Musim ke-4 "Top Chef Vietnam" menyatukan koki profesional Vietnam dari berbagai daerah di seluruh negeri, koki Vietnam yang bekerja di luar negeri, dan koki internasional yang tinggal dan bekerja di Vietnam. Hal ini menawarkan perspektif baru dan perpaduan antara masakan Vietnam dan tren kuliner global.
Sebanyak 38 koki mengikuti proses seleksi, bersaing untuk mendapatkan tempat di 14 besar babak final. Panel juri terdiri dari Bapak Sakal Phoeung, Presiden Asosiasi Escoffier Vietnam; Ibu Kim Oanh, pendiri jaringan restoran Wrap&Roll dan restoran One River; Valentin Tran, Direktur Jenderal ANDROS Vietnam... Kriteria penilaian juga didefinisikan dengan jelas, mengharuskan para koki untuk menunjukkan teknik, presentasi, kreativitas, dan identitas Vietnam.
Pada babak seleksi, para koki memiliki waktu 60 menit untuk menyiapkan hidangan yang dapat mewakili Vietnam di panggung dunia . Kompetisi ini mendorong penggunaan bahan-bahan asli Vietnam dan penerapan pengalaman kuliner untuk menampilkan esensi masakan Vietnam kepada masyarakat internasional.
"Top Chef Vietnam" juga memikat karena cerita yang diusungnya. Ini bukan hanya kompetisi antar koki profesional, tetapi juga perjalanan pengembangan diri. Acara ini menggabungkan prinsip dan standar profesional dengan kebutuhan akan kreativitas untuk mengekspresikan individualitas. Para koki harus menunjukkan kemampuan dan adaptasi mereka terhadap tantangan sulit dan situasi tak terduga. Banyak situasi akan muncul selama proses memasak, mulai dari menangani bahan-bahan hingga menggunakan peralatan dapur dan menyajikan hidangan. Setiap koki harus menghadapi dan mengatasi tantangan ini untuk memenuhi batas waktu, menyajikan, dan memperkenalkan hidangan mereka kepada para juri.
Daya tarik "Top Chef Vietnam" musim ke-4 terletak pada penekanannya pada kreativitas menggunakan bahan-bahan khas Vietnam, dengan setiap hidangan menceritakan kisah uniknya. Ambil contoh, kisah "Sup Asam Ibu" karya koki Tran Nguyen Thuan Thanh. Koki Thuan Thanh mempertahankan keseimbangan asli rasa asam, asin, dan manis dengan berbagai lapisan rasa melalui teknik memasak yang disempurnakan dan presentasi yang mengesankan, yang pada akhirnya memenangkan hati bahkan para juri yang paling kritis sekalipun.
Sementara itu, kepiting tumis dengan asam jawa dan santan karya koki Camilla Bailey mengejutkan para juri dan penonton dengan pemahamannya tentang bahan-bahan masakan Vietnam dan penerapannya yang fleksibel dalam memasak. Menurut koki Camilla Bailey, hidangan ini merupakan penghormatan kepada seorang teman Vietnam yang sering membantunya mengidentifikasi sayuran dari kebun dan sering mengirimkan bahan-bahan tersebut agar ia dapat belajar dan memasak masakan Vietnam.
Pengetahuan Chef Camilla Bailey tentang sayuran kebun dan penggunaannya yang kreatif mengejutkan banyak juri, seperti penggunaan daun lemon balm untuk menambahkan rasa asam dan sedikit pedas pada hidangan, atau purslane untuk rasa yang renyah dan menyegarkan. Yang menarik, Chef Camilla Bailey juga berbicara tentang khasiat obat dari bahan-bahan ini dan "rahasianya" dalam menggunakannya untuk menyeimbangkan cita rasa.
“Top Chef Vietnam” bukan sekadar program hiburan biasa; program ini juga memberikan pengetahuan bermanfaat kepada pemirsa tentang bahan-bahan lokal, mengajarkan teknik dan resep memasak baru, serta menawarkan cara yang lebih kreatif dan modern untuk menyajikan hidangan. Dalam program ini, setiap koki berperan sebagai duta budaya kuliner Vietnam, menawarkan beragam perspektif dan pendekatan untuk menceritakan kisah masakan Vietnam dengan cara unik mereka sendiri, memadukan tradisi dengan modernitas.
BAO LAM
Sumber: https://baocantho.com.vn/-top-chef-vietnam-lan-toa-am-thuc-viet-a208720.html










