Gelombang ini membuka pasar baru dan menjanjikan untuk studi di luar negeri di negara Asia ini.
Bagi banyak mahasiswa India, belajar di luar negeri telah lama menjadi gerbang menuju peluang karier global. Namun, dengan meningkatnya biaya kuliah dan persyaratan visa yang lebih ketat dari berbagai negara, mimpi itu menjadi semakin sulit dicapai daripada sebelumnya.
Sakshi Talreja adalah contoh utamanya. Pada tahun 2024, ia mendapat kesempatan untuk belajar di dua universitas di Australia tetapi terpaksa melepaskannya karena kendala keuangan. Titik balik datang secara tak terduga ketika Universitas Deakin di Australia membuka kampus di Gujarat, India.
Deakin adalah salah satu dari setidaknya 14 sekolah internasional yang telah mendirikan atau berencana mendirikan kampus di India. Daya tarik India terletak pada populasi mahasiswanya yang besar, banyaknya tenaga pengajar, dan perekonomian yang berkembang pesat, sehingga menciptakan kebutuhan mendesak akan sumber daya manusia yang sangat terampil.
Pemerintah India juga secara aktif mengundang universitas-universitas yang masuk dalam peringkat 500 universitas terbaik dunia untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi dan memperluas akses ke kurikulum global bagi mahasiswa domestik.
Tren ini muncul pada saat jumlah mahasiswa India yang belajar di luar negeri mengalami penurunan signifikan. Pada tahun 2024, jumlah ini turun sekitar 15%, dari hampir 900.000 menjadi sekitar 760.000, karena meningkatnya biaya hidup, depresiasi rupee, dan pembatasan izin tinggal jangka panjang di banyak negara.
Keberadaan sekolah internasional di India memberi siswa pilihan baru sekaligus memungkinkan sekolah asing untuk terus menghasilkan pendapatan dari siswa India, yang menyumbang sebagian besar pendapatan global mereka.
Tren ini juga diperkirakan akan menarik mahasiswa Asia khususnya, dan mahasiswa internasional pada umumnya, untuk memilih India sebagai tujuan studi. Hal ini akan berkontribusi menjadikan India sebagai pasar studi luar negeri yang baru dan menjanjikan di dunia .
Namun, tidak dapat disangkal bahwa biaya kuliah di lembaga internasional jauh lebih tinggi daripada rata-rata domestik. Misalnya, program pascasarjana dua tahun di kampus Deakin di Gujarat menelan biaya sekitar 1,85 juta rupee, hampir 10 kali lipat biaya kuliah di banyak universitas swasta di India. Meskipun demikian, ini masih hanya setengah dari biaya studi di Australia, sementara biaya hidup juga jauh lebih rendah.
Dr. Deepak Bajaj, Direktur Akademik cabang Deakin di India, mengatakan: "Para siswa akan tetap menerima standar dan kualifikasi pendidikan yang sama seperti di Australia tanpa menghadapi beban keuangan yang berlebihan."
Kekhawatiran lain adalah risiko "pengurasan otak" di sekolah-sekolah negeri, karena lembaga-lembaga internasional memiliki sumber daya keuangan yang lebih kuat. Namun, lembaga pendidikan internasional sering menarik para profesional yang kembali, dosen muda, dan pakar industri yang mencari peluang mengajar, sehingga menciptakan talenta baru daripada mengurangi sumber daya yang ada.
Terlepas dari ekspektasi yang tinggi, keberhasilan model ini masih membutuhkan waktu untuk dibuktikan. Beberapa ahli menekankan bahwa "merek internasional" tidak selalu berarti kualitas yang sama dengan perusahaan aslinya.
Selain itu, lembaga pendidikan di luar negeri tidak dapat sepenuhnya menawarkan manfaat dari pengalaman global. Oleh karena itu, siswa yang ingin menetap di luar negeri cenderung tidak akan dibujuk untuk tetap tinggal di India kecuali sekolah internasional memperluas program magang, pertukaran pelajar, dan praktik profesional mereka di luar negeri.
Nistha Tripathi, Direktur 24NorthStar Study Abroad Consulting Company, memperingatkan: “Hal terpenting adalah memastikan ketelitian program dan kualitas fasilitas. Jika kita tidak dapat menciptakan lingkungan belajar internasional, nilai gelar tersebut akan menurun.”
Sumber: https://giaoducthoidai.vn/truong-quoc-te-o-at-mo-co-so-tai-an-do-post758216.html







Komentar (0)