemampuan berekspresi bahasa Vietnam semakin miskin.
Pada konferensi "100 Tahun Aksara Nasional Vietnam" yang diselenggarakan oleh Asosiasi Ilmu Sejarah Da Nang, peneliti Chau Yen Loan menunjukkan bahwa aksara nasional Vietnam merupakan puncak dari sejarah, budaya, dan identitas nasional. Menurutnya, penggunaan bahasa Vietnam yang sembarangan, hibrida, atau mengikuti tren secara tidak sengaja melemahkan fondasi budaya kita sendiri. Integrasi berkelanjutan membutuhkan, pertama dan terutama, pijakan yang kuat pada "tanah" linguistik bangsa kita.
Pada kenyataannya, integrasi internasional bukan berarti kehilangan bahasa ibu. Banyak negara di dunia masih menggunakan bahasa asing dengan mahir, tetapi selalu menempatkan bahasa nasional mereka sebagai pusat pendidikan , komunikasi, dan kehidupan sosial. Di Vietnam, bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya merupakan alat yang diperlukan untuk memperluas pengetahuan dan mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi modern, tetapi bahasa Vietnam tetap menjadi "akar," sarana untuk berpikir dan mengekspresikan identitas budaya Vietnam.
Menurut peneliti Chau Yen Loan, menjaga kemurnian bahasa Vietnam bukanlah tentang menyangkal atau menolak bahasa asing, melainkan tentang menggunakan bahasa secara sadar, bijaksana, dan bertanggung jawab. Setiap kata yang dipilih, setiap kalimat yang diucapkan, mencerminkan tingkat budaya dan kesadaran nasional penggunanya. Ketika bahasa Vietnam disalahgunakan, diputarbalikkan, atau disalahartikan, bukan hanya bahasanya yang rusak, tetapi kedalaman pemikiran dan emosi manusia juga terpengaruh.
Ia juga menekankan peran penting pendidikan dalam menumbuhkan kecintaan dan kemahiran berbahasa Vietnam di kalangan generasi muda. Sekolah perlu menginspirasi siswa untuk menghargai keindahan, kekayaan, dan kehalusan bahasa Vietnam melalui kegiatan dan seminar sastra, jurnalistik, dan komunikasi.
Senada dengan pandangan ini, Dr. Ho Tran Ngoc Oanh, dari Fakultas Sastra dan Komunikasi, Universitas Pendidikan (Universitas Da Nang ), percaya bahwa latihan kemampuan berbahasa Vietnam perlu dilakukan secara teratur dan sistematis, tidak hanya dalam mata kuliah Sastra tetapi juga dalam modul lainnya. Mahasiswa harus didorong untuk membaca buku, menulis, berdiskusi, dan berdebat dalam bahasa Vietnam secara serius, sehingga membentuk kebiasaan menggunakan bahasa yang beragam, terstandarisasi, kaya secara akademis, dan tetap dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pilih pendekatan yang tepat .
Dari analisis di atas, dapat dilihat bahwa masalahnya bukan terletak pada belajar bahasa asing terlalu dini atau terlalu lambat, tetapi pada model dan filosofi pendidikan bahasa yang dipilih. Di banyak keluarga muda saat ini, bahasa Inggris dipandang sebagai jaminan masa depan, sementara bahasa Vietnam dianggap sebagai sesuatu yang akan berkembang secara alami tanpa investasi. Cara berpikir ini, menurut para pendidik, memiliki banyak konsekuensi negatif jangka panjang.
Seorang guru prasekolah di lingkungan Hai Chau berbagi bahwa banyak orang tua meminta sekolah untuk berkomunikasi dengan anak-anak mereka sepenuhnya dalam bahasa Inggris, bahkan dalam kegiatan sehari-hari. Beberapa anak berbicara bahasa Inggris dengan cukup lancar, tetapi ketika mereka perlu mengungkapkan emosi mereka dalam bahasa Vietnam, mereka kesulitan, kosakata mereka terbatas, dan mereka kesulitan menceritakan sebuah cerita secara lengkap. Menurutnya, jika bahasa Vietnam tidak dibina dengan baik sejak usia dini, anak-anak akan kekurangan dasar untuk perkembangan pemikiran dan emosi mereka secara komprehensif.
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa bahasa ibu adalah bahasa pertama yang digunakan manusia untuk berpikir. Ketika fondasi ini lemah, pembelajaran bahasa asing mudah jatuh ke dalam hafalan dan imitasi, tanpa kedalaman. Menurut Dr. Ho Tran Ngoc Oanh, anak-anak benar-benar dapat belajar bilingual secara efektif jika bahasa Vietnam memainkan peran sentral dalam komunikasi. Dan, bahasa asing harus dilihat sebagai alat untuk memperluas pengetahuan, bukan sebagai pengganti bahasa ibu.
Dari perspektif linguistik, bahasa ibu bukan hanya sarana komunikasi awal, tetapi juga fondasi bagi pembentukan pemikiran abstrak, kemampuan penalaran, dan emosi sosial. Ketika anak-anak kekurangan kosakata bahasa Vietnam yang cukup untuk menyebutkan emosi, mengungkapkan pikiran, atau menceritakan pengalaman, transisi ke pembelajaran bahasa asing dengan mudah menjadi proses "menyebutkan konsep dalam bahasa lain" yang tidak sepenuhnya mereka pahami. Akibatnya, anak-anak mungkin banyak berbicara dalam bahasa asing, tetapi pemahaman mereka tidak mendalam, dan kemampuan berpikir kritis serta ekspresi pribadi mereka terbatas.
Sementara itu, studi di beberapa sekolah bilingual menunjukkan bahwa siswa dengan dasar bahasa Vietnam yang kuat cenderung mempelajari bahasa asing dengan cepat. Selain mempelajari kosakata dan struktur kalimat, mereka tahu cara membandingkan, menghubungkan, dan mentransfer ide antara kedua bahasa tersebut. Sebaliknya, mereka yang memiliki kemampuan bahasa ibu yang lemah sering kesulitan dalam menulis esai dan menyampaikan pendapat, meskipun kemampuan komunikasi bahasa Inggris mereka tidak kalah baik.
Ibu Vo Thi Thuy Ngan, seorang guru di Singapore International School di Da Nang, menyatakan bahwa mempertahankan peran sentral bahasa Vietnam merupakan faktor penentu dalam kualitas pendidikan bilingual. Menurutnya, bilingualisme bukanlah tentang menjadi "setengah Vietnam, setengah Inggris," melainkan dua sistem bahasa paralel, dengan bahasa ibu memainkan peran mendasar dalam berpikir. Dari perspektif orang dalam, Ibu Ngan percaya bahwa orang tua perlu menyesuaikan harapan mereka ketika mendaftarkan anak-anak mereka ke kelas bahasa asing sejak dini. Meskipun anak-anak mungkin menjadi mahir berbahasa Inggris sejak usia sangat dini, pertanyaan yang lebih penting adalah apakah mereka dapat dengan mudah menceritakan sebuah kisah dengan penuh emosi dalam bahasa Vietnam.
Sumber: https://baodanang.vn/tieng-viet-trong-moi-truong-hoi-nhap-3320535.html








