
Dalam konteks digitalisasi yang pesat, aktivitas penipuan transnasional muncul sebagai salah satu ancaman paling serius bagi keamanan ekonomi dan sosial banyak negara. Kejahatan siber kini tidak lagi terbatas pada tipu daya penipuan daring konvensional, tetapi telah meluas skalanya. Pada saat yang sama, kejahatan siber memiliki metode canggih yang saling terkait erat dalam model "sindikat kriminal" dan memanfaatkan celah hukum antarnegara untuk beroperasi.
Pada Sidang Umum Interpol ke-93, delegasi dari lebih dari 190 negara anggota berbagi angka yang mengkhawatirkan tentang kerusakan yang disebabkan oleh penipuan, yang diperkirakan mencapai triliunan dolar setiap tahun.
Laporan menunjukkan bahwa banyak organisasi kriminal memanfaatkan perkembangan teknologi digital dan konektivitas global untuk melakukan penipuan canggih, mulai dari menyamar sebagai otoritas, penipuan investasi keuangan, hingga serangan phishing melalui media sosial dan pesan teks. Sifat lintas batas mereka menyulitkan negara-negara untuk menanganinya secara sepihak.
Interpol telah memperingatkan secara khusus tentang ancaman yang ditimbulkan oleh pusat-pusat penipuan transnasional. Mereka adalah jaringan kejahatan terorganisir yang berspesialisasi dalam melakukan penipuan daring untuk mengambil alih aset menggunakan teknologi tinggi atau memanipulasi mata uang virtual. Perlu dicatat, banyak korban juga ditipu untuk pindah ke negara lain dengan kedok "pekerjaan bergaji tinggi", dan kemudian dipaksa untuk terlibat langsung dalam kegiatan penipuan.
Menurut Interpol, pusat-pusat ini meluas ke berbagai wilayah di dunia , mulai dari Asia Tenggara hingga Afrika, Amerika Tengah, dan Timur Tengah. Korban penipuan telah tercatat di 66 negara, mencerminkan skala dan kompleksitas global dari jenis kejahatan ini.
Dalam operasi komprehensif terbarunya, Interpol, bekerja sama dengan pihak berwenang di 18 negara Afrika, menangkap 1.209 pelaku kejahatan siber yang menyasar hampir 88.000 korban. Operasi tersebut menghasilkan pemulihan dana sebesar $97,4 juta dan penghancuran 11.432 infrastruktur berbahaya. Angka ini menyoroti kebutuhan mendesak akan kerja sama lintas batas untuk memutus jaringan penipuan yang berkembang pesat.
Kompleksitas kejahatan berteknologi tinggi menimbulkan tantangan besar bagi lembaga penegak hukum. Perbedaan hukum antarnegara, pembatasan ekstradisi, dan koordinasi investigasi lintas batas menyulitkan penangkapan dan penanganan pelaku kejahatan. Sementara itu, para pelaku kejahatan terus berinovasi, memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi spoofing wajah penelepon untuk melakukan penipuan canggih berskala besar. Tanpa langkah-langkah yang kuat, kejahatan siber akan terus merajalela, menjadi "pandemi kejahatan" yang mengancam setiap negara.
Pada forum ini, Interpol mengumumkan serangkaian inisiatif untuk mewujudkan tujuan strategis. Di antaranya, peningkatan pembagian basis data global terkait situs web palsu dan identitas pelaku kejahatan siber ditetapkan sebagai prioritas utama. Selain itu, kampanye pemberantasan kejahatan regional dan global yang terkoordinasi perlu ditingkatkan, dengan menyasar "titik rawan" dan jaringan kejahatan terorganisir, yang sejalan dengan pelacakan, pembekuan aset ilegal, dan pemotongan keuntungan dari jaringan penipuan.
Selain itu, negara-negara juga harus fokus pada penetapan prosedur darurat untuk mencari, menyelamatkan, dan memulangkan korban; mengoordinasikan kampanye kesadaran global...
Dalam konteks kejahatan berbasis teknologi yang semakin canggih, Interpol juga merekomendasikan agar negara-negara berinvestasi lebih besar dalam kemampuan analisis data, koordinasi antarlembaga, dan pelatihan khusus untuk pasukan penegak hukum.
Sekretaris Jenderal Interpol, Valdecy Urquiza, menekankan: "Tidak ada negara yang dapat berdiri di luar perang ini. Melalui Interpol, negara-negara dapat membangun benteng yang kokoh. Di sana, semua polisi dari negara-negara anggota dapat mengakses informasi dan saling mendukung dengan cepat dan efektif."
Sumber: https://hanoimoi.vn/toi-pham-lua-dao-xuyen-bien-gioi-moi-nguy-cua-toan-cau-trong-thoi-dai-so-725187.html






Komentar (0)