Masyarakat Thai Hitam di Muong Lo percaya bahwa "rambut adalah landasan penampilan seseorang," tetapi bagi perempuan, rambut juga mengandung jiwa dan martabat mereka. "Tang Cau" pada dasarnya adalah ritual mengikat rambut ke atas kepala bagi gadis-gadis yang akan menikah. Ini adalah aturan yang tidak dapat diubah dalam hukum adat, sebuah pesan diam-diam tetapi dengan kekuatan mengikat yang besar yang dikirimkan kepada masyarakat. Begitu rambut diikat tinggi, wanita tersebut menjadi milik keluarga lain, secara resmi mengakhiri masa lajangnya yang bebas untuk memikul tanggung jawab sebagai istri dan ibu.
Upacara Tằng Cẩu biasanya berlangsung tepat sebelum keluarga mempelai pria tiba untuk menjemput mempelai wanita. Upacara ini tidak terlalu meriah tetapi berlangsung dalam suasana khidmat. Wanita-wanita terhormat dalam keluarga, seringkali nenek atau bibi yang telah memiliki pernikahan bahagia dan banyak anak, akan langsung melakukan ritual ini untuk mempelai wanita. Mereka percaya bahwa keberuntungan dan kebajikan leluhur mereka akan diturunkan kepada anak perempuan melalui setiap helai rambut.

Untuk membuat Tằng cẩu (sejenis sanggul) yang benar, wanita Thailand membutuhkan aksesori khusus seperti: sisir bergigi lebar yang terbuat dari tanduk atau kayu, "tằng cẩu" (seikat rambut yang digunakan untuk membuat sanggul lebih besar dan lebih indah), dan yang terpenting, jepit rambut. Jepit rambut ini tidak hanya menahan rambut di tempatnya tetapi juga merupakan perhiasan berharga, tanda pertunangan, atau hadiah dari calon mertua. Wanita yang melakukan upacara tersebut akan menyisir rambutnya dengan rapi, kemudian dengan terampil menggulung rambut bersama dengan seikat rambut tersebut, membungkusnya menjadi sanggul ketat di atas kepalanya, dan kemudian memasukkan jepit rambut untuk mengamankannya.

Saat rambutnya ditata menjadi sanggul, wanita muda itu seringkali tidak dapat menyembunyikan emosinya. Pada saat inilah ia menyadari sepenuhnya bahwa dirinya telah memasuki usia dewasa. Mulai saat ini, ia bukan lagi gadis muda yang riang, tetapi "penjaga api" bagi sebuah keluarga. Nasihat dari nenek dan ibunya selama masa ini seringkali berkisar pada tugas-tugas seorang menantu perempuan, bagaimana memperlakukan keluarga suaminya, dan kesetiaan yang tak tergoyahkan.

Ibu Dieu Thi Chuc, yang tinggal di kawasan perumahan Sa Ren, kelurahan Trung Tam, mengatakan: "Bagi saya, melakukan ritual 'Tang Cau' secara langsung untuk para mempelai wanita adalah kebahagiaan dan kehormatan yang besar. Setiap kali saya melakukan upacara ini, saya merasa sangat bahagia karena saya mewariskan 'api' kesetiaan dan kebajikan. Saya berharap ritual ini akan diwariskan kepada generasi mendatang."
Nilai dari adat Tằng cẩu juga terletak pada perilaku beradab dalam masyarakat Thailand. Ketika seorang wanita telah menjalani ritual Tằng cẩu, para pria di desa atau orang asing secara naluriah akan menjaga jarak yang penuh hormat. Ini adalah bentuk penghormatan mutlak kepada seorang wanita yang sudah menikah. Sanggul di kepalanya berfungsi seperti "dinding" yang memisahkan niat menggoda dan bercanda, membantu melindungi kebahagiaan keluarga dan melestarikan gaya hidup budaya dalam masyarakat.
Di luar makna pernikahannya, gaya rambut "Tằng cẩu" juga memiliki makna spiritual yang mendalam. Masyarakat Thai Hitam percaya bahwa begitu seorang wanita menikah, jiwanya akan dilaporkan kepada leluhur suaminya. Mengikat rambutnya tinggi-tinggi membantu roh dan leluhur untuk dengan mudah mengenali dan melindunginya. Sebaliknya, jika seorang wanita yang sudah menikah tidak mengenakan "Tằng cẩu," hal itu dianggap sebagai penghinaan terhadap keluarga suaminya, pertanda buruk, dan dia akan diejek dan dicemooh oleh masyarakat.

Bapak Vu Duc Toan, Kepala Dinas Kebudayaan Kelurahan Trung Tam, menyampaikan: "Tang Cau bukan hanya sebuah adat istiadat, tetapi juga 'warisan hidup' yang menegaskan identitas unik masyarakat Thai Hitam. Mempertahankan ritual ini dalam kehidupan modern merupakan bukti vitalitas kuat budaya tradisional. Oleh karena itu, pemerintah daerah selalu mendorong dan menciptakan kondisi bagi mereka yang memahami adat istiadat ini untuk terus mewariskannya kepada generasi muda. Melestarikan Tang Cau berarti melestarikan ikatan yang menghubungkan masyarakat, menjaga standar moral yang baik, dan memperkaya lanskap budaya yang beragam di wilayah Muong Lo."
Ritual Tằng cẩu bukan hanya tradisi yang indah tetapi juga simbol kesetiaan. Wanita hanya melakukan ritual Tằng cẩu ketika suami mereka meninggal. Pada saat itu, mereka akan mengurai rambut mereka untuk berduka. Untuk mengungkapkan kehilangan yang sangat besar dan kasih sayang serta pengabdian yang mendalam kepada pasangan mereka, mereka akan memotong sehelai rambut dan membakarnya bersama suami mereka. Jika mereka menikah lagi di kemudian hari, ritual Tằng cẩu akan dilakukan lagi. Sifat siklus ini menunjukkan pentingnya kesetiaan dan ikatan yang kuat antarmanusia.
Lebih dari sekadar gaya rambut, jepit rambut "Tằng cẩu" melambangkan bakti kepada orang tua, kewajiban seorang menantu perempuan, dan tanggung jawab terhadap garis keturunan keluarga. Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, jepit rambut dan sanggul "Tằng cẩu" tetap menjadi jangkar spiritual, membantu penduduk desa mengingat akar mereka dan melestarikan tradisi keluarga mereka. Oleh karena itu, kebiasaan "Tằng cẩu" akan selamanya menjadi nyala api yang hangat yang menerangi budaya Mường Lò, bukti paling nyata dari vitalitas abadi suatu kelompok etnis yang selalu menghargai dan menghormati perempuan.
Sumber: https://baolaocai.vn/tuc-tang-cau-cua-nguoi-thai-den-muong-lo-post890274.html






Komentar (0)