Meskipun ada peraturan yang memberlakukan sanksi administratif untuk memposting dan membagikan informasi palsu, salah, atau menyimpang di media sosial; dan bahkan Keputusan Kementerian Informasi dan Komunikasi sebelumnya Nomor 874/QD-BTTTT tanggal 17 Juni 2021, yang mengumumkan Kode Etik di Media Sosial, pelanggaran terkait media sosial masih merajalela di provinsi dan kota di seluruh negeri. Baru-baru ini, pada tanggal 26 Mei, Kepolisian Kelurahan Tan Trieu di Kota Dong Nai mengajukan kasus untuk menjatuhkan sanksi administratif kepada Bapak NMH (berdomisili di Kelurahan Tan Trieu) karena memposting informasi palsu di media sosial. Sebelumnya, akun Facebook Bapak NMH telah membagikan banyak artikel dari halaman yang berisi konten reaksioner, mendistorsi kebijakan Partai dan hukum Negara; menghina pemimpin Partai dan Negara; dan secara salah menuduh pemerintah dan Kepolisian Rakyat.
Untuk memperkuat manajemen ruang siber dan mencegah pelanggaran di media sosial, Pemerintah baru-baru ini mengeluarkan Keputusan Nomor 174/2026/ND-CP tentang sanksi administratif untuk pelanggaran di bidang layanan pos, telekomunikasi, frekuensi radio, transaksi elektronik, teknologi informasi, dan kriptografi sipil. Keputusan ini berlaku efektif sejak 1 Juli 2026.
Salah satu poin penting dari dekrit tersebut adalah peningkatan sanksi bagi penyedia dan penyebar informasi palsu yang menyebabkan kepanikan publik. Individu yang melanggar peraturan dapat didenda hingga 50 juta VND, dan juga diwajibkan untuk menghapus konten yang melanggar dan akun mereka akan diblokir. Ini dianggap sebagai langkah tegas untuk mengekang penyebaran berita palsu dan informasi yang tidak terverifikasi secara daring, yang berdampak negatif pada kesadaran sosial, kepercayaan publik, serta ketertiban dan keamanan publik.








Komentar (0)