Vietnam.vn - Nền tảng quảng bá Việt Nam

Belajar mandiri untuk menghindari tertinggal.

Dari perjalanan beratnya mencari cara untuk menyelamatkan negara hingga tahun-tahun kepemimpinannya dalam revolusi, Presiden Ho Chi Minh selalu menganggap belajar sebagai upaya seumur hidup. Ia menekankan pentingnya belajar bukan hanya dari buku, tetapi juga dari pengalaman praktis, dari masyarakat, dan dari pekerjaan sehari-hari.

Báo Tin TứcBáo Tin Tức18/05/2026

Keterangan foto
Presiden Ho Chi Minh mengunjungi kelas pengayaan budaya dan teknik malam hari untuk para pekerja Pabrik Mobil "1-5", pabrik terkemuka dalam gerakan pengayaan budaya industri Hanoi (19 Desember 1963). Foto: Arsip VNA.

Dalam konteks teknologi digital dan kecerdasan buatan yang secara dramatis mengubah cara orang mengakses pengetahuan saat ini, banyak peneliti percaya bahwa gagasan ini tetap sangat relevan, terutama bagi generasi muda dan kaum intelektual.

Belajarlah dalam hidup, belajarlah dari praktik.

Menurut Profesor Madya Dr. Ha Minh Hong, Wakil Presiden Asosiasi Ilmu Sejarah Vietnam, semangat belajar mandiri Presiden Ho Chi Minh terbentuk sejak usia sangat muda, pada masa ketika negara masih berada di bawah penjajahan dan kesempatan pendidikan bagi sebagian besar orang sangat terbatas. Dalam biografi yang ia tulis sendiri pada tahun 1935, Nguyen Ai Quoc mencatat tingkat pendidikannya sebagai "otodidak". Detail singkat ini menunjukkan bahwa pembelajarannya tidak terbatas pada sekolah tetapi berlangsung sepanjang pekerjaannya, kegiatan revolusionernya, dan pengalamannya dalam situasi kehidupan nyata.

Menurut Profesor Madya, Dr. Ha Minh Hong, di bawah rezim kolonial, kebijakan penjajah untuk menjaga rakyat tetap bodoh membuat pendidikan menjadi sulit bagi rakyat Vietnam. Dalam konteks itu, banyak yang harus mendidik diri sendiri untuk memperluas pengetahuan mereka. Presiden Ho Chi Minh mempelajari aksara Tionghoa sejak usia muda bersama ayahnya, Nguyen Sinh Sac, dan kemudian melanjutkan studinya dengan para cendekiawan patriotik seperti Hoang Phan Quynh, Vuong Thuc Quy, dan Tran Than. Meskipun ia menekankan belajar mandiri, ia selalu menghargai peran guru dan pembelajaran prinsip-prinsip moral. Kemudian, ia belajar di sekolah-sekolah Prancis-Vietnam di Vinh, Dong Ba, dan Quy Nhon. Namun, kekhawatiran yang dimilikinya tentang nasib bangsa dan jalan menuju keselamatan nasional tidak dapat ditemukan dalam sistem pendidikan kolonial pada waktu itu. Slogan "Kebebasan - Kesetaraan - Persaudaraan" yang terpampang di ruang kelas semakin memotivasinya untuk mencari jawaban melalui pengalaman praktis dan pendidikan mandirinya sendiri.

Profesor Madya, Dr. Ha Minh Hong percaya bahwa perjalanan dari Dermaga Nha Rong pada tahun 1911 juga merupakan perjalanan pembelajaran yang istimewa bagi Nguyen Tat Thanh muda. Ke mana pun ia pergi, ia mengamati kehidupan sosial, mempelajari situasi politik, budaya, dan kehidupan kaum pekerja di banyak negara. Selama berada di luar negeri, Nguyen Ai Quoc bekerja untuk mencari nafkah sambil juga memanfaatkan kesempatan untuk mengunjungi perpustakaan, menghadiri seminar dan demonstrasi untuk mempelajari isu-isu kolonial, gerakan buruh, dan ide-ide progresif pada era tersebut. Ciri khas yang menonjol dari filosofi pembelajaran Presiden Ho Chi Minh adalah belajar dari praktik dan dari rakyat. Belajar bukan hanya untuk mengumpulkan pengetahuan tetapi juga untuk memecahkan masalah yang muncul dari praktik revolusioner dan untuk mengabdi kepada negara.

Dalam berbagai tulisan dan pidatonya, Presiden Ho Chi Minh berulang kali menekankan peran belajar mandiri. Pada tahun 1947, dalam karyanya "Memperbaiki Metode Kerja," beliau menyarankan agar "belajar mandiri harus menjadi inti." Pada tahun 1949, dalam pidatonya di Konferensi Kader Partai, beliau meminta agar para kader dibantu untuk belajar secara mandiri. Pada Konferensi Nasional Pertama tentang Pelatihan dan Pembelajaran pada tahun 1950, beliau terus mengingatkan para kader bahwa mereka harus tahu bagaimana belajar atas inisiatif sendiri, bukan menunggu guru untuk belajar.

Presiden Ho Chi Minh selalu menganggap belajar sebagai upaya seumur hidup. Pada tahun 1959, saat berbicara kepada para guru dan mahasiswa di Universitas Patgiagiaran di Indonesia, beliau menyatakan bahwa meskipun beliau tidak memiliki kesempatan untuk belajar ketika masih muda, beliau telah belajar dari masyarakat dan dari kehidupan untuk mencintai negaranya, mencintai rakyatnya, dan membenci penindasan dan ketidakadilan. Selama kunjungan keduanya ke kampung halamannya pada tahun 1961, saat berbicara kepada para kader dan anggota Partai di Nghe An, Presiden Ho Chi Minh terus menekankan perlunya pembelajaran terus-menerus untuk mengikuti perkembangan pekerjaan. Beliau mengatakan bahwa meskipun usianya sudah lebih dari 70 tahun, beliau harus belajar setiap hari karena pekerjaan terus berubah, dan jika beliau tidak belajar, beliau akan tertinggal.

Keterangan foto
Profesor Madya, Dr. Ha Minh Hong, Wakil Presiden Asosiasi Ilmu Sejarah Vietnam.

Profesor Madya, Dr. Ha Minh Hong menegaskan bahwa gagasan ini tetap valid dalam konteks saat ini. Teknologi digital dan kecerdasan buatan dengan cepat mengubah cara orang mengakses informasi, tetapi yang terpenting tetaplah kemampuan belajar mandiri dan berpikir independen setiap individu. Kecerdasan buatan hanyalah alat yang diciptakan manusia untuk melayani manusia; ia tidak dapat menggantikan manusia. Oleh karena itu, pembelajaran saat ini harus menekankan pembelajaran yang dikombinasikan dengan belajar mandiri, belajar memahami esensi masalah, dan belajar bekerja secara efektif. Bersamaan dengan itu adalah menumbuhkan ketekunan dan kemampuan untuk mengatur diri sendiri terhadap godaan dan ketergantungan pada teknologi.

Presiden Ho Chi Minh pernah berpesan kepada kaum muda dan pelajar bahwa tugas utama mereka adalah belajar agar menjadi pemimpin masa depan negara. Beliau juga mengingatkan mereka bahwa mempelajari hal-hal baik selalu sulit, membutuhkan ketekunan dan tekad. Ini juga merupakan sesuatu yang perlu dipertahankan oleh generasi muda saat ini di tengah masyarakat yang berubah dengan cepat dan semakin banyaknya informasi.

Bacalah dengan saksama untuk mempertahankan kemampuan berpikir kritis.

Ibu Nguyen Thi Hong Hanh, Wakil Direktur Institut Informasi (Akademi Ilmu Sosial Vietnam), percaya bahwa pemikiran Ho Chi Minh menunjukkan bahwa membaca dan belajar mandiri bukan hanya cara untuk memperoleh pengetahuan tetapi juga jalan untuk membentuk pemikiran, kepribadian, dan kemampuan setiap individu. Presiden Ho Chi Minh selalu menganggap belajar sebagai proses tanpa batas. Beliau pernah menyarankan untuk belajar di sekolah, dari buku, dari sesama, dan dari orang lain. Ini menunjukkan bahwa membaca adalah fondasi penting untuk pembelajaran mandiri seumur hidup.

Menurut pemegang gelar Magister Nguyen Thi Hong Hanh, aspek penting dari gaya membaca Presiden Ho Chi Minh bukanlah membaca secara ekstensif, melainkan membaca secara selektif, merenungkannya, dan membandingkannya dengan kenyataan. Pengetahuan yang diperoleh harus diubah menjadi tindakan dan digunakan dalam pekerjaan praktis. Hal ini sangat diperlukan bagi para intelektual dan peneliti masa kini. Dalam konteks jumlah informasi yang terus meningkat, masalahnya bukan lagi kekurangan buku atau informasi, tetapi kemampuan untuk memproses, memilih, dan menguasai pengetahuan. Membaca seharusnya untuk pemahaman mendalam, pemikiran kritis, dan membentuk perspektif sendiri, bukan hanya untuk menerima informasi.

Saat ini, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan secara dramatis mengubah cara orang mengakses pengetahuan. Banyak orang terbiasa membaca sekilas, membaca teks pendek, atau mengandalkan ringkasan di platform digital. Meskipun hal ini memungkinkan akses informasi yang lebih cepat, hal ini juga dapat dengan mudah mengurangi kemampuan untuk membaca secara mendalam dan berpikir mandiri. Bagi para peneliti, membaca secara mendalam sangat penting untuk mengembangkan kemampuan penelitian yang mendalam dan menjadi ahli di bidangnya. Membaca bukan hanya tentang mengetahui informasi, tetapi tentang memahami esensi masalah, struktur argumen, serta kekuatan dan kelemahan dari setiap sudut pandang penelitian.

Menurut pemegang gelar Magister Nguyen Thi Hong Hanh, ketergantungan yang berlebihan pada alat bantu atau ringkasan siap pakai secara bertahap akan mengurangi kemampuan seseorang untuk membaca, menganalisis, dan mengevaluasi masalah secara mandiri. Meskipun jumlah informasi yang diterima mungkin meningkat, kedalaman pemikiran akan menyempit. Ini adalah masalah yang perlu diakui secara jelas dalam lingkungan penelitian dan pelatihan saat ini. Untuk membangun budaya membaca yang sejati, membaca dan belajar mandiri harus dianggap sebagai persyaratan profesional di lembaga penelitian, bukan hanya sekadar dipromosikan atau didorong. Membaca harus dikaitkan dengan kualitas pekerjaan dan produk ilmiah tertentu.

Keterangan foto
Orang-orang merasakan pengalaman membaca buku digital. Foto: Khanh Hoa/TTXVN

Lebih lanjut, lembaga penelitian perlu mengembangkan model perpustakaan terbuka, menggabungkan ruang baca, penelitian, dan pertukaran akademis untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi para ilmuwan. Dalam konteks transformasi digital, kombinasi sumber daya digital dan tradisional diperlukan agar para peneliti dapat terus menerus dan menyeluruh mengakses materi yang dibutuhkan. Di sekolah, fokus harus bergeser dari sekadar mewajibkan membaca menjadi fokus pada keterampilan membaca. Peserta didik harus mampu mengajukan pertanyaan, menganalisis, dan merumuskan kembali isu-isu menggunakan pemikiran mereka sendiri. Ketika membaca menjadi alat untuk berpikir kritis, peserta didik dapat mengembangkan kebiasaan belajar mandiri yang berkelanjutan. Bagi masyarakat, peran sistem perpustakaan sebagai lembaga budaya dan pendidikan yang melayani pembelajaran sepanjang hayat harus dipromosikan. Di era digital, membangun jaringan perpustakaan elektronik yang saling terhubung akan membantu masyarakat mengakses pengetahuan otentik dengan lebih mudah.

Ibu Nguyen Thi Hong Hanh, M.A., berpendapat bahwa budaya membaca tidak terbentuk dari slogan-slogan, melainkan dari kebiasaan, disiplin pribadi, dan lingkungan yang mendorong pembelajaran. Semangat belajar sepanjang hayat yang dicontohkan oleh Presiden Ho Chi Minh tetap menjadi sesuatu yang perlu dipertahankan oleh para kader, intelektual, dan generasi muda saat ini.

Sumber: https://baotintuc.vn/giao-duc/tu-hoc-de-khong-bi-tut-lai-phia-sau-20260518172252875.htm


Komentar (0)

Silakan tinggalkan komentar untuk berbagi perasaan Anda!

Dalam topik yang sama

Dalam kategori yang sama

Dari penulis yang sama

Warisan

Angka

Bisnis

Berita Terkini

Sistem Politik

Lokal

Produk

Happy Vietnam
Tanah air, tempat yang damai

Tanah air, tempat yang damai

JALAN BUNGA MUSIM SEMI

JALAN BUNGA MUSIM SEMI

Momen masa kecil

Momen masa kecil