Ide untuk toko buku ini telah dipupuk sejak kecil, ketika Ngan dan adik perempuannya berkeliling kota menyewa buku. Mimpi "tumbuh dewasa dan membuka toko buku agar bisa membaca sepuasnya" dulunya hanya janji kekanak-kanakan, tetapi seiring waktu mimpi itu terwujud. Pada tahun 2011, rak buku pertama, senilai 5 juta VND, hadiah dari orang tuanya ketika keluarga membangun rumah baru dan membeli perabotan, menandai awal perjalanan Ngan dalam mengumpulkan buku.
Pada tahun 2016, ketika mereka memiliki cukup buku untuk mengisi beberapa rak, kedua saudari itu mulai berpikir untuk menjualnya kembali. Pelanggan diundang ke kamar mereka untuk memilih buku. Kemudian, mereka mulai beriklan di Facebook. Pada awalnya, papan sederhana yang tergantung di depan halaman membuat banyak tetangga tersenyum skeptis. Namun, hanya dalam bulan pertama, pendapatan mencapai 8 juta VND. Seiring bertambahnya pasokan berkat koneksi dari pengumpul barang bekas, perpustakaan lama, atau organisasi yang telah bubar, pendapatan beberapa bulan bahkan melebihi 17 juta VND.
Dalam ingatan Ibu Ngan, penjualan buku pertama adalah pengalaman yang tak terlupakan. Antrean panjang siswa berbondong-bondong memilih buku, menciptakan suasana meriah, dan hampir dua ton buku terjual habis. Sejak saat itu, hubungan antara toko dan para pembacanya menjadi semakin erat. Pada suatu kesempatan, ia bahkan menggunakan dua batang emas dari pernikahannya untuk menambah stok buku, memperluas gudangnya, dan mengakses sumber buku yang lebih berharga.
Membeli buku bukan hanya soal transaksi. Bagi mereka yang menyumbangkan buku, ia mencarikan penerima yang tepat untuk mengembalikannya. Jika sebuah buku sudah tidak layak pakai, ia mempertimbangkan untuk menggunakannya kembali atau mengirimkannya kepada seseorang yang membutuhkannya. Menurutnya, buku-buku lama memiliki nilai tersendiri, tergantung pada pembacanya, bukan pada kondisi kertasnya.
Toko buku itu secara bertahap berkembang, bukan hanya berkat jumlah buku, tetapi juga berkat dukungan dari keluarganya. Karena pernah berbisnis sendiri, ayahnya selalu menekankan semangat kemandirian dan mendukung kedua putrinya baik secara materi maupun pengalaman. Selain buku, Ibu Ngan juga mencoba produk lain: tanaman hias, bahan untuk membuat bunga, dan melukis patung, menciptakan ruang yang beragam dan ramah bagi berbagai macam pelanggan.
Pelanggan yang datang ke toko beragam, mulai dari pelajar hingga ibu rumah tangga, orang tua, dan pekerja kantoran. Buku-buku tentang keterampilan, komik anak-anak, buku referensi, bahasa asing, dan buku teks selalu menjadi mayoritas dari volume pencarian. Di antara buku-buku tersebut, banyak orang sangat tertarik pada buku-buku tentang pengasuhan anak, pendidikan anak usia dini, atau buku-buku yang sudah tidak dicetak ulang lagi.
Ibu Nguyen Thi Huynh Nhu (berdomisili di Kelurahan Binh Khanh, Kota Long Xuyen) mengatakan bahwa ia sering mengunjungi toko tersebut di waktu luangnya untuk mencari buku-buku tentang psikologi anak dan pendidikan keluarga. Ia menghargai kemudahan yang ditawarkan; ia dapat mengirim pesan singkat terlebih dahulu jika diperlukan dan kemudian datang untuk mengambil buku-buku tersebut, sehingga menghemat banyak waktunya.
Pasar buku bekas, khususnya di segmen buku teks, semakin menuntut para penjual untuk fleksibel dan memiliki pemahaman yang mendalam tentang kurikulum di setiap daerah dan sekolah. Menurut Ibu Ngan, setiap daerah mungkin menggunakan seperangkat buku teks yang berbeda. Untuk memenuhi kebutuhan yang tepat, para penjual harus terus memantau tren dan umpan balik dari pelanggan.
Di era digital, toko buku tradisional masih menemukan cara untuk bertahan hidup. Pembeli dapat langsung memeriksa, memegang, dan merasakan setiap buku sebelum memutuskan untuk membawanya pulang. Banyak pelanggan juga menikmati mengobrol dan bertukar informasi dengan penjual, sebuah pengalaman yang tidak tersedia saat berbelanja online. Meskipun demikian, saluran penjualan melalui media sosial, seperti Fanpage, profil Facebook pribadi, atau grup Zalo, masih dipertahankan untuk menjangkau pelanggan yang berada jauh.
Menurut Ibu Ngan, buku-buku lama adalah bagian dari budaya membaca. Buku-buku yang telah diwariskan dari generasi ke generasi, yang telah tersimpan dengan tenang di rak buku keluarga atau di perpustakaan, masih dapat menemukan pembaca baru jika ditempatkan di tempat yang tepat. Meskipun tidak lagi baru, halaman-halaman itu masih mengandung pengetahuan, nilai-nilai budaya, dan emosi dari era di mana buku-buku itu dicetak.
Hari Budaya Buku dan Membaca Vietnam pada tanggal 21 April merupakan kesempatan untuk merenungkan hubungan antara manusia dan buku, terutama dalam konteks teknologi yang semakin mengubah kebiasaan memperoleh pengetahuan. Toko buku kecil, penjual buku bekas, dan pembaca yang masih memilih buku fisik merupakan bagian dari arus budaya yang tenang ini. Membaca bukan hanya tindakan individu, tetapi juga berkontribusi dalam menjaga nilai berkelanjutan di masyarakat: kebiasaan mengakses pengetahuan melalui halaman-halaman buku, yang diwariskan dari generasi ke generasi.
BICH RAKSASA
Sumber: https://baoangiang.com.vn/van-hoa-doc-qua-nhung-trang-sach-cu-a419248.html






Komentar (0)