Tekanan menjadi "siswa berprestasi"
Profesor Madya Dr. Ngo Anh Vinh – Kepala Departemen Remaja - Pusat Kedokteran Perkembangan dan Kesehatan Mental, Rumah Sakit Anak Nasional, mengatakan bahwa dua kasus yang disebutkan di atas hanyalah sebagian kecil dari pasien anak yang saat ini sedang diperiksa dan dirawat di departemen tersebut. Setiap hari, departemen tersebut menerima lebih dari 50 anak untuk pemeriksaan, sebagian besar berusia 10 hingga 15 tahun. Ini adalah tahap remaja dengan perubahan psikologis dan fisiologis yang signifikan, membuat mereka sangat rentan terhadap gangguan emosional.
Menurut Profesor Madya Dr. Ngo Anh Vinh, tekanan akademis saat ini tidak hanya berasal dari pengetahuan buku teks atau ujian, tetapi juga dari keinginan untuk sukses yang dirasakan oleh siswa dan orang tua. Dalam lingkungan yang kompetitif, banyak siswa bertujuan untuk mendapatkan nilai tinggi, menjadi yang terbaik di kelas mereka, atau masuk ke sekolah khusus, yang dengan mudah menyebabkan kecemasan dan stres ketika hasil tidak sesuai harapan. Lebih jauh lagi, harapan keluarga terkadang tanpa disengaja menambah beban psikologis pada anak-anak.
"Banyak anak yang datang untuk ujian cenderung berusaha mempertahankan citra sebagai 'siswa yang baik.' Ketika mereka tidak memenuhi harapan, mereka mudah mengalami stres berkepanjangan, kecemasan, atau depresi," tambah Profesor Madya Dr. Ngo Anh Vinh.

Tekanan ujian dapat menyebabkan gangguan kecemasan dan depresi pada siswa.
Gejala kecemasan pada anak dan remaja
Kecemasan adalah masalah kesehatan mental yang umum terjadi pada anak-anak dan remaja. Kecemasan memengaruhi kesejahteraan fisik dan mental, bukan hanya perasaan. Anak-anak mungkin sering merasa stres, gelisah, mudah tersinggung, dan terlalu khawatir tentang situasi yang akan mereka hadapi atau yang jarang terjadi. Hal ini dapat menyebabkan kesusahan dan mengganggu pekerjaan sekolah, pertemanan, hobi, dan aktivitas kehidupan lainnya.
Ketika cemas, remaja mungkin menjadi pemalu dan menarik diri. Mereka cenderung menghindari aktivitas biasa atau menolak untuk berpartisipasi dalam pengalaman baru. Sebaliknya, dalam beberapa kasus, untuk mengurangi atau menyangkal kecemasan mereka, mereka mungkin terlibat dalam perilaku berisiko, mencoba sensasi baru seperti penggunaan narkoba, atau terlibat dalam perilaku seksual impulsif.
Manifestasi gangguan kecemasan pada remaja dapat meliputi:
- Merasa terus-menerus gelisah, stres, atau resah;
- Sensitif terhadap kritik atau sangat tidak percaya diri;
- Selalu mengkhawatirkan hal-hal yang kemungkinan besar tidak akan terjadi;
- Hindari situasi baru atau canggung;
- Kesulitan berkonsentrasi dan belajar di sekolah;
- Kesulitan tidur, terbangun tiba-tiba saat tidur, mengalami mimpi buruk;
- Ubahlah kebiasaan makan Anda;
- Ukuran benda tampak berubah, kadang membesar, kadang mengecil, secara tidak menentu.
Anak-anak juga mungkin mengalami gejala fisik seperti:
- Jantung berdebar-debar;
- Merasa pusing;
- Berjabat tangan dan kaki;
- Berkeringat deras;
- Orang itu terhuyung-huyung;
- Sesak napas;
- Merasa tidak nyaman di area perut;
- Mengalami nyeri pada bagian tubuh tertentu (umumnya nyeri perut, sakit kepala, nyeri dada, dll.).
Apa yang harus dilakukan orang tua?
Orang tua perlu mendukung anak-anak mereka untuk membantu mereka mengurangi stres selama musim ujian.
Anak-anak usia sekolah, terutama mereka yang berada di tahun terakhir sekolah menengah atas, sering menghadapi tekanan yang signifikan. Oleh karena itu, orang tua perlu memahami kemampuan dan kekuatan anak-anak mereka untuk membimbing tujuan mereka, memilih sekolah yang sesuai, dan mendengarkan pikiran dan aspirasi mereka untuk mendukung, mendorong, dan membantu mereka mengurangi stres selama masa studi mereka.
Selain itu, orang tua perlu memastikan anak-anak memiliki pola makan yang tepat, cukup tidur, dan melakukan olahraga teratur untuk meningkatkan kesehatan mental mereka, sehingga membantu mereka menghadapi ujian dengan percaya diri dan menerima nilai yang tidak setinggi yang diharapkan dengan tenang.
Perlu diingat bahwa gangguan kecemasan umumnya dimulai pada masa remaja. Gejala kecemasan pada anak kecil tidak seumum pada orang dewasa dan mudah terabaikan. Terkadang, kecemasan pada anak kecil bermanifestasi sebagai gejala nyeri yang terus-menerus seperti sakit kepala, sakit perut, nyeri dada, dan lain-lain. Oleh karena itu, jika anak Anda memiliki gejala kecemasan, bawalah mereka ke fasilitas medis khusus untuk pemeriksaan dan intervensi tepat waktu.
Mengenai depresi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasinya sebagai salah satu penyebab utama beban penyakit dan gangguan fungsi pada anak-anak berusia 10–19 tahun. Di Vietnam, meskipun statistik nasional yang lengkap belum tersedia, banyak penelitian terbaru menunjukkan bahwa prevalensi depresi di kalangan siswa sekolah menengah berkisar antara 13% hingga 30%, dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan mental di sekolah menjadi masalah yang membutuhkan perhatian khusus.
Sumber: https://suckhoedoisong.vn/tre-de-mac-lo-au-tram-cam-vi-ap-luc-thi-cu-cha-me-can-lam-gi-169260531173236691.htm








Komentar (0)